Dalam konsep bermusik yang kerap terjebak dengan pola stagnasi berkarya, kehadiran Tanda Seru! selalu menjadi bagian yang berbeda dalam menyampaikan kegelisahannya. Proyek solo berformat band grunge dari seorang Yunan Helmi(produser & song writer) ini kembali membuktikan bahwa ekspresi nada dan distorsi tak harus selalu dibuat dengan konsep rekaman band aja. Mereka justru mengangkatnya ketingkat yang lebih tinggi dengan merilis tiga video klip sekaligus dari album "Negeri Para Begundal" dalam format live orkestra audio.
Ketiga lagu tersebut yaitu "Panitia Akhirat", "Setiap Hari Kami Berdoa Agar Koruptor Dihukum Mati" dan "Negeri Para Begundal" bukanlah pilihan acak namun merupakan bagian dari karya trilogi yang menyoroti kebusukan politik, kemunafikan elit agama, kekesalan pada mafia hukum dan keputusasaan rakyat yang dirampas. Dengan mengemasnya kedalam live orkestra, Tanda Seru! seolah ingin memberikan makna kesakralan, ironi dan amarah bertopeng elegan nan klasik, lalu dipamerkan tepat kewajah para penjilat. Terlihat berkelas namun yang sebenarnya adalah bagian dari konspirasi nada ejekan dan sumpah serapah yang menolak untuk berakhir.
Kolaborasi dengan RJA Orchestra adalah sebuah langkah yang cukup impresif dan bukan sekadar gimmick. Aransemen strings yang dramatis memberi dimensi ruang baru pada spirit grunge yang bertenaga. Ditambah adanya nuansa kolosal runtuhnya bangsa Yunani yang muram dan agung. Vokal tamu dari Aisha Dama Candrika, Malaika Azura dan kutipan syair Arab dari Nadhifa Azzahra makin menambah derap luapan emosional sekaligus kritikan sosial yang mendalam.
Formasi inti Tanda Seru! yakni Yunan Helmi (vokal, gitar), Leca Percussion (drum) dan Evanny Noei Rana (bass) menjadi sebuah kesatuan yang kokoh. Dengan latar belakang musik mereka yang sudah mumpuni seakan menghidupkan kembali nyawa Kurt Cobain dengan melibatkan kolektif violin Melody Violin sebagai tamu dan seluruh musisi RJA Orchestra. Kolaborasi yang bertutur kisah berontak namun tidak melembutkan pesannya. Justru memperjelasnya menjadi sebuah hingar bingar yang eksklusif.
Proses produksi one take shoot untuk tiga videoklip adalah sebuah langkah berani namun tetap maksimal dari sang visioner, Yunan Helmi sebagai otak di balik proyek ambisius yang presisi untuk skala indie.
Dengan langkah ini Tanda Seru! mengukir sejarah tersendiri bahwa musik kritik dan kritis bisa saja berwajah klasik nan megah tapi tidak akan kehilangan sedikitpun giginya yang tajam. Di tengah hiruk-pikuk industri mainstream, Tanda Seru! memilih jalan mengabadikan amarah dalam simfoni dan hasilnya adalah ‘memento’ peringatan yang indah sekaligus membahayakan.
Last words, Jika energi musik berada ditangan yang tepat maka luapan kemarahan dapat menjadi sebuah karya seni yang epic dan impresif. Tidak terkecuali dengan Tanda Seru! yang sekali lagi berhasil membuktikan diri mereka bukan sekadar band, tapi sebagai narator gelap dari zaman masa kini.
Saksikan Videoklip Live Orkestra Tanda Seru! di Channel Youtube resminya: @officialtandaseru. (INQ)