Kenalan Dengan Dua Punggawa Pop Folk Asal Karawang Di Showcase “Taksanada x Daririna”

Categories: Collaboration

Share
Malam minggu yang hangat, diiringi larik-larik sendu oleh dua grup musik merdu pop folk Karawang, di acara mini showcase “Taksanada x Daririna” sukses mencuri hati para pendengarnya yang datang di bawah temaram Sagara Space Karawang.

Mungkin itulah deskripsi singkat yang vibrasinya bisa dirasakan saat menyaksikan secara langsung kolaborasi dua grup musik tersebut pada Sabtu malam (22/2/2024).

Awal Mula Kolaborasi “Taksanada x Daririna”

Pijol (Vocalis) Taksanada mengatakan mini showcase ini merupakan inisiatif bersama dengan Daririna, atas keresahaan yang mereka rasakan.

“Jadi genre pop folk di Karawang ini sangat minim manggung (pentas) jadi Taksanada yang kebetulan kenal juga Daririna akhirnya membuat mini showcase ini,” katanya saat ditemui tim BVCKLESMIGGLE di Sagara Space Karawang.

Mini showcase ini merupakan jembatan pembuka, rentetan untuk showcase-showcase Taksanada juga Daririna selanjutnya.

“Jadi kita rencana akan buat showcase selanjutnya dan di Sagara Space ini adalah pembuka next kita akan buat big showcase nya,” tuturnya.

Mini showcase Taksanada dan Daririna dibuat secara kolektif tanpa adanya sponsorship

“Kita kolektif papatungan,” ungkap Pijol kembali berbalut senyum khasnya.

Harapannya, showcase bisa lebih meriah dan mampu menggaet banyak musisi lainnya juga sponsorship.

“Semoga ke depan bukan hanya kami tapi musisi lainnya juga bisa ikut, dan juga bisa didukung oleh sponsor biar lebih meriah,” ungkapnya seraya meluapkan curahan lugas yang mewakili mereka. (INQ)

PERSONA BARU DARI HOLISTIC KE TAMOOR LAHIRKAN SINGLE PERDANA "MASTERMIND"

Categories: Collaboration

Share
Skena musik rock layak menanti Tamoor, band lokal Karawang yang hadir dengan persona baru semangat hardrock 70-an yang funky. Sebelumnya dikenal sebagai Holistic, band ini memutuskan untuk merevolusi menjadi Tamoor. Nama ini diambil dari bahasa Arab dan Persia yang berarti “sarang singa” atau “sesuatu yang kuat.” Visualisasikan esensi mereka dengan energi liar yang patut diwaspadai,  garang namun penuh intelektualitas. Seperti singa yang terbangun dari tidur panjangnya, Tamoor siap mengguncang gigs to gigs dengan taring musik mereka yang tajam.

DARI HOLISTIC MENUJU TAMOOR: EVOLUSI SEBUAH IDENTITAS

Sebelum menjadi Tamoor, band ini dikenal dengan nama Holistic. Sebagai Holistic, mereka membawa warna musik yang eksploratif, namun merasa ada ruang untuk pertumbuhan lebih besar. Nama Holistic, yang berarti keseluruhan atau menyeluruh, sempat menjadi simbol dari upaya mereka untuk menyatukan berbagai elemen dalam musik. Seiring waktu, mereka menyadari bahwa semangat mereka lebih mengarah pada energi yang lebih berani, liar, dan penuh perhitungan— Seperti seekor singa yang bangkit. Transisi ini tidak hanya mencerminkan perubahan nama, tetapi juga pendalaman visi dan semangat mereka untuk merangkul sound hard rock 70-an sebagai benang merah yang lebih autentik dan jelas ikonik.

PERSONA TAMOOR DAN ENTITASNYA

Tamoor terdiri dari tiga personel berbakat: Febiyan Alfaridzi (Byan) sebagai gitaris sekaligus vokalis, Fathan Farid (Fathan) yang memainkan bass dan turut mengisi vokal, serta Ryan Luthfy (Ryan) sebagai drummer. Kolaborasi dan kekompakan mereka ibarat roda gigi yang saling melengkapi juga terhubung, menciptakan harmoni eksplosif antara dentuman drum, lengkingan gitar, dan petikan bass yang melarutkan nada dan irama.

SINGLE PERDANA YANG GARANG

"Mastermind" lebih dari sekadar anthem rawk, lagu ini adalah kritik sosial yang dikemas dalam balutan riff keras dan lirik yang pedas. 

"Di balik setiap pergerakan sosial, selalu ada sosok mastermind atau dalang yang mengatur jalannya permainan," ujar Fathan, “Sebuah gambaran sarkasme terhadap fenomena yang terjadi bahwa selalu ada yang mengatur kehidupan dalam beberapa aspek yang memunculkan kejenuhan terhadap hal tersebut,” Tambahnya.

"Mastermind" mengajak pendengar untuk melihat realitas sosial secara lebih kritis. Seperti cermin yang merefleksikan sisi tersembunyi masyarakat, lagu ini sejenak menantang cara berfikir kita dalam perspektif lingkup kehidupan.

Proses kreatif lagu ini mencerminkan semangat kumpulan singa. Meski melodi dan lirik diciptakan hanya dalam satu malam, pencarian tone gitar dan bass yang sempurna membutuhkan waktu lebih lama menyesuaikan dengan karakter Tamoor. Semua ini dilakukan demi menjaga orisinalitas dan karakter hardrock yang menjadi ciri khas mereka. Mereka tahu bahwa detail kecil bisa menjadi bahan bakar untuk sebuah ledakan besar.

INSPIRASI ROCK KLASIK DENGAN SENTUHAN KONTEMPORER

Tamoor mengambil inspirasi dari legenda rock seperti The Beatles, Led Zeppelin, Black Sabbath, Deep Purple, dan Queen. Namun, mereka juga meramu elemen-elemen modern dengan pengaruh musisi lokal seperti Kelompok Penerbang Roket, The SIGIT, Black Horses, dan White Swan. Musik mereka seperti jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa kini, dengan nada-nada klasik yang dihidupkan kembali dalam balutan modernitas. Tamoor tidak hanya ingin membuat pendengarnya sekedar headbang belaka.

“Kami ingin hard rock era 70-an kembali hidup di tengah anak muda. Musik ini punya jiwa, pesan, dan energi yang relevan dengan kehidupan sekarang,” ungkap Byan. 

Band yang patut diwaspadai ini membawa pesan hangat lewat karya mereka pada generasi muda dengan persona yang lebih matang. Mari kita sambut “Mastermind” yang siap rilis 7 Februari 2025 di semua platform official mereka. Yeah Congratulations! (INQ)

Kali ini Mutasi Death Metal Siapkan Album Baru Bersama Label Rusia

Categories: Collaboration

Share
“Lagu-lagu kami yang sudah dirilis maupun album yang sedang dalam tahap penyelesaian menceritakan tentang kehidupan setelah kematian.”

Demikian ungkapan Komarudin, vokalis Mutasi, grup musik death metal asal Karawang. Pada tahun 2017 bersama label dari Thailand “Sick Chainsaws Production” Mutasi debut “Promo 2017” yang menetaskan “Intro”, “Punishment The Infidels”, dan salah satu karya monumental mereka “Human in Hell”  sebuah kisah epik yang menggambarkan penyesalan umat manusia di hari pembalasan, dengan setiap notasi menggema seperti jeritan dari neraka. Dengan karakteristik suara melengking yang memekik jiwa dan nuansa kelam yang menyentuh relung terdalam. Juga pada tahun 2021 lepaskan single “Eternal Suffering” menggandeng label local “Underrated Records”.

Instrumen yang saat ini sedang digarap Mutasi terbilang cukup memakan waktu yang terbilang lama. Dengan mempertahankan pattern deathmetal khas Indonesia, namun tetap memiliki identitas yang unik. Bahkan, dalam perjalanan kreatifnya, Mutasi menggandeng nama besar untuk menambah kekuatan musikal mereka. “Di salah satu album terbaru, kami berkolaborasi dengan Daniel (DarkSoul & Bonga Bonga), mantan vokalis pertama Deadsquad. Selain Daniel, kami juga bekerja sama dengan Septian Satriani, gitaris berbakat asal Karawang yang merupakan teman satu tongkrongan,” ungkap Komarudin dengan antusias.

Cerita di Balik Mutasi Death Metal

Nama Mutasi sendiri memiliki filosofi yang mendalam. “Mutasi berarti berpindah,” jelas Komarudin. “Pindah dari proyek lama ke proyek baru yang lebih ambisius. Kami bertiga awalnya memiliki proyek band masing-masing yang berbeda. Namun, melalui jamming di Dream Music Studio, kami menemukan chemistry yang luar biasa dan memutuskan untuk serius dengan proyek baru ini.”

Dengan formasi solid yang terdiri dari Komarudin (Vokal), Mahmudin (Drum), Nur Iqbal (Gitar 1), dan Abdul Wali (Gitar 2), Mutasi berhasil menghadirkan warna baru bagi musik death metal di kota industri. Setiap personel memberikan kontribusi terbaiknya, menciptakan harmoni minor yang menggugah jiwa.

Dalam proses album terbarunya, Mutasi tidak hanya menghadirkan kolaborasi dengan berbagai musisi deathmetal ternama, tetapi juga menandai langkah besar dengan berpindah ke label baru dari Rusia. Selain itu, aspek visual juga mendapat perhatian khusus. Untuk menciptakan pengalaman yang utuh, Mutasi menggandeng warga lokal sana Ivan Stan, seniman visual asal Rusia. Dengan sentuhan magis Ivan Stan dipastikan akan memperkuat atmosfer album terbaru Mutasi.

Harapan Mutasi untuk Pendengar

Di akhir wawancara, Mutasi menyampaikan harapan besar yang menjadi pendorong semangat mereka. “Harapannya, lagu-lagu yg sedang kami garap ini semoga nantinya dinikmati dengan puas dan menginspirasi. Kami ingin setiap nada, setiap kata dalam lirik kami, dapat menyentuh hati para pendengar, memberikan pesan yang mendalam, sekaligus membangkitkan semangat,” tutup Komarudin dengan penuh keyakinan.

Dengan konsep yang matang, kolaborasi yang kuat, dan dedikasi yang tanpa henti, Mutasi siap memberikan warna baru di dunia death metal Indonesia. Sebuah perjalanan yang penuh gairah, dan sebuah suara yang akan terus meriak di kegelapan. Kita tunggu saja. (YFS)