FRIENDSHIP MOMENTS: PESTA PUNK ROCK DAN PERSAHABATAN DI KARAWANG

Categories: Collaboration

Share
Hi Bvckle’s Fren, Lapangan Kampus Universitas Buana Perjuangan (UBP) pada Minggu, 9 November lalu bukan lagi sekadar tempat berkumpulnya akademisi. Malam itu, telah bertransformasi menjadi sebuah arena bagi para pemberontak, sebuah ruang aman dimana teriakan, keringat dan gelak tawa bersatu dalam lingkup bising yang indah. "Friendship Moments" event yang dihelat oleh Coklat Kita (Coklat Extra) sukses membuktikan bahwa semangat persahabatan paling otentik justru seringkali lahir ditengah gemuruh gitar distorsi dan dentuman drum yang menggila.

Konsep acara yang merayakan pertemanan nan abadi ini langsung terasa sejak awal. Panggung Coklat Kita dihajar habis-habisan oleh para pendekar musik lokal Karawang yang energinya tidak main-main. Mesin Orsel, Prolet, Black Gardens, Minion Ska, dan DPRTY berhasil memanaskan atmosfer dan menyiapkan panggung untuk dua headliners yang sudah ditunggu-tunggu. Menjadi histori musik Karawang yang memiliki talenta hebat dan layak untuk diperhitungkan dikancah musik Nasional. Selain penampilan band lokal,  juga ada Pentas Seni Kampus dan beberapa kegiatan yang bertemakan Friendship Moments seperti friendship flower & friendship race. Terdapat pula stand food & beverage, mural & finger tree, thrifting market dan lelang Extra di sekitar venue Friendship Moments, Coklat Kita di UBP. Pokoknya seru abis deh !!!
 
Tidak butuh waktu lama bagi Romi & The Jahats membuktikan persona “sihir” mereka. Begitu intro lagu pertama menggelegar, ribuan massa yang memadati lapangan seketika menyatu dalam sebuah koor raksasa. Suara sound systemhampir tenggelam oleh teriakan penggemar yang sudah hapal mati setiap baris lirik lagu-lagunya. Bak reuni massal bagi para penggemarnya yang penuh emosi dan sedikit liar.

Sang Frontman, babeh Romi Jahat dengan atribut fusion unik ala ulama Betawinya terlihat sangat atraktif didukung para personil lainnya dengan sound penuh distorsi dan beat punk old school dalam membawakan lagu-lagu hitsnya seperti "Film Murahan", "Joni Lebay",  "Sudah Punah", “Negara-Negara Gagal” hingga versi Akustik "Bunga Kertas Merah Berduri" berubah menjadi lagu kebangsaan baru para sosialis oportunis dan tentunya para fans setianya pada malam itu. Hampir tidak ada jarak antara panggung dan penonton. Hanya ada satu entitas yang bernyanyi, bercerita, menari, dan melepas segala beban bersama-sama tentang kenyataan, penyesalan, harapan, dan kritik sosial.

Seakan tak ingin memberi jeda untuk bernapas, suasana justru semakin memanas ketika Fyan Sinner (vokal), Ceking (drum), Amek (gitar), dan Ryan (bass) yang tergabung dalam Rebellion Rose naik panggung. Dengan energi yang lebih kasar dan beringas, band punk rock ini langsung menghantam para Comrades tanpa ampun. Mereka membawakan pesan yang kuat kedalam sebuah perjalanan musik dengan penuh amarah dan semangat perlawanan. Lagu-lagu seperti "Aku Kamu & Samudera," "Terima Kasih," "Buruh Tani," dan "Sehat Selalu Saudaraku" yang kerap menjadi anthem para punkers kembali diteriakkan oleh massa dengan penuh keyakinan. 
Panggung warna warni berubah menjadi gelanggang moshpit dan crowd surfing, dimana setiap chord dan setiap hentakannya adalah dari jiwa yang bebas dan merdeka. 

It’s so F**kin worth to wait and screaming aloud together!!!  

Salah satu penonton yang bernama Yudistira, juga turut merasakan antusiasme malam itu saat band idolanya yaitu Romi & The Jahats tampil dengan sangat megah dan berwibawa. Yudi yang sengaja datang bersama teman-temannya mengaku sudah menunggu lama atas kesempatan tersebut karena selain bisa menyaksikan band idolanya tampil, mereka juga bisa ikut merayakan Friendship Moments dari Coklat Kita. 

Yudistira pun berharap untuk event selanjutnya agar para band favoritnya seperti Marjinal dan Sukatani juga bisa diundang silaturahmi oleh Coklat Kita ke Karawang sebagai obat rindu penggemarnya.  

Malam itu, hembusan aroma punk rock yang beringas sukses membuat Kampus UBP berguncang. Mereka bukan hanya sekadar menghibur, tetapi menjadi pemantik api bagi luapan emosi jiwa yang terdengar sangat kuat dan lantang. "Friendship Moments" oleh Coklat Kita lebih dari sekadar nama event tapi sebuah pernyataan konkrit. Sebuah bukti bahwa dalam kebisingan musik punk rock, justru di situlah kita menemukan kejujuran, ikatan, dan makna sesungguhnya dari sebuah persahabatan. 

Sampai jumpa di Panggung selanjutnya dan semoga sehat selalu saudaraku! (INQ)

INSYFEST 2025: The Jeblogs yang Menggila dan Malam Tanpa Akhir dengan Lantunan 'Bersandarlah’

Categories: Collaboration

Share
Langit di hari Minggu, 26 Oktober sore itu di Halaman parkir Universitas Buana Perjuangan (UBP) Karawang sudah menunjukkan ancaman rintik hujan seperti hari-hari sebelumnya yang kini memasuki musim penghujan. Tapi tetap tidak menyurutkan energi ratusan massa penonton untuk menikmati berbagai sajian hiburan yang disiapkan oleh panitia pelaksana. 

INSYFEST 2025 also known as Information System Fest 2025 begitulah mereka menamainya. Sebuah festival yang sejak pagi sudah ramai oleh hiruk-pikuk bazaar UMKM, pesona motor klasik, dan keceriaan di photo booth. Semua tertata, semua teratur. Penonton antre dengan tertib, panitia sibuk lalu-lalang dengan walkie talkie di tangan. Sebuah pemandangan yang tenang dan terencana.

Tapi kita semua tahu, acara yang benar-benar berkesan seringkali tidak lahir dari keteraturan sempurna. Ia lahir justru dari momen ketika keteraturan itu nyaris runtuh dan yang tersisa adalah raw emosi yang meluap. Dan luapan itu bernama The Jeblogs.

Sebelum kita bahas kekacauan yang meriah itu, mari beri penghormatan pada para panitia dari Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi (HIMASI) UBP Karawang bersama para sponsorship. Sang Ketua Pelaksana, Tara Abizar menyampaikan bahwasanya kegiatan tersebut merupakan wadah pengembangan diri mahasiswa dalam hal manajemen event yang seluruhnya adalah teamwork dari HIMASI UBP. Sebelumnya juga INSYFEST 2025 telah mengadakan beberapa kompetisi hingga Seminar Nasional yang membahas tentang Digital Talent di Era Industri 5.0 sebagai bagian dari rangkaian acaranya.

Panggung INSYFEST 2025 sejak siang telah dihangatkan oleh performa solid sejumlah band tuan rumah UBP bersama irama menggugah dari The Black Gardens, DPRTY band, The Oldest, dan Taksanada yang merupakan band asal Karawang yang cukup dikenal saat ini. Tak kalah memukau, gelaran pertunjukan tari tradisional dan modern dance dari UKM Seni Budaya UBP turut meramaikan panggung dengan menyuguhkan sisi lain dari kreativitas seni mahasiswa yang tampil pada hari itu. Semuanya berjalan aman bahkan keteraturan yang nyaris sempurna tanpa cela.

Namun, segala keteraturan itu seketika berubah menjadi euforia yang chaotic disaat Amir M (vokal), Valentino Mahoni (gitar), Dani Ardian (drum), Ryan Ramadhan (bass), dan Febrianto Prima (gitar) mulai terlihat naik ke panggung. Suasana yang sebelumnya tenang tiba-tiba bertransformasi menjadi liar tanpa komando. Yep, panggung kali ini bukan lagi sekadar panggung, melainkan arena para sisifus untuk ikut bernostalgila bersama The Jeblogs.

Dari lagu pembuka instrumental "Menari Resah" dan "Berantakan", kekacauan yang tak diharapkan pun dimulai. Beberapa penonton mulai nekat berdiri di atas barikade sambil membentangkan spanduk “The Jeblogs”. Barikade itu sendiri nyaris roboh diterjang desakan massa yang tak kuasa menahan diri. Para panitia yang tadinya terlihat santun, tiba-tiba berubah menjadi pahlawan tanpa tanda jasa yang berjibaku menahan benteng pertahanan terakhir itu agar tetap berdiri. Inilah puncak dari "pengembangan diri" yang disampaikan sang ketua panitia dalam hal manajemen event. Salah satunya belajar menghadapi racaunya pesta.

The Jeblogs ternyata baru pertama kali menginjakkan kakinya di Karawang dan memberikan kesan yang dalam walau hanya sebentar. Tapi bukan sekadar main, lalu pergi. Mereka memimpin ritual dari setiap lagu yang sebagian besar dari album "Sambutlah" dan dinyanyikan kembali oleh para penonton sebagaimana kumpulan mantra-mantra kolektif. 

Lirik-lirik puitis mereka bukan lagi milik sang vokalis, tapi sudah menjadi milik bersama. Dan ketika anthem "Bersandarlah" mengalun, malam itu seakan enggan berakhir. Bahkan setelah panggung meredup, lagu itu masih berkumandang liar di tengah kerumunan. Sebuah fenomena yang membuktikan bahwa pertunjukan memang sudah usai, tapi kesan dan makna lagunya masih tersisa.

Pada obrolan singkat setelah manggung, ada momen filosofis yang menarik ketika ditanya tentang makna lain dari "The Jeblogs", Amir sang vokalis menjawabnya ibarat seperti tanah basah yang subur. Sebuah harapan yang selalu ingin mereka wujudkan dengan menjadi ‘lahan’ yang bermanfaat bagi siapa saja. RESPECT!

Ryan sang bassis turut menanggapi pertanyaan tentang rencana kedepannya bahwasanya untuk album The Jeblogs selanjutnya semoga akan hadir pada tahun depan yang saat ini masih dalam tahap pengumpulan materi selain dari single yang telah mereka rilis beberapa waktu lalu yaitu,

“Sekian, Terima Kasih (feat. Lealona)”.

“Mohon doanya ya teman-teman biar cepet terlaksana rilis albumnya...” ucap Ryan. 

Pada akhirnya malam itu di Karawang, bersama filosofi The Jeblogs seakan menjadi nyata. HIMASI UBP menyediakan lahannya melalui INSYFEST 2025. The Jeblogs datang sebagai hujan yang menyuburkan. Dan para mahasiswa adalah tunas-tunas yang sedang dewasa, tumbuh meriah, bersenandung dan sedikit liar menerjang barikade.
Sebuah kombinasi yang akan dikenang sebagai salah satu episode terbaik dalam memori kuliah mereka.

“Sampaikan salam kami
Kepada bulan dan bintang
Oh tenang saja,
Generasi baru telah tiba...”

-Sambutlah by The Jeblogs-
(INQ)

Kolaborasi Level Up! Soundwaves Connection Buktikan Silaturahmi Forum Musisi Karawang Nggak Ada Matinya

Categories: Collaboration

Share
“Soundwaves Connection” yang dihelat oleh @forummusisikarawang (FMK) pada Minggu (19 Oktober 2025) membuktikan bahwa pagelaran musik bisa lebih dari sekadar pertunjukan. Event ini menghadirkan vibes para musisi baik yang baru berkecimpung di dunia musik hingga para musisi senior Karawang yang telah malang melintang di dunia hiburan berskala nasional dan internasional. Bertempat di Kota Kertabumi, Karawang, telah sukses menjadi ajang silaturahmi yang hangat dan pentas kreasi yang membanggakan bagi musisi lokal.


Event digelar sejak sore hari yang dipandu oleh MC Rully Maya membuat suasana heboh terus tanpa sekat hingga berakhirnya event ini. Beliau kerap menyapa sambil beradu canda dengan para tamu dan para musisi yang hadir serta yang tampil untuk ikut memberikan opini masing-masing demi kemajuan FMK kedepannya, Selain itu atmosfer panggung yang berada ditengah kawasan Kota Kertabumi cukup terasa adem, nyaman dan asri ikut membuat para audiens semakin betah nongkrong sambil menikmati aneka sajian dari food merchant disekitar venue.


Selain silaturahmi para musisi, juga turut hadir berbagai komunitas yang tergabung di FMK diantaranya, Guitar Community of Indonesia (GCI) Chapter Karawang, Indonesian Drummer (ID) Karawang, Land of Guitar (LOG), Karawang Blues Society, serta Himpunan Artis Musik Indonesia (HAPMI) Karawang. Their presence bener-bener nambahin aura semangat kolaborasi dan solidaritas.


Gak cuma jadi ajang kumpul-kumpul biasa, malam itu “Soundwaves Connection” menjadi panggung sederhana namun istimewa dimana bakat-bakat lokal Karawang tunjukin kelas mereka. Mulai dari genre Pop, Rap, Ska, Punk, Metal hingga Rock n Roll gencar menghibur audiens hampir tanpa jeda waktu. 

Antusiasme juga datang dari para musisi yang turut meramaikan event ini. Diantaranya Dean Sanopa, sang vokalis Minion Ska, band yang sudah terbentuk sejak tahun 2016. 

"Ini event yang positif banget bagi kami para musisi Karawang! Semoga jadi agenda rutin buat wadah berkumpulnya musisi lokal Karawang untuk saling berbagi ilmu dan tentunya mempererat tali silaturahmi."

Hal senada juga diungkapin Fizol, frontman dari Taksanada dan DPRTY Band, 

"Bagi saya pribadi event FMK ini sebagai bagian dari movement yang lebih terarah dan tentunya sharing ide ke sesama musisi udah kayak keluarga besar buat kita. Tujuannya jelas tentang bagaimana kolaborasi FMK bisa menjadi benang merah dalam pengembangan karir musisi lokal biar makin maju dan berkualitas."

Mereka berharap event ini lebih dari sekadar pentas saja tetapi lebih sebagai ruang untuk saling connect melalui cerita dan energi sesama anggota FMK yang makin solid dan kreatif.

Ketua FMK, Rizki Angkasa menyampaikan apresiasi setinggi tingginya atas inisiasi event “Soundwaves Connection” sebagai bagian dari partisipasi aktif rekan-rekan musisi dalam memajukan potensi kreatifitas dan pengembangan diri musisi lokal Karawang di masa depan. 

"Kita harus selalu bersama, ngariung, ngumpul seperti ini dan berkolaborasi membahas tentang  era masa kini yang benar-benar digital dari sisi profesionalitas musisi. Kita harus terus bergerak untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kedepannya. Olehnya itu, kapanpun dan dimanapun hayuk kita berdiskusi karena sudah saatnya kita berjalan bersama dan terus aktif dalam menghasilkan karya yang positif...“ ujar Rizki Angkasa. 


Overall, standing applause kepada seluruh musisi dan komunitas yang tergabung di FMK yang telah menyukseskan “Soundwaves Connection” dari yang awalnya sekadar ide dan konsep menjadi sebuah simfoni kolaborasi yang nyata dari cerita perjalanan panjang kita. Terima kasih telah membuktikan bahwa musik bukan hanya tentang nada, tapi juga tentang menyatukan hati. Sampai jumpa di event FMK selanjutnya !!! (INQ)