Band Punk DT09 Siarkan Kabar Perilisan Album Kedua Bertajuk “ASA”

Categories: Music

Share
DT09 Band yang terbentuk sejak tahun 2005. Terdiri dari, Rian (vocal), Marday (gitar), Syami (gitar), Dotro (bass) dan Tio (drum).

Berbeda dengan album pertama mereka yang mengangkat tema tentang sepak bola dengan semangat ultras supporter, namun album "ASA" lebih membahas soal isu sosial, cita-cita & harapan, kehidupan sehari-hari hingga perjuangan kelas pekerja. Seperti contoh dalam lagu "Soerja" yang ditulis oleh Syami dan didedikasikan untuk ayahnya. Syami juga mengatakan bahwa ini adalah doa dari saya yang belum bisa menjadi apa-apa, ini adalah doa untuk ayah saya, semoga selalu disehatkan dan diberkahi, judul “Soerja” juga diambil dari nama bapa saya “Suryaman” namun dijadikan ejaan lama, akhirnya keluarlah judul “Soerja” atau Surya (matahari) yang merupakan sumber cahaya alami utama untuk menerangi Bumi dan memberikan energi untuk kehidupan dibumi ini.

Album kedua ini berisi 10 lagu, selain itu DT09 juga berkolaborasi dengan Mustika Kamal (Last Goal Party & Billfold) di lagu "Serasa Sebendera" dan Dave Syauta (The Paps) di lagu "Oi Rudie".

Album ASA sudah resmi rilis pada 19 April 2025 di seluruh platform digital. Punk not dead! (INQ)

EVERYDAY NABATI Luncurkan EP Perdana Bertajuk “Ameliorasi”, Tumpahkan Keresahan Realitas

Categories: Music

Share

Dari kedalaman Bantul, Yogyakarta sebuah band yang diam-diam menyimpan potensi melalui resonansi radikalnya, Everyday Nabati band yang kini berdiri lebih tegap dengan EP perdana mereka bertajuk “Ameliorasi”. Lima trek yang berisi keresahan terhadap realitas kehidupan, ditarik dari kisah pribadi dan kolektif kemudian menjelma menjadi sebuah metamorfosa sonik. Dirilis dengan gagah pada tanggal 11 Februari 2025.

Makna Ameliorasi dan Sebuah Langkah Baru

Bak sebuah pondasi, band ini menyusun kerangka lama dan merakit ulang dirinya. Setelah dua single awal “Munafik” dan “Sesal” yang masih mencari arah, EP ini hadir seperti vibrasi dan semangat baru. Disinilah mereka menemukan nadir dalam lima lagu yang tajam secara emosional dan lebih agresif secara musikal. Ada “Petarung” dengan kisahnya melawan dunia, “Pesta Pertemanan” yang kental dengan punk rawk-nya, “Harapan Baru” tone nada yg sedikit rintik namun memiliki lirik yang mengajak untuk tetap berdiri di kaki sendiri, sesulit apapun itu. Untuk lagu “Melambung Tinggi” berisi keluhan tentang harga yang saat ini melambung tinggi. Dan lagu terakhir “Terbit” yang segar dengan melodik punknya.

Mereka tak menyuapi pendengar dengan formulasi pop punk manis ala MTV. Yang mereka bawa adalah gabungan raw energy dan disonansi khas Japanese pop punk, lalu ditarik lebih dalam oleh atmosfer emo dan diberi semburan melodi heavy punk rock. Hasilnya? Sebuah soundscape yang masih jarang terdengar di belantara musik Indonesia, namun memiliki peluang besar bagi para pendengar musik yang memiliki punk rock taste yang kuat.

Ada sedikit sentuhan Totalfat, nuansa getir seperti Ling Tosite Sigure, dan melodik yang resisten dari The Used atau Silverstein. Tetapi dikemas lebih otentik ala-ala band melodik punk lokal.

Formasi Baru, Energi Baru

Dengan formasi terbaru Nibras (vokal), Alfian (bass), Rangga (lead guitar), Dimboy (rhythm guitar), dan Arya (drum), Everyday Nabati seperti menemukan nyawa baru. Vokal Nibras tak hanya sebatas pembawa lagu berbalut suara, ia gelorakan berapi-api. Sementara permainan gitar Rangga dan Dimboy yang tetap selaras dan harmoni dengan riff-riff kasarnya, disambut dentuman ritmis Arya yang agresif. Lalu peran Alfian menjaga dinamika dan karakter beat lagu, tepat sebagai pelengkap.

“Ameliorasi” bukan hanya sekedar EP. Ia adalah sebuah langkah awal dari sebuah proses. Everyday Nabati bukan band yang hanya serta-merta hadir di kerumunan padatnya industri musik, keresahan mereka ingin didengar dan tersampaikan. Tidak menjual fantasi, tapi mengajak berdamai dengan kenyataan. Dan di masa ketika segalanya serba cepat dan mahal, kejujuran adalah bentuk radikalisme paling murni.

Dengarkan “Ameliorasi” di Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan biarkan ia menjadi soundtrack yang menemani beban realitas yang sedang kau peluk diam-diam. (INQ)

Tetap Independen, Iksan Skuter Gaungkan Perlawanan Dengan Album Terbaru “Vis A Vis”

Categories: Music

Share
Iksan Skuter kembali hadir dan tetap menyuarakan musik perlawanan di jalur independen, jalan yang sunyi yang berani ia jalani layaknya "Serigala Petarung", sebutan yang disematkan oleh dia sendiri. Memasuki album ke-20 (16 full album + 4 album live) album, Iksan Skuter hadir dengan album “Vis a Vis” yang dirilis pada 7 Maret 2025 lalu.

Album ini lahir dari kegelisahan dan kemarahan terhadap ketimpangan serta ketidakadilan yang semakin eksplisit dan terang-terangan terjadi di negeri ini. Idiom “vis a vis” yang berarti face to face atau saling berhadapan muka ini sudah cukup menjelaskan kalo ketimpangan dan ketidakadilan ini terjadi langsung di depan muka semua rakyat negeri ini.

Alih-alih membawa optimisme, ketimpangan yang semakin kasat mata justru membuat keadaan negara semakin gelap hingga muncul hashtag #indonesiagelap di media sosial. Iksan Skuter mempersiapkan 11 lagu untuk gaungkan kegelisahan dan kemarahan tersebut, terhadap kondisi Indonesia saat ini.

Ber'GUMAM' Mewakili Vis A Vis 

Sebagai single andalan, "Gumam" menjadi representasi utama dari album “Vis a Vis”. Lagu ini mengangkat fenomena pembungkaman kritik dalam berbagai bentuk, baik secara halus maupun kasar, mulai dari intimidasi hingga strategi elit dengan memberikan posisi yang dekat dengan pemerintahan agar lebih mudah diawasi. Dengan nuansa yang lebih segar dan cenderung rock, "Gumam" dibuka dengan intro sederhana yang hanya diisi oleh sequencer dan vokal, menggambarkan kondisi Indonesia yang sunyi dan suram, di mana hanya segelintir orang yang berani bersuara terang-terangan.

Saat verse pertama dimulai dengan lirik "infiltrasi menyusupi", setelah baris terakhir intro "itulah kenyataan politik jadi tunggangan" dan "itulah kenyataan pemuja keserakahan", lagu ini seakan menegaskan bahwa suara-suara yang melawan kesunyian mampu menggebrak ketidakadilan. Synth bass ber-arpeggio yang terus bergerak menghadirkan nuansa gelombang yang mencerminkan suara-suara perlawanan yang semakin lantang. Dengan sentuhan indie rock dan synth rock, Iksan Skuter tetap setia menyuarakan ketidakadilan dan kebobrokan negeri, sembari tetap mengikuti perkembangan zaman. "Gumam" menjadi simbol bahwa satu suara yang terkumpul dapat mendisrupsi upaya pelemahan kekuatan rakyat.

Proses Kreatif Yang Kilat

Proses produksi album “Vis a Vis” terbilang singkat, dilakukan selama Januari 2025 di kediaman Iksan Skuter di Yogyakarta. Album ini direkam dan diproduseri sendiri olehnya, sementara proses mixing dan mastering dikerjakan oleh Rama Studio Project di Kota Malang.

"Proses rekaman aku kerjakan sendiri, dan relatif cepat selesai kalau tangan sendiri yang memainkan instrumen dan merekamnya. Kalau masalah efisiensi, memangnya pemerintah saja yang bisa efisiensi? Kami musisi yang hidup di Indonesia ya sudah lebih dulu dan lebih lama efisiensi dalam produksi," ujar Iksan Skuter dengan gaya khasnya.

Dengan album “Vis a Vis”, Iksan Skuter kembali mengukuhkan dirinya sebagai musisi yang tak hanya meracik melodi, tetapi juga tetap lantang dalam menyuarakan kritik sosial. Perilisan album ini juga di sela-sela produksi bersama proyek band terbarunya Bagava baru saja rilis album Klandestin dan lepas tur "Safari Ramadhan" bersama Trio Lesehan yang dibentuknya bersama Jason Ranti dan Bagus Dwi Danto.

Simak Album “Vis a Vis” yang funky, telah beredar disetiap platform kesayanganmu! Congratulation! (INQ)