Band indie asal kota Magelang bernama Musuffer resmi meluncurkan debut single mereka bertajuk “Last Trip”, sebuah karya yang lahir dari perenungan mendalam tentang eksistensialisme, hari akhir, serta relasi manusia dengan konsep ketuhanan. Meski secara harfiah berarti “perjalanan terakhir”, lagu ini justru menjadi langkah awal Musuffer menuju album perdana yang dijadwalkan rilis pada 2026.
Sufi Rock dan Keresahan yang Dikultuskan
Terbentuk pada November 2024, Musuffer dihuni oleh Adi Safari (vokal & gitar), Bagas (lead guitar), Sukma (bass), dan Edo (drum). Berangkat dari latar belakang musikal yang beragam, mereka sepakat meramu identitas yang mereka sebut sebagai sufi rock—memadukan beberapa element dari sub genre Rock seperi Rock n roll, Stoner rock, Mediteranian Rock, Psychedelic rock, bahkan memasukan unsur Disco dengan sedikit sentuhan modernitas. Perpaduan ini menciptakan lanskap rock yang lebih segar, penuh perenungan diri, sekaligus tetap groovy.
Nama “Musuffer” sendiri lahir dari perdebatan panjang. Ia merupakan persilangan makna dari berbagai sumber liturgi seperti musafir, suffer, dan mushaf. Secara bahasa, Musuffer dimaknai sebagai—sekelompok orang yang melakukan perjalanan, membaca tiap kejadian dan tanda-tanda kehidupan, meski harus menapaki jalan penuh penderitaan dan pengorbanan demi menemukan jawaban paling hakiki.
“Last Trip”: Teguran Spiritual bagi Manusia yang Lupa Diri
Dalam “Last Trip”, Adi Safari sebagai penulis lirik menumpahkan kegelisahannya terhadap manusia yang kerap terjebak dalam ego dan glorifikasi diri.
"Manusia dengan segala macam egonya sering kali terlena dengan hal-hal duniawi yang kadang berlebihan bahkan tak jarang banyak juga dari mereka menuhankan isi kepalanya masing-masing tanpa memikirkan apa dampak yang akan terjadi kedepannya, padahal sejatinya manusia adalah makhluk yang ringkih sering kali ketika terpuruk selalu berlindung dalam lafaz-lafaz atau doa-doa pada tuhannya masing-masing,” ungkap Adi.
Lagu ini menjadi refleksi atas kecenderungan manusia yang merasa superior, seolah menjadi pusat semesta, namun justru rapuh ketika dihantam realitas. Melalui pendekatan eksistensialisme yang bersinggungan dengan dogma-dogma agama di berbagai belahan dunia, Musuffer ingin mengingatkan bahwa posisi manusia di muka bumi hanyalah setitik pasir di lautan luas.
Sebagai individu yang mengimani adanya hari akhir, Musuffer menjadikan “Last Trip” upaya mengingatkan bahwa kesombongan dan ilusi kuasa diri hanyalah fatamorgana.
Awal dari Sebuah Perjalanan
“Last Trip” yang justru menjadi gerbang awal perjalanan Musuffer, merupakan prolog menuju album penuh yang tengah mereka siapkan untuk 2026 ini juga sebagai entitas yang membawa misi lugas di tengah lanskap musik alternatif yang ramai berdesak-desak.
Lagunya sudah tersedia di berbagai platform musik digital. Sebuah undangan terbuka bagi pendengar untuk ikut menapaki perjalanan atau bisa saja tiba-tiba menemukan jawaban dalam kehampaan yang sama. Congratulations! (INQ)