Satu Dekade Album Generation Y: Kunto Aji Beberkan Makna Baru di Balik '2025 Masih Asik Sendiri’

Categories: Music

Share
Menapaki sepuluh tahun dalam perjalanan karier adalah momen spesial yang layak untuk dirayakan dan dijadikan sebagai tonggak sejarah. Bagi sang solois, Kunto Aji momen tersebut diwujudkan dengan “menghidupkan” kembali sebuah karya istimewanya.

Pada kuartal terakhir 2025 album perdana Kunto Aji, Generation Y akan genap berusia satu dekade. Album yang pertama kali dirilis tahun 2015 itu telah menjadi fondasi yang kokoh bagi perjalanannya di dunia musik.

Untuk merayakannya, Kunto menghadirkan single terbaru berjudul “2025 Masih Asik Sendiri”. Lagu ini merupakan aransemen ulang dari “Terlalu Lama Sendiri”, yang merupakan salah satu lagu hits di album Generation Y

“Ketika ada sesuatu yang ingin dirayakan, pasti harus ada yang dikeluarkan. Membuat karya baru saat ini belum memungkinkan, jadi pilihan paling reasonable adalah menyajikan ulang / me-rework lagu yang sudah ada. Saya memilih salah satu lagu ikonik dari album Generation Y, lalu memberinya sentuhan aransemen dan nuansa baru,” ujar Kunto Aji.

Nuansa baru yang ia maksud tidak hanya terletak pada musik, tetapi juga pada pergeseran makna dari karya aslinya.

“Pada lagu ‘2025 Masih Asik Sendiri’ memberi ruang bagi setiap orang untuk menyelami perspektifnya masing-masing. Seolah lagu ini adalah sebuah pertanyaan yang membuat pendengarnya merenung dan masing-masing orang bisa memiliki pemahaman sendiri tentang hidup mereka,” tambahnya.

Di tengah hiruk pikuk kehidupan, single “2025 Masih Asik Sendiri” hadir sebagai ajakan dari seorang Kunto Aji untuk lebih memaknai segala hal disekitar kita mulai dari yang paling dekat hingga yang sering luput dari perhatian.

Sebagai musisi, Kunto juga mengaku tengah mempertanyakan perannya sebagai musisi, 

“Sebenarnya harus berbuat apalagi sih di dunia seperti ini?”

Meski demikian, ia memilih untuk tetap menyimpan harapan. 

“Belakangan ini, saya banyak mempelajari situasi kehidupan baik secara realita maupun spiritual. Harapan sangat penting, karena itulah satu-satunya pegangan. Kita sudah terbiasa berada dalam mode bertahan dan semakin kesini hal itu semakin diperlukan. Paling tidak ditengah kondisi bertahan ini, ada secercah harapan di ujung jalan,” katanya.

Yang menarik disela-sela persiapan perilisan single ini, Kunto rupanya memilih jalur yang tidak biasa. Ketika banyak musisi sibuk mempromosikan karya terbaru diberbagai platform media, ia justru sebaliknya memutuskan untuk rehat sejenak dari media sosial.

Keputusan ini bukan berarti berhenti sepenuhnya, melainkan memberikan kesempatan kepada tim manajemennya untuk mengambil alih platform media sosialnya.

“Ide rehat dari media sosial ini sebenarnya datang dari manajemen. Mereka ingin melakukan take over. Saya merasa ini menarik karena mereka seperti punya rencana tertentu untuk platform yang saya miliki. Seperti apa sebenarnya konsep mereka dan bagaimana perannya sebagai bagian yang menjembatani musisi dengan karyanya? Saya justru penasaran dengan hal semacam ini. Langkah tersebut justru semakin memanusiakan hubungan diantara kami. Orang jadi melihat bahwa ini seperti kapal besar dan bukan hanya tentang saya, tetapi ada banyak orang di dalamnya,” ucap Kunto menutup pernyataannya.

Kabarnya Kapal itu akan terus berlayar mengarungi samudera yang luas dan “2025 Masih Asik Sendiri” adalah salah satu perhentian terbarunya. Kelak akan ada lebih banyak perjalanan lagi. Namun untuk sekarang, tak ada salahnya merayakan apa yang sudah tersaji didepan mata.

Single anyar dari Kunto Aji “2025 Masih Asik Sendiri” sudah dapat diakses diberbagai platform streaming digital. Selamat mendengarkan! (INQ)

Nitatadi Hidupkan Kembali Keajaiban Harmoni Lewat “Masih Ada”, Kini Lebih Fresh dan Groovy

Categories: Music

Share
Dunia musik Indonesia kembali disapa kehangatan harmoni dari Nitatadi, grup vokal berisi empat legenda: Ronni Waluya, Rita Effendy, Netta Kusumah Dewi, dan Hedi Yunus. Setelah lama tak muncul bersama, keempatnya kembali dengan single terbaru berjudul “Masih Ada” — sebuah karya yang menghidupkan kembali pesona klasik dengan sentuhan aransemen yang lebih fresh dan groovy.

Lagu “Masih Ada” merupakan karya legendaris dari duo ikonik 2D (Deddy Dhukun & Dian Pramana Putra) yang kali ini diinterpretasikan ulang oleh Nitatadi. Setelah sukses merilis “Kawan” dan “Dunia Cinta”, keempat vokalis ini kembali memadukan harmoni khas mereka dalam warna musik pop-balada yang lembut, berpadu dengan groove modern yang membuat lagu ini terasa hidup dan relevan untuk generasi zaman now.

“Lagu Masih Ada bercerita tentang keyakinan bahwa selalu ada harapan di setiap kesulitan. Kami ingin menghadirkan semangat positif bagi siapa pun yang mendengarkannya.” ujar Hedi Yunus. 

Sementara itu, Rita Effendy menuturkan, 

“Proses rekamannya penuh nostalgia, tapi juga jadi momen yang sangat emosional karena kami semua merasa kembali ke akar musikal kami.”

Dengan aransemen yang lebih segar dan nuansa groove yang ringan, “Masih Ada” menghadirkan pengalaman mendengar yang menenangkan sekaligus membangkitkan semangat. Lagu ini menjadi simbol perjalanan lintas generasi dan bukti bahwa harmoni sejati tak lekang oleh waktu.

Single “Masih Ada” resmi dirilis pada hari ini, 31 Oktober 2025 di seluruh platform digital, bersama dengan video musiknya akan tayang di kanal Geronimo Records serta official kanal Youtube milik mereka. Visualnya sederhana namun sarat maknanya memperkuat pesan bahwa musik berkualitas dan persahabatan sejati akan selalu hidup di hati siapapun yang mendengarkan. Congratulations! (INQ)

Knucklechain dan Monumen Amarah Bernama "A King to Nothing"

Categories: Music

Share
Bayangkan sebuah palu godam yang diayunkan tepat ke telinga bersamaan dengan kebisingan mesin chainsaw industri yang menggilas besi tua dibungkus kuat kemarahan yang begitu personal sambil bergoyang two step ala sentimental Groovy Beatdown Hardcore. Seperti itulah kira-kira pengalaman pertamamu ketika mendengar debut album Knucklechain, "A King to Nothing".

Knucklechain, unit metallic hardcore beatdown asal Yogyakarta ini tidak main-main dalam menggarap album debutnya. Setelah sekian lama bergaung di bawah tanah, mereka akhirnya meluncurkan album perdana yang bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan sebuah manifesto. Sebuah album penuh teriakan ditengah pesta pora kehancuran dunia.

Album yang diproduseri oleh Bugis Putra punya premis yang ambisius yakni sebuah refleksi tentang manusia yang diberi mandat sebagai "penguasa" di bumi, tapi justru menjadikannya puing-puing tanpa masa depan. Kita adalah raja sebenarnya yang tak punya kerajaan, pemimpin yang gagal memimpin dirinya sendiri dan rakyatnya.  "A King to Nothing" adalah judul yang sinis dan pas.

Secara musikal, Knucklechain tidak menawarkan kompromi dan memang sengaja album ini dirancang untuk menghancurkan. Riff gitar Aziz dan Reza berat, kotor, dan menggerus seperti gerinda tanpa ampun. Betotan Bass Priayang berpacu dengan gebukan drum Andjas cepat, tajam, dan meledak-ledak bagai rentetan tembakan. Dan di atas semua itu, ada vokal Bintang yang bukan sekadar menyanyi, melainkan meneriakkan mantra-mantra keputusasaan. Suaranya mencabik, penuh sakit, seolah ia adalah juru bicara dari semua kekecewaan yang terpendam.

Lagu seperti "Bring you to hell" yang menampilkan Nvndtgr adalah puncak dari kemarahan itu.  Bagaikan kutukan yang dilantangkan langsung untuk para penguasa dan penindas. 

Namun, dibalik teriakan itu ada sebuah pengakuan yang jujur seperti yang tersirat dalam press releasenya, kemarahan ini bukan hanya untuk "mereka", tapi juga untuk "kita", untuk "aku", dan untuk diri Knucklechain sendiri. Ada elemen introspeksi yang membuat amarah mereka terasa lebih dalam dan tidak sekadar latah pada album ini.

Menariknya, Knucklechain tidak hanya merilis album. Mereka langsung membungkusnya dengan tur promo bertajuk, "90° FATAL OVERHEAT". Sebuah tema perjalanan yang menggambarkan situasi dimana mesin-mesin kemanusiaan yang sudah kegerahan dan bersiap untuk meledak!!! Jadwal tur mereka akan menjangkau Jakarta hingga Bali, dari Oktober hingga Desember 2025 adalah bukti keseriusan Knucklechain membawa "monumen amarah" ini langsung kehadapan penikmatnya. 

Bayangkan kekacauan dan kebrutalan di lantai moshpit ketika lagu-lagu ini mulai bergema keras. Karena itu bukan lagi sekadar panggung, melainkan sebuah ruang emosi diantara celah kegelapan.

"A King to Nothing" adalah album untuk mereka yang pernah merasa muak, frustasi, dan terasingkan di dunianya sendiri. Knucklechain berhasil mengubah perasaan-perasaan negatif itu menjadi 9 tracks lagu penuh energi yang jujur, brutal tapi agak mengerikan.

Pada akhirnya, album ini adalah pengingat dibalik segala ilusi kuasa dan kontrol kita semua, pada akhirnya, hanyalah A King to Nothing

Overall, Knucklechain berani membisikkan distorsi keras ke telinga kita. Hellyeah!

"A King to Nothing" sudah dapat di-streaming di Spotify. Ikuti perjalanan chaos mereka di Instagram @knucklechain__  Congratulations! (INQ)