Berawal pada tahun 2023 hingga kini, sejatinya Megatruh Soundsystem memang hampir tak pernah bermain aman. A unit Duo Mystical Heavy Dub dari Yogyakarta yang diperkuat oleh Ari Hamzah dan Kiki Pea rupanya memilih konsep meramu heavy mystical dub sembari menyelipkan aroma post-punk dan darkwave yang terasa kelam dan mencekam. Tak sekadar musik sahaja, Megatruh Soundsystem malah menjadikan suara dan bunyi-bunyian menjadi senjata perlawanan dalam membaca realitas para kaum minoritas.
Setelah "Palu Kuasa" memberi hantaman isyarat yang tegas, kini mereka kembali meluncurkan single "Tari di Medan Api” yang merupakan sebuah komposisi instrumental sekaligus menjadi awal menuju album kedua. Dirilis melalui Dugtrax Records (DOM 65, Sukatani, B.O.A.R., The Glad, Viva City, Sakarin, Amok) bekerjasama dengan produser Wok The Rockmenjadikannya tidak sekedar heavy ska-dub, tetapi lebih ke menggabungkan bass beat ala subkultur Jamaika, ska instrumental menyatu padu dengan perkusi barongsai lokal dan getaran ritual Jathilan yang hipnotik. Hasilnya seperti menjalani ritual di tengah hiruk pikuk bass beats yang bergema, delay yang membentuk lorong waktu, dan menciptakan ruang mistisisme dan politis.
Yang menarik, "Tari di Medan Api" sengaja dirilis pada malam takbir menjelang Idul Fitri lalu untuk mencoba memaknai berbagai bunyi-bunyian khas takbiran, petasan, drum jalanan, riuhnya perayaan malam jelang lebaran. Momen tersebut diibaratkan menjadi narasi musikal tentang bertahan di atas api zaman. Kiki Pea menyatakan bahwa Ini adalah tarian orang tanpa panggung, tanpa mimbar politik, tanpa mikrofon. Yang mereka punya hanyalah dentuman bass dan tubuh yang terus bergerak.
Bagi Megatruh, dub dan ska merupakan bahasa kelas pekerja yang lahir dari jalanan Jamaika yang berasal dari tumpukan speaker di gang sempit hingga mengubah ruang publik menjadi ruang resonansi kolektif yang konon tidak diberikan oleh penguasa.
Di tangan mereka, semangat itu dicoba diterjemahkan kedalam karakter kontemporer lokal Indonesia seperti trance, ritual, noise, dan kegelapan post-punk disatukan bukan sekadar untuk uji coba estetika, melainkan untuk merakit ulang serpihan kebudayaan yang selama ini dipisahkan oleh industri hiburan dan logika pasar.
Nama Megatruh sendiri diambil dari tembang macapat Jawa, menggambarkan momen lepasnya ruh dari raga. Sebuah metafora melepaskan kesadaran dari ilusi kekuasaan modern (propaganda, nasionalisme kosong dan kebohongan politik). Dalam dunia yang terus membara oleh konflik sejarah yang tak pernah reda, Megatruh Soundsystem memilih untuk menari karena hanya itu yang dimiliki oleh buruh, pekerja malam, pemuda jalanan, dan mereka yang tinggal di pinggiran.
Karena pada akhirnya, musik adalah wahana berdansa orang-orang yang kalah.
"Tari di Medan Api" by Megatruh Soundsystem kini telah menjadi bagian dari perilisan Album "HEAVY MYSTICAL DUB" dan telah dibuka sesi preorder Albumnya melalui bandcamp Dugtrax Records. Akses melalui tautan resmi dugtraxrecords.wordpress.com dan videoklipnya bisa kalian saksikan di kanal Youtube Frogstone. (INQ)