PAMAN Lepas Single Kedua berjudul “Pelita” Surat Seorang Ayah untuk Anak, Tentang Kekuatan dan Harapan

Categories: Music

Share
Setelah meluapkan amarah dan keresahan lewat single debut “Kesal”, PAMAN kembali dengan warna yang jauh lebih hangat dan penuh harapan melalui single terbarunya, “Pelita.”

Jika “Kesal” adalah potret pergulatan batin menghadapi rumitnya cinta, maka “Pelita” menjadi titik balik dimana ketika seorang ayah menemukan arah dan ketenteraman lewat kehadiran anaknya. Lagu ini terasa seperti  curahan yang personal, dan lembut. Tentang hidup yang tak selalu mudah, namun tetap layak dijalani dengan keberanian dan hati yang luas.

Dibungkus dengan nuansa pop-rock yang uplifting, “Pelita” memancarkan energi positif namun tetap menjaga emosi khas Paman. Aransemen yang mengalir dan dinamis bertemu dengan lirik reflektif, menciptakan atmosfer hangat seperti pelukan dan dorongan kecil yang datang dari seorang ayah kepada anaknya.

“Lagu ini ditulis buat anak-anak kita, tentang gimana hidup bakal keras dan penuh tantangan, tapi kita pengen dia tahu kalau ayahnya bakal selalu ada buat nemenin tiap langkahnya dimasa depan.” Ungkap salah satu personel.

Melalui “Pelita”, Paman menunjukkan evolusi musikal sekaligus emosional: dari letupan marah di “Kesal”, kemudian menuju cahaya yang menenangkan di “Pelita”. Sebuah perjalanan yang sangat relate bagi siapa pun yang sedang tumbuh hidup, mencoba bertahan, dan tetap berusaha bersemangat dalam menjalani hidup yang absurd ini.

Congratulation! Single “Pelita” sudah tersedia mulai 28 November 2025 di seluruh digital streaming platform kesayangan kamu. (INQ)

BRAINFART, Duo Rock Alternatif Bersaudara Asal Denpasar dengan Energi Brilian “Bravo-Foxtrot-101”

Categories: Music

Share
Di tengah derasnya nama baru yang muncul di skena independen, Brainfart hadir mencuri perhatian. Duo bersaudara asal Denpasar ini memperkenalkan diri melalui album debut “Bravo-Foxtrot-101”, sebuah karya brilian yang memantapkan identitas mereka sejak langkah awal.

Sebagai pendatang baru, Brainfart menempatkan dirinya melalui musik yang rapih dan terstruktur. Album penuh untuk rilisan perdana memberi sinyal bahwa kehadiran mereka tidak bersandar pada momentum singkat. Setiap ide disusun dengan kesadaran bahwa debut tak hanya memperkenalkan karya saja, melainkan sebuah komitmen artistik.

Format duo, DXC dan AGJ sapaan akrab mereka, menciptakan ruang interaksi yang lebih fokus. Komposisi gitar, bass, dan vokal yang harmoni dan bekesinambungan. Energi saudara kandung terasa pada kedisiplinan ritme dan pilihan melodi.

Secara sonik, “Bravo-Foxtrot-101” beroperasi dalam ruang rock alternatif dengan jejak punk dan sentuhan ska yang muncul sebagai aksen. Tekstur ini menghadirkan palet yang cukup berwarna untuk sebuah debut, tapi mereka membuktikan tone yang konsisten. Setiap track menampilkan karakter masing-masing, namun masih berada dalam spektrum yang sama.

Di antara keseluruhan materi, “Reinkarnasi” dan “Strong to Survive” menjadi track paling personal bagi mereka, dua lagu yang memuat kritik terhadap manusia yang kerap lupa “pulang”, sekaligus dorongan untuk terus melaju. 

“Bagi kami lagu yang paling menonjol adalah Reinkarnasi, lagu yang mengritisi semua orang yang lupa untuk "pulang" dan Strong to Survive, dan tetap kuat untuk terus melaju. Sebenarnya ada  saling keterkaitan antar lagu yang kalo dilihat dari liriknya akan jelas tersirat.” Kata mereka kompak.

Melalui lirik-liriknya, korelasi antar track akan terlihat jelas ketika pendengar yang menelusurinya secara cermat.

Perjalanan produksi album berlangsung selama satu tahun, dengan dinamika yang tumbuh dari proses yang awalnya sederhana. Brainfart sempat berencana merilis dua single saja hingga masukan dari sound engineer Helldean Records membuka jalan yang berbeda: menambah lagu, sekalian album. 

Pengalaman sekaligus tantangan pada proses produksi album tersebut yaitu seputar nada vokal. Kadang terlalu tinggi, kadang terlalu rendah, dan pada track “Lost”, pencarian nada yang “pas” justru menjadi momen yang paling menguji kesabaran dan naluri musikal mereka.

Dalam proses penggarapan album “Bravo-Foxtrot-101”, SE mereka, yang juga gitaris The Dissland, memberi kehadiran teknis dan perspektif yang melekat pada struktur album. Di luar itu, ada kontribusi kakak mereka, Gus Kleneng (Revelation), serta interaksi kecil dengan beberapa kawan musisi lain yang sesekali menajamkan materi.

Ada yang menarik untuk artcover album mereka, sebuah pesawat yang baru lepas landas, selaras dengan pembuka album berjudul “Pilot”. Seperti episode awal sebuah seri, cover tersebut bekerja sebagai tanda bahwa bab awal baru saja dibuka. Nama “Bravo-Foxtrot-101” sendiri memadatkan identitas mereka yaitu Brainfart (BF), sementara 101 menjadi simbol perkenalan.

“Dengan album ini kami berkenalan dan mengajak passenger/pendengar untuk menikmati musik kami.” Ungkap mereka menggebu.

Brainfart hadir sebagai pendatang baru yang membawa karakter musik yang segar. “Bravo-Foxtrot-101” menunjukkan komitmen yang matang, identitas yang jelas, dan kepekaan musikal yang berpotensi dan patut pula diwaspadai.

“Kami ingin pendengar merasakan keberagaman emosi dan energi yang selama ini kami simpan dan kembangkan bersama.” Tutup mereka.

Dengarkan semua track “Bravo-Foxtrot-101” yang baru saja mengudara, bak kapal yang telah lepas landas membawa pendengarnya terbang di udara. Congratulations! (INQ)

The BAPUK rilis Album EP "Menengah ke Bawah Volume 1" untuk Para Warga Kalcer

Categories: Music

Share
Bayangkan ketika dua sahabat lama bertemu di Yogyakarta. Bukan di puncak kesuksesan, tapi mungkin justru ditengah aktifitas padat yang mulai high pressure. Dari pertemuan itulah, The BAPUK lahir sebagai bagian dari semangat bermusik sejak medio 2015 yang sempat mati suri karena sesuatu dan lain hal. Sebuah nama yang sengaja dipilih dengan sedikit nyeleneh untuk mengolok-olok diri sendiri sebelum dunia luar yang melakukannya. 'Bapuk', sebuah kata satir yang sering kita ucapkan untuk barang usang, rusak atau sebagai ungkapan kekecewaan terhadap sesuatu. 

Atas dasar semangat bermusik para bapak-bapak yang tidak pernah lelah, akhirnya The BAPUK melepas resmi Album EP perdana mereka, ‘Menengah ke Bawah Volume 1’ pada Agustus lalu. Enam lagu didalamnya berisi serangkaian potret nyata yang akrab disekitar kita seperti keresahan, pengkhianatan dan anthem luapan keluh kesah para low to middle class heroes serta semangat untuk menjalani hidup. Ini adalah playlist bagi mereka yang hari-harinya dihabiskan untuk bertarung demi keluarga, bukan untuk pamer kemewahan. 

Musiknya sendiri disajikan berdurasi 2-3 menit perlagu dengan ragam nuansa punk-rock, grunge, ska hingga pop yang sederhana namun jujur. Tidak ada orkestra megah atau produksi yang berlebihan. Selayaknya seperti teman ngobrol di warung kopi, mereka bercerita dengan nada yang blak-blakan, lirik sedikit kritis dan dengan irama mudah dicerna. 

Yang uniknya lagi nih, para personel band The BAPUK lebih suka disebut sebagai "warga komplek" sebagai profil mereka. Ada Pak RT si bassis, Pak Bogang sang gitaris, lalu diikuti oleh Pak Tresno (drum), Lik Gan (gitar) dan Pak D (vokal). Konsep ini merupakan personifikasi dari karakter musik mereka yang dekat, merakyat, dan tanpa jarak. 

Bahkan mereka pun lebih senang menyapa pendengarnya dengan sebutan ‘Para Warga’. Sebuah panggilan yang terasa akrab dan menggalang komunitas. Di tengah industri musik yang seringkali terasa eksklusif, The BAPUK justru membangun “Perum Kompleksnya” sendiri.

Meski baru terbentuk resmi Mei 2025, energi kebapakan mereka tak main-main. The BAPUK langsung berani tampil on stage di Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) ke-30 dan event kolektif ‘WAGGIGS Vol.5’ di Milli by Shaggydog dan beberapa gigs lokal Yogyakarta. Sebuah pernyataan bahwa mereka memang serius, meski lebih sering disebut dengan label om-om bapuk daripada label bujang lapuk.

Lagu ini sabi didengar ditengah krisis hidup yang serba pas-pasan dan butuh penyemangat with same level and pain, go and check it now at all Digital Streaming Platform (DSP) kesayangan para warga karena Album EP The BAPUK, ‘Menengah ke Bawah Volume 1’ adalah jawabannya. The BAPUK datang sebagai kawan yang berkisah tentang keluh kesah yang sama dan terkadang itu rasanya lebih dari cukup.

“Gak papa gak punya rumah
Gak hidup mewah
Gak punya sawah
Diperas sama yang memerintah
Sampai hampir pasrah...”

“Kelas menengah kebawah, Tak pernah menyerah !!!” — The Bapuk 2025
(INQ)