The BAPUK rilis Album EP "Menengah ke Bawah Volume 1" untuk Para Warga Kalcer

Categories: Music

Share
Bayangkan ketika dua sahabat lama bertemu di Yogyakarta. Bukan di puncak kesuksesan, tapi mungkin justru ditengah aktifitas padat yang mulai high pressure. Dari pertemuan itulah, The BAPUK lahir sebagai bagian dari semangat bermusik sejak medio 2015 yang sempat mati suri karena sesuatu dan lain hal. Sebuah nama yang sengaja dipilih dengan sedikit nyeleneh untuk mengolok-olok diri sendiri sebelum dunia luar yang melakukannya. 'Bapuk', sebuah kata satir yang sering kita ucapkan untuk barang usang, rusak atau sebagai ungkapan kekecewaan terhadap sesuatu. 

Atas dasar semangat bermusik para bapak-bapak yang tidak pernah lelah, akhirnya The BAPUK melepas resmi Album EP perdana mereka, ‘Menengah ke Bawah Volume 1’ pada Agustus lalu. Enam lagu didalamnya berisi serangkaian potret nyata yang akrab disekitar kita seperti keresahan, pengkhianatan dan anthem luapan keluh kesah para low to middle class heroes serta semangat untuk menjalani hidup. Ini adalah playlist bagi mereka yang hari-harinya dihabiskan untuk bertarung demi keluarga, bukan untuk pamer kemewahan. 

Musiknya sendiri disajikan berdurasi 2-3 menit perlagu dengan ragam nuansa punk-rock, grunge, ska hingga pop yang sederhana namun jujur. Tidak ada orkestra megah atau produksi yang berlebihan. Selayaknya seperti teman ngobrol di warung kopi, mereka bercerita dengan nada yang blak-blakan, lirik sedikit kritis dan dengan irama mudah dicerna. 

Yang uniknya lagi nih, para personel band The BAPUK lebih suka disebut sebagai "warga komplek" sebagai profil mereka. Ada Pak RT si bassis, Pak Bogang sang gitaris, lalu diikuti oleh Pak Tresno (drum), Lik Gan (gitar) dan Pak D (vokal). Konsep ini merupakan personifikasi dari karakter musik mereka yang dekat, merakyat, dan tanpa jarak. 

Bahkan mereka pun lebih senang menyapa pendengarnya dengan sebutan ‘Para Warga’. Sebuah panggilan yang terasa akrab dan menggalang komunitas. Di tengah industri musik yang seringkali terasa eksklusif, The BAPUK justru membangun “Perum Kompleksnya” sendiri.

Meski baru terbentuk resmi Mei 2025, energi kebapakan mereka tak main-main. The BAPUK langsung berani tampil on stage di Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) ke-30 dan event kolektif ‘WAGGIGS Vol.5’ di Milli by Shaggydog dan beberapa gigs lokal Yogyakarta. Sebuah pernyataan bahwa mereka memang serius, meski lebih sering disebut dengan label om-om bapuk daripada label bujang lapuk.

Lagu ini sabi didengar ditengah krisis hidup yang serba pas-pasan dan butuh penyemangat with same level and pain, go and check it now at all Digital Streaming Platform (DSP) kesayangan para warga karena Album EP The BAPUK, ‘Menengah ke Bawah Volume 1’ adalah jawabannya. The BAPUK datang sebagai kawan yang berkisah tentang keluh kesah yang sama dan terkadang itu rasanya lebih dari cukup.

“Gak papa gak punya rumah
Gak hidup mewah
Gak punya sawah
Diperas sama yang memerintah
Sampai hampir pasrah...”

“Kelas menengah kebawah, Tak pernah menyerah !!!” — The Bapuk 2025
(INQ)

MARRYANNE, Band Shoegaze Asal Cirebon Rilis Ulang EP Bertajuk "INTO THE VOID" di Atlas Records

Categories: Music

Share
Getaran gitar yang melayang halus diiringi vokal sendu menyelubungi ruang itu, kembali hadir. Marryanne, salah satu nama yang konsisten mengusung bendera shoegaze/alternatif asal Cirebon yang digawangi Erlinda Nazwa Rahmadani (vokal), Cyril Muhammad Falih (gitar/vokal), Andhika Dwi Himawan (bass), Arrest Bupala Rafiadi (drum), dan Erlangga Eka Pratama (gitar) secara resmi merilis ulang EP perdana mereka, “Into The Void” yang dirilis pertamakali pada 02 Agustus 2024 lalu. EP tersebut membuka eksplorasi terhadap tema-tema kesepian, pencarian jati diri, dan usaha manusia menemukan kedamaian yang tertuang pada empat tracks lagu yaitu "Violet," "Solitude," "Bookshelves Epilogue" and "Numb".

Kali ini, yang memberi sentuhan baru adalah kolaborasi mereka dengan Atlas Records, label kenamaan yang berbasis di Kota Semarang. Rilisan ulang ini mencakup CD dan T-shirt eksklusif untuk para kolektor dan pendengar setia Marryanne.

“Into The Void” merupakan sebuah perjalanan Marryane. Empat tracks didalamnya dipenuhi nuansa drive, reverb yang menggema dan soundscape ambient bersatu padu menjadi sebuah narasi melodius yang langsung menyentuh relung hati paling dalam. Sebuah mahakarya yang layak untuk diabadikan dalam format fisik.

Momen spesial ini juga tidak lepas dari agenda Marryanne menyambut akhir tahun: Tur Jawa “Into The Void”! Tur yang akan menyambangi beberapa kota di Pulau Jawa ini direncanakan berlangsung dari awal November hingga akhir Desember 2025.

Rilisan ulang EP “Into The Void” hadir tidak hanya sebagai merchandise pendukung tur, tetapi juga sebagai penanda perjalanan dan komitmen Marianne terhadap perkembangan musik dan scene shoegaze di Indonesia. Sebuah keinginan untuk diingat dan sebuah langkah kekal untuk melangkah lebih jauh lagi.

“Kami mengharapkan momen ini menjadi doa dan support kami untuk melangkah kedepannya dalam mengembangkan musik dan scene shoegaze di Indonesia.” Tutup mereka. (INQ)

Kelompok Musik Tanam Tuai Luncurkan EP "Kabar Dari Selatan", Simpati Musikal Untuk Para Petani Pangalengen

Categories: Music

Share
Pada sebuah malam nan syahdu di Pendopo Walikota Bandung akhir Oktober silam, Kelompok Musik Tanam Tuaimenggelar konser yang panggungnya diubah menjadi hamparan kebun mini berhiaskan aneka sayur mayur sebagai bagian dari instalasi pentas panggung tujuh musisi yang sedang menyampaikan kabar dari tanah selatan Bandung.

Kelompok Musik Tanam Tuai beranggotakan Nissan Fortz (gitar, vokal), Zaki Peniti (bass, vokal), Fiksi (gitar elektrik, vokal latar), Ratimaya (dongeng, vokal latar), Ratih Putria (keyboard, vokal latar), Wandi (drum, vokal latar), dan Johny Jacko (perkusi, vokal latar) menawarkan narasi yang jujur dan reflektif tentang tanah, petani, protes, dan hubungan kita yang semakin jauh dengan sumber pangan.

Tanpa MC yang memandu acara pada malam itu, pertunjukan yang menjadi bagian dari gelaran Titik Kumpul Kolaborasi Energi Episode 142 itu justru dirajut oleh puisi. Aktor-aktor dari Universitas Pasundan (UNPAS) membacakan sajak-sajak panjang karya Bob Anwar yang menjadi jembatan antar lagu serta menciptakan sebuah pertunjukan multi kultur yang unik. Di situlah EP perdana Kelompok Musik Tanam Tuai, "Kabar dari Selatan", diluncurkan secara resmi.

EP yang berisi lima lagu ini adalah buah dari kepedulian mendalam terhadap realitas petani di Pangalengan. 

"Salah satunya kami melihat langsung bagaimana petani berjuang dengan cuaca yang kian tak menentu. Ini bukan sekadar cerita, ini realitas mereka setiap hari. EP ini adalah cara kami menyampaikan kabar dari sana. Dari tanah yang memberi kita makan." ujar Nissan Fortz, vokalis dan gitaris Kelompok Musik Tanam Tuai.

Lagu-lagu dalam EP ini menyentuh tema-tema yang sederhana namun mendasar. "Kemarau Basah" menyoroti anomali iklim yang membingungkan petani seperti curah hujan tinggi di musim kemarau. "Kami Makan yang Kau Tanam" adalah pengakuan jujur tentang ketergantungan kita pada kerja keras petani. Sementara itu, "Kentang Kol" hadir seperti mantra. 

Dengan lirik repetitif yang hipnotis, "Tanam terus, tumbuh terus, siram terus, segar terus" lagu ini merayakan kesederhanaan dan ketekunan. "Pesan Damai" mengingatkan bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab kolektif, sementara "Air Mata di Negri Sendiri" menyimpan protes yang tertahan tentang ironi kehidupan petani di tanahnya sendiri.

Kolaborasi dengan komunitas Buruan Sae dalam penataan panggung bukanlah sebuah kebetulan. Konsep "panggung sebagai kebun" adalah pernyataan intent. 

"Kami ingin penonton merasakan bahwa musik ini lahir dari tanah, bukan dari studio yang steril," kata Zaki Peniti, sang pemain bass.

Pendekatan musikal Tanam Tuai terasa seperti sebuah upaya menjembatani jurang. Mereka meramu reggae Jamaican yang hangat, dentingan folk yang akrab, energi rock, dan sentuhan pop modern, dengan celupan elemen tradisional yang samar. Hasilnya adalah sebuah simpati musikal yang tidak menggurui, tetapi mengajak berdialog.

"Ini bukan album protes, ini adalah kabar. Kami hanya menyampaikan apa yang kami lihat dan rasakan dan tentunya harapan," tegas Nissan Fortz. 

Dalam setiap not dan liriknya, Kelompok Musik Tanam Tuai berusaha merangkul pendengarnya untuk melihat lebih dekat kondisi para petani dan sistem pangan yang kian kompleks yaitu sebuah misi yang mereka jalani dengan sudut pandang yang romantik sekaligus penuh pesan moral tentang kesenjangan antara kota dan desa, antara konsumen dan produsen pangan, antara petani dan sistem pemerintahan yang dirasa timpang.

EP "Kabar dari Selatan" kini telah tersedia diberbagai plartform digital musik dan rencananya akan terus disebarkan oleh Kelompok Musik Tanam Tuai dengan menggelar pertunjukan serupa di beberapa kota, untuk menyebarkan kabar dari pelosok Selatan, suara petani Pangalengan kepada khalayak yang lebih luas. (INQ)