Album “Normatif II: Kejar Dunia 9-5” Ceritakan Sebuah Opera Batin Pekerja Muda Zaman Now

Categories: Music

Share
Duo rock alternatif, Normatif kini telah merilis full album kedua mereka, “Normatif II: Kejar Dunia 9-5”. Sebuah potret album yang nyaris tanpa filter tentang kehidupan pekerja muda yang terjebak rutinitas yang dirilis resmi pada akhir Oktober 2025 kemarin.

Album ini adalah kelanjutan dari EP Normatif II: Kejar Dunia (2024). Jika EP sebelumnya menggambarkan kegelisahan mahasiswa tingkat akhir yang mulai mencampakkan mimpi demi stabilitas, maka di album baru ini menghadirkan konsekuensi pasca wisuda atau fresh graduate yang mulai terjebak dalam sistem "9 to 5". Sebuah cermin fakta yang kontradiktif namun adiktif buat para social human saat ini. 

Fyi, kondisi kerja ala “Kejar Dunia 9-5” merujuk pada struktur waktu kerja tradisional dimana rutinitas bekerja dari pukul 09.00 pagi hingga 17.00 sore, biasanya dari Senin hingga Jumat (5 hari dalam seminggu). Istilah ini telah berkembang menjadi lebih dari sekadar jadwal kerja dan kini mewakili seluruh budaya serta sistem kehidupan yang menyertainya.

"Album ini adalah refleksi dari perjalanan kami dan banyak orang di usia dua puluhan: ketika realita pekerjaan ternyata tidak seindah yang dijanjikan," ujar Adri, sang gitaris.

"Kami ingin mengarsipkan suara suara lelah, kecewa, dan jujur dari mereka yang sedang berusaha berdamai dengan hidup 9 to 5."

Proses penulisan album ini berlangsung selama dua tahun dimana merupakan sebuah pembagian fase yang seperti “disengaja”. Pada tahun pertama dikerjakan saat mereka masih menjadi mahasiswa, penuh dengan ambisi dan kekhawatiran akan masa depan. Di tahun kedua, mereka menulis lagu sebagai karyawan penuh waktu yang telah merasakan betapa getirnya "kejar dunia" itu.

Alhasil susunan struktur pada album ini cukup cerdas sebagai kelanjutan dari lima lagu EP sebelumnya yakni: "Menyembah Dunia", "Ijazah di Lemari Berdebu", "Alarm Berbunyi", "Kelas Pekerja", dan "Diantara Reruntuh" yang diadopsi untuk mewakili fase idealisme yang retak dan pergeseran ambisi. Dan tambahan lima lagu baru yaitu: "Formatif", "Balap Tikus", "9 Pagi", "3 Tahun Lalu", dan "5 Sore" menjadi penutur keluh kesah atas rutinitas yang menyesakkan dan penyesalan yang mengendap.

"Kami ingin para pendengar merasakan transisi itu," jelas Ical sang vokalis. 

"Dari kegelisahan sebagai mahasiswa yang belum tahu arah, hingga kenyataan pahit sebagai pekerja yang merasa salah arah. Selain itu juga sebagai refleksi bagi kami generasi yang kini telah beranjak di usia dua puluhan dan mencoba untuk berdamai dengan kondisi kerja 9-5"

Fokus track album ini, "Balap Tikus" adalah sebagai kritik tajam terhadap budaya kerja kapitalistik. Lagu ini terinspirasi dari istilah “rat race” yaitu sebuah eksperimen laboratorium abad ke-20 dimana tikus berlari tanpa tujuan pada roda berputar. Pada dekade 1940–1950an, istilah ini berevolusi menjadi metafora sosial bagi para pekerja kantoran yang hidup dalam rutinitas tak berujung hingga saat ini.

"Lagu ini bicara tentang bagaimana kita didorong untuk terus berlomba mengejar validasi tanpa batasan yang jelas,"imbuh Adri. 

"Sampai tanpa sadar, kita terjebak dalam kompetisi budaya kerja modern yang mengikis makna personal dan keseimbangan hidup."

Normatif tidak sekadar bercerita. Mereka menjadi narasumber bagi generasi burnout yang konon mengalami kelelahan mental, emosional, dan fisik yang kronis akibat tekanan dari berbagai aspek kehidupan modern. Lirik-lirik di album ini ibarat potret “slow shutter” yang menangkap detik-detik kejenuhan dibalik meja kantor, tatapan kosong didepan layar komputer dan desahan lega saat jam lima sore tiba.

Sebagai bagian dari kampanye rilis, Normatif akan menghadirkan rilisan fisik dalam bentuk CD dan merchandise eksklusif (t-shirt) pada akhir 2025. Mereka juga sedang mempersiapkan showcase spesial dan tur album di awal 2026 untuk menyapa para pendengar di berbagai kota.

Overall, ‘Normatif II: Kejar Dunia 9-5” tidak hanya sebagai sekuel dari EP sebelumnya, melainkan sebagai narasi eksplorasi mendalam tentang realitas dunia kerja. Tentang ambisi yang tertunda, penyesalan yang terpendam dan pencarian makna ditengah ramainya rutinitas yang tidak manusiawi. Sebuah karya kolektif yang akan terasa personal bagi siapapun yang pernah atau sedang terjebak dalam "balap tikus"! (INQ)

Specteve 2025, Antara Ambisi dan Realitas Produksi

Categories: Music

Share
Bekasi — Awal bulan disambut dengan gelaran Specteve, sebuah event musik yang berlangsung di Parking Ground Revo Mall Bekasi. Deretan line up-nya terbilang menggiurkan: Dopamin, Sore Ze Band, Efek Rumah Kaca, FSTVLST, Dongker, Monkey To Millioner, Humanimal, Hursa, Ada Band, hingga The Sigit x Denisa dan deratan penampil lainnya.

Dari awal, venue sudah mencuri perhatian dengan gate megah dan alur masuk cukup unik — penonton harus melewati area mall terlebih dahulu sebelum akhirnya mencapai area panggung. Specteve sendiri menampilkan dua panggung: Specters Stage sebagai panggung utama dan Parade Tepi Kota Stage sebagai pendamping.

Menjelang sore, Sore Ze Band tampil menghangatkan suasana di bawah langit Bekasi yang mendung. Lagu-lagu mereka membentuk atmosfer syahdu yang membuat penonton hanyut. Tak lama kemudian, Efek Rumah Kaca mengambil alih panggung dan berhasil memantik antusiasme penonton. Poster-poster aktivis seperti Marsinah, Wiji Thukul, hingga Munir diangkat tinggi oleh massa, menandakan betapa kuatnya resonansi pesan sosial dari tiap lagu yang dibawakan.

Semakin malam, penonton terus memadati area venue. Namun sayang, di balik line up yang begitu megah, ada banyak catatan yang perlu dievaluasi. Fasilitas toilet minim dan penempatannya kurang strategis yaitu berada di bawah area venue. Tempat sampah yang terbatas juga membuat sampah makanan dan minuman berserakan di berbagai sudut.

Selain itu, transisi antar panggung terasa sempit dan berdesakan, membuat pergerakan penonton sulit. Kebocoran suara antar panggung juga cukup mengganggu. Sound dari satu panggung sering terdengar jelas di panggung lain, menciptakan distraksi yang signifikan. Visual di Specters Stage pun tidak stabil. Kadang kabur, tak sinkron dengan audio, bahkan sempat mati total. Ditambah lagi, jeda antar penampilan band terasa terlalu lama dan membuat momentum kehilangan daya.

Secara keseluruhan, Specteve punya potensi besar dengan line up yang kuat dan konsep dua panggung yang ambisius. Namun ke depannya, penyelenggara perlu memperhatikan elemen-elemen teknis dan detail kecil yang justru membentuk pengalaman penonton secara keseluruhan. Sebab dalam sebuah festival musik, bukan hanya line up yang menjadi magnet kuat, tapi juga bagaimana semua elemen terasa selaras dan nyaman untuk dinikmati. Overall, Good Job! (INQ)

Ninety Horsepower Rilis Single “Gusar” Tentang Belajar Berhenti Memaksa karena Takdir Tak Pernah Tertukar

Categories: Music

Share
Unit alternatif asal Indonesia, Ninety Horsepower, kembali memperdengarkan karya terbaru mereka lewat single berjudul Gusar.” Dirilis melalui label Burakku, lagu ini menjadi ajakan untuk belajar berhenti memaksa dan menerima bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai keinginan karena takdir, bagaimanapun tidak akan pernah tertukar.

“Kadang kita terlalu sibuk mengejar sesuatu sampai lupa caranya bahagia,” ujar Bayu Fajri, penulis lagu Gusar.

 “Lewat lagu ini, gue pengin ngingetin diri sendiri nggak semua yang nggak tercapai berarti gagal. Kadang, justru disaat lo berhenti maksa, lo malah nemuin ketenangan baru,” tambahnya.

Warna Baru di Lanskap Asian Alternative

Digarap bersama Vit Alian sebagai produser yang memasak “Gusar” menandai arah baru Ninety Horsepower dalam mengeksplorasi semangat Asian alternative. Terinspirasi oleh band-band seperti ASIAN KUNG-FU GENERATION dan L’ArcenCiel, mereka meramu emosi yang khas Indonesia tanpa kehilangan karakter modern rock Asia.

Album kedua kami akan sangat kental dengan nuansa Asian alternative, dan Gusar menjadi pembuka sekaligus gambaran seberapa kuat arah musikal kami ke depan,” jelas Bayu

“Kami ingin musik Ninety Horsepower tetap punya kejujuran dan intensitas yang bisa dirasakan siapa pun tanpa harus terjebak pada referensi.”

Tentang Ketulusan dan Rasa Syukur

Dengan lirik seperti : “Tak perlu hidup berlari untuk mengejar / Hal yang tertambat pilihan jalan yang sukar,” Ninety Horsepower menghadirkan pesan reflektif tentang arti bersyukur dan menerima. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, “Gusar” menjadi ruang hangat untuk berhenti sejenak dan menumbuhkan ketenangan dalam diri.

“Buat gue, hal-hal sederhana kayak segelas kopi susu bisa jadi pengingat bahwa kita tidak perlu selalu mencari solusi besar,” ungkap Gina, vokalis Ninety Horsepower. 

“Kadang, kekuatan untuk terus melangkah justru datang dari hal-hal kecil di sekitar lo.”

Lewat “Gusar”, Ninety Horsepower menegaskan bahwa menerima bukan berarti menyerah. Ini adalah lagu tentang menemukan kedamaian dalam keputusan, tentang memahami bahwa takdir tidak akan pernah tertukar.

“Takdir tidak akan tertukar, dan memahami itu bisa jadi bentuk kebebasan yang paling jujur,” tutup Bayu.

Profil Ninety Horsepower (90HP)

Terbentuk pada September 2013 di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Ninety Horsepowerberanggotakan Ghina (vokal & gitar), Jiung (gitar), Ipang (drum), dan KUNIO (bass). Musik mereka berakar pada semangat Asian alternative dengan pendekatan lirik yang jujur dan intens.

Melalui setiap rilisan, Ninety Horsepower berupaya menghadirkan karya yang relate dengan kehidupan sehari-hari, kesederhanaan, dan identitas musik lokal dalam lanskap alternatif Indonesia. (INQ)