T0rch Dan Api-Api Kecil Yang Terus Menyala

Categories: Music

Share
Di tengah sesaknya era musik digital yang serba instan yang diproduksi masif dalam industri kapitalis, tampak percikan cahaya atau api-api kecil yang perlahan menyala dari sebuah kamar tidur di Karawang—t0rch. Proyek solo dari Desta Ericksen ini bukan sekadar upaya berkarya; ia adalah teriakan emosional, suara dari alam bawah sadar yang tak selalu sanggup diartikulasikan secara verbal. 

Sejak awal 2024, Desta mulai merekam dan memproduseri musiknya sendiri secara home recording. Tak ada studio mewah, tak ada tim produksi besar—hanya ia, gitarnya, dan luapan perasaan yang deras mengalir.

Pada 7 Maret 2025, t0rch merilis single ketiganya “monoceros” menandai kelanjutan dari “Murcot” dan “spytheirmind” yang dirilis sebelumnya pada 18 Maret dan 15 Juni 2024. “monoceros” adalah hasil dari pertemuan tak sengaja antara inspirasi dan momen keseharian yang ringan.

“Nada vokalnya aku temuin waktu lagi motongin kuku,” ujar Desta, mengingat siang hari tanggal 13 Mei 2023. 

“Aku sempetin rekam walaupun liriknya belum ada dan masih pake bahasa nyamuk.” 

Keintiman seperti inilah yang menjadi napas dari proyek ini. Mengalir tanpa paksaan, lahir dari kehidupan sehari-hari, dan tumbuh menjadi suatu cerita dari sebuah ruang—kamar.

Secara musikal, t0rch adalah midwest emo/dreampop yang lantunkan personal. Di atas panggung, Desta berdiri sendiri pun memainkan gitar, vokal, dan sequencer. Kadang ditemani Tama menabuh dram membentuk percikan api-api yang rapuh. Ia menggambarkan proyek ini sebagai “obor yang kamu pake ketika kamu lagi hilang arah dan nuntun kamu buat balik ke musik.” t0rch bukan hanya representasi musik yang artsy, ia adalah “echo, not just butterflies” yaitu sebuah perasaan yang menggema dan tak lekang oleh waktu.

Dalam proses kreatifnya, Desta mengandalkan referensi dari band-band midwest emo seperti Tiny Moving Parts, American Football, Hot Mulligan, dan Free Throw. Namun, semua pengaruh itu tidak serta-merta dijiplak.

 “Pas produksi itu tuh undersubstance aja keluar sendirinya,” katanya. 

Riakan kecil yang berkembang secara naluri untuk menyembuhkan diri sendiri.

Dari tiga lagu yang telah dirilis, tidak ada yang lebih menantang dari yang lain, karena masing-masing punya roh dan cerita tersendiri.

“Musik punya nyawa soalnya. Nanti takutnya dia masuk ke mimpi aku terus bawa piso buat nusuk kan serem,” candanya. 

Bagi Desta, menulis dan merekam lagu adalah proses yang menyerupai membuat film—ia adalah sutradara, produser, sekaligus aktornya. Nggak heran bila tiap lagu terasa sinematik mengantar kita kedalam sebuah ruang dengan alur cerita yang sulit diceritakan langsung.

Di luar t0rch, Desta juga dikenal sebagai frontman dan pendiri band rock Lingkar Cendala, yang telah merilis satu EP Manifesto Alegori Cendala dan beberapa single seperti Danawa (2024), Catastrophe (2024), dan Suspiria (2025). Inilah sisi t0rch yang berbeda—lebih hening, lebih rapuh, dan lebih menyentuh.

Kabarnya t0rch tengah menyiapkan mini album berisi tiga lagu baru yait “iwannabeadored”, i’mtryingtoescapethisendlesspaibutyourmemorywhisperlikeaburningpain”, dan “whoeasiesmynervoussystem?”. Semua ini adalah kelanjutan dari rekam jejak yang dimulai lewat “murcot, “spytheirmind, dan ”monoceros”.

Ketika ditanya soal rencana ke depan, Desta hanya menjawab “plan = pain.” Rencana, baginya, adalah akar dari rasa sakit, karena ekspektasi seringkali membawa kecewa. Maka ia memilih untuk mengalir saja tanpa paksaan. 

“Bikin atau merekam musik itu adalah bentuk nyata dari kesaksian setiap perasaan aku. Itu bakal jadi legacy sampe kapanpun,” ujarnya sekaligus mengakhiri pertanyaan segambreng dari tim BVCKLE SMIGGLE.

Di poros dunia yang berjalan terlalu cepat, terlalu kejam, dan racau kita butuh obor yang walaupun kecil ia menghangatkan dan sanggup menuntun kita pulang, menjauhkan diri dari sebuah sisi buruk juga kepalsuan. (INQ)

Sandstorm Of Youth Membawa Suasana Kembali Ke Era Flower Generation Lewat Album "Flying Colors"

Categories: Music

Share
Band asal Jogjakarta, Sandstorm Of Youth (SOY) akhirnya merilis album Studio debut mereka pada tanggal 12 April 2025 (secara fisik) & 25 April 2025 di seluruh digital platform, sebelumnya 7 materi track yang ada di album "Flying Colors" juga sempat dirilis secara live dengan tajuk "Ready, Set, Flight!" Pada 25 Desember tahun lalu.
Band yang beranggotakan Aamaga (gitar, vokal), Agripa (vokal), Sukmo (vokal), Yoga (gitar), Reynaldo Daniel (bas), Bima (Synth, piano) & Dary (drum) ini menyajikan konsep musik SOY dengan cara yang unik. "Sebetulnya konsep musik ini tetep reggae sih. Tapi gak cuma reggae tapi apa ya.....tradisional? gak reggae yang mentok gitu. inspired nya dari reggae aussie sih, yang beat nya reggae tapi ada campuran psikedelik, pop, bahkan rock juga mungkin ya? misalkan soul/rnb kami dengerin, Jacob Collier & Alicia Keys gitu jadi mungkin terpengaruh dari sana sedikit kali ya. terus memang arranger dulunya kental di blues sih dan sebutan RnB alias reggae and blues itu awalnya asbun ku aja wkakkaka kaya "kita bukan "rhythm and blues" tapi "reggae and blues" ini mah karna mainin reggae tapi ada blues nya dikit. tapi anak-anak malah ketawa terus kaya "ya juga ya" jadi ya udahlah sekalian aja." ucap Agripa sang vokalis.

Album Flying Colors: 13 Track Tentang Pengalaman SOY di Masa Lalu 

Album ini menyuguhkan 13 lagu seperti "Utopian Rite", "Surreal Journey to Unveil", "Sabbe Satta Bhavantu Sukitatta", "Crystal Vision", "Lost in the Labyrinth", "Down Under Sky", "Liquid Fire", "Walzy Scuffle", "Mind's Prison", "Gravity's Pull", "Monoculture" dan diakhiri dengan lagu pamungkas "Flying Colors." Kegelisahan, kesalahan bahkan kecerobohan di masa lalu menjadi salah satu bahan bakar utama untuk album ini. Penyesalan datang bertubi-tubi tentang bagaimana mereka mengeksplorasi masa muda serta semangat ambisi mereka dengan alasan mencari jati diri. Bahkan album "Flying Colors" menjadi monumen untuk mewarnai hari ini, atau besok agar menjadi lebih baik, juga sebagai pengingat agar tidak jatuh ke dalam kesalahan yang sama.

Membawa Pendengar Kembali ke Era Flower Generation 

SOY sungguh menyajikan album yang menarik, dengan reggae sebagai musik dasar, serta menyuguhkan soul, blues, & psychedelic rock sehingga membuat para pendengar serasa kembali ke era Flower Generation dimana festival Woodstock 69' diadakan. Album ini digarap di Catpaws Lab, serta melibatkan orang-orang dibalik layar seperti Muhammad Ramadhan Tegar Aji sebagai artwork designer, Luqman M sebagai layout director, Alfian Widi sebagai DoP, serta Inamul Hasan, Kemal Fadillah, dan Hasan Eko sebagai tim produksi. Tak lupa juga sesion player Haryo Gumilang pada trombone & para kolaborator Daniel Ryan (saxophone di lagu "Walzy Scuffle"), Paulus Neo (Keys di lagu "Liquid Fire") & Yohanes Saptanugraha (gitar pada lagu "Monoculture")
Gimana guys Yoman Gak Iki?! walaupun terdengar RnB tapi tetep Yoman kan? (RCAF)

Nyanyian Untuk Alam Yang Terluka, Electric Bird Rilis Single “Aurora”

Categories: Music

Share
Grup garage rock asal Surabaya, Electric Bird, kembali menyeruak lewat single terbarunya, “Aurora”—sebuah amunisi awal dari album penuh kedua mereka yang bertajuk “Odyssey”. Tak sekadar dentuman distorsi dan vokal menggeram, lagu ini menjadi manifestasi keresahan kolektif akan luka-luka bumi yang terus menganga.

Dalam “Aurora”, Electric Bird merangkai kegelisahan akan kerusakan lingkungan yang tak lagi bisa ditepis. Nuansa apokaliptik dibalut dalam progresi garage yang kotor dan emosional, menyeret pendengar ke dalam lanskap distopia yang dibentuk oleh keserakahan manusia—termasuk mereka yang berdiri di pucuk kekuasaan namun memilih diam.

Lebih dari sekadar rilisan baru, “Aurora” terdengar seperti peringatan dini yang tak ingin lagi disampaikan dengan halus. Ini adalah jeritan lantang dari sudut Surabaya, yang menolak tunduk pada kehancuran yang dianggap normal.

Dalam liriknya, single "Aurora" menggunakan bahasa ironi untuk menceritakan keindahan alam yang terus digerus oleh kepentingan tertentu. Menariknya, ini adalah lagu pertama Electric Bird yang ditulis dalam bahasa Indonesia.

Dengan langkah ini, unit yang digawangi oleh Vicky (gitar) dan Dafa (gitar) dan Danu (bass/vokal) ini  berharap pesan yang diusung dalam lirik dapat tersampaikan lebih dekat ke hati para pendengar.  

Proses Kreatif dan Eksplorasi Baru

Proses kreatif dalam pembuatan "Aurora" sarat akan eksplorasi musikalitas baru. Vicky dan Dafa yang tengah berada dalam fase eksplorasi ambience gitar, menghadirkan pengaruh besar pada pengisian gitar, sound, dan karakter baru dalam lagu ini. 

"Kebiasaan mengeksplorasi sound memberikan identitas segar yang benar-benar terasa di 'Aurora'," ungkap Vicky.

Sementara itu, Danu mengaku menghadapi tantangan baru dalam menulis lirik berbahasa Indonesia. Pasalnya, selama ini Electric Bird selalu menggunakan bahasa Inggris dalam lagu mereka. 

"Proses ini cukup menantang, tetapi memberikan banyak ruang eksplorasi, baik secara lirik maupun musik," tutur Danu.  

Kehadiran produser Julio Mulya juga memberikan perspektif baru bagi Electric Bird. Julio membawa nuansa akustik, ambience, hingga tambahan synth dan notasi yang menyempurnakan dinamika lagu. Danu bilang, Julio berhasil memberikan sentuhan yang memperkaya isian gitar dan atmosfer keseluruhan lagu.

Tim Kreatif di Balik "Aurora"

Single "Aurora" ditulis oleh Rahmana Wiradanu dan Vicky Aslam, dengan lirik oleh Danu. Lagu ini diproduseri oleh Julio Mulya, sementara proses mixing dan mastering ditangani oleh Prasimansyah. Hasilnya, kolaborasi ini menciptakan sebuah karya penuh energi dengan vibrasi pesan yang menyentuh.  

Tentang Electric Bird

Dibentuk di Surabaya, Electric Bird dikenal dengan genre garage rock. Band ini memulai kariernya dengan perilisan album debut mereka, "Stings You Hard" yang dilepas pada 2019. Setelah mengalami beberapa pergantian personel, terutama di posisi drum, formasi saat ini terdiri dari Danu, Vicky, dan Dafa, yang tengah fokus mengeksplorasi sound dan ambience baru untuk album kedua mereka, "Odyssey".  

Diskografi Electric Bird

- Wardogs (2018)  
- Stings You Hard (Album, 2019)  
- Shut It Out (Single, 2021)  
- Broken Heart Youth (Single, 2021)  
- Sixx (Single, 2022)  
- Electrichestra (EP, 2023)  
- Sious (Single, 2024)  
- Aurora (Single, 2024)  

Ketika suara protes tak lagi cukup, “Aurora” memilih menjadi gema yang siap mengguncan, alih-alih katanya suara musisi lebih didengar. Dengarkan nyanyian untuk alam yang terluka dari Electric Bird yang siap getarkan platform digital favoritmu! (INQ)