Setelah merilis “Dumb Ass Pop Song” yang menjadi single sorotan pada akhir tahun lalu, kuartet emogaze asal Bali, Milledenials, kembali hadir dengan single terbaru mereka berjudul “Daisies.”
Lagu ini resmi dirilis oleh Silver Records pada Jumat (24/1) lalu sebagai bagian dari rangkaian menuju album mini It’s Terrifying and It’s a Shame yang dijadwalkan meluncur bulan Februari ini.
Band yang digawangi oleh Nadya Narita (vokal), Made Krisna (gitar dan vokal), Billy Sukmono (bass), dan Bagus Aditya (gitar) ini mempersembahkan “Daisies” sebagai eksplorasi emosional yang berbeda dari materi sebelumnya. Kali ini, tema kebingungan dan kesendirian menjadi inti cerita.
“Lagu ini bercerita tentang kebingungan individu yang merasa dirinya terjebak di tempat yang sama, seolah hidupnya tidak berwarna,” jelas Made Aditya dalam rilis yang diterima bvcklesmiggle.com pada Minggu (09/2/2025).
“Individu itu merasa capek dengan sekelilingnya dan berharap fase ini akan segera berakhir. Ia berharap ada seseorang yang bisa menyelamatkannya dari kesendirian dan kebingungann,” sambung Made.
Yang menarik, peran vokalis utama dalam lagu ini berpindah dari Nadya Narita ke Made Krisna setelah melalui beberapa kali proses jamming.
“Awalnya, lagu ini direncanakan dinyanyikan oleh Nadya,” kata Made.
“Tapi setelah beberapa kali kami coba, Nadya merasa ada bagian yang kurang cocok dengan suaranya. Ia kemudian mengusulkan agar saya yang menyanyikan lagu ini. Di akhir lagu, kami menambahkan harmoni vokal Nadya dan Bagus untuk melengkapinya.”
Dari segi musikalitas, “Daisies” menampilkan eksplorasi baru Milledenials. Terinspirasi oleh ragam musik slowcore dan shoegaze, lagu ini lahir dari tulisan yang dibuat setelah tur ketiga band tersebut.
“Kami mulai dengan merespons tulisan itu menggunakan gitar, lalu perlahan melibatkan alat musik lainnya,” tambah Made.
“Ini adalah kesempatan bagi kami untuk mengeksplorasi genre yang belum pernah kami coba sebelumnya.”
Selain perilisan single ini, Milledenials juga tengah mempersiapkan berbagai aktivitas promosi untuk EP terbaru mereka.
“Untuk promosi, kami akan meluncurkan beberapa merchandise eksklusif yang berkaitan dengan EP It’s Terrifying and It’s a Shame. Jadi, tunggu saja kejutan-kejutan kami berikutnya,” ungkap Bagus Aditya.
Salah satu kabar terbaru dari Millidenials yang mengejutkan adalah mereka satu-satunya line up asal Indonesia yang bakal manggung di Primavera Sound 2025 di Barcelona. Congratulation Jons!
“Daisies” kini sudah bisa dinikmati di berbagai layanan musik streaming seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music. (INQ)
Comments
Teenage Death Star Rilis Album Baru Usai Tujuh Belas Tahun, Kolaborasi Dengan Dua Belas Musisi
Skill is dead, Let's Rock!!! — Begitulah jargon yang mengaum dari grup band circus punk rock asal Bandung, Teenage Death Star (TDS) yang sejak 2028 berkiprah cukup lama di kancah musik Indonesia.
TDS dibentuk oleh sekelompok anak-anak muda nyeleneh dan jenius yang terdiri dari Sir Dandy (Vocal), Alvin (Guitar), Helvi (Guitar), Satria NB (Bass), dan Firman (Drum). Lima punggawa ini menyatukan hasrat bermusik mereka di bawah bendera Macan Purba sebagai Ikon dari TDS yang liar dan buas.
Dengan jargon Skill Is Dead, Teenage Death Star menawarkan pertunjukan visual ganas daripada kemampuan musik yang hebat layaknya The Beatles, Dream Theater ataupun Led Zeppelin.
Sebuah Masterpiece Dengan Konsep Brilian
Album yang bertajuk “Thunder Boarding School” menyuguhkan sesuatu yang unik, dimana TDS dengan jeniusnya mengajak 12 musisi tanah air dengan 12 gaya bebas masing-masing.
Kepada tim BVCKLE SMIGGLE Sir Dandy menceritakan tentang proses kreatif saat menggarap album ini.
"TDS cuman buat musiknya aja lalu ada 12 vokalis, mereka mengisi lirik & vokal di album ini," ungkap vokalis liar tersebut.
Sepanjang Januari, album ini diawali dengan single "Drakilla" dan ditutup pada penghujung bulan dengan single "Wish I Was the One Who' s Driving You Home" menjadikan 12 track album “Thunder Boarding School” resmi beredar dan rilis dibawah naungan Sun Eater & FFWD Records. Bagi Teenage Death Star, band anti-skill yang dikenal dengan konsistensinya dalam tidak merilis apapun selain album pertama "Longway to Nowhere" pada 2008 silam.
Tentu saja ini merupakan rilisan pertama setelah enam belas tahun, pasti punya gebrakan unik tersendiri dengan mengajak 12 musisi dengan latar belakang dan keahlian yang berbeda.
"Konsep ini nampaknya belum pernah ada yang melakukan sebelumnya, lagi pula ini adalah cara untuk menutupi rasa malas kita, (dalam merilis materi baru) effortless tapi hasilnya maksimal." Ujar gitaris Alvin Yunata.
Thunder Boarding School, Punya 12 Murid Dan Dengan 12 Keahlian Berbeda
1. Drakilla (Bergentayangan Di Malam Hari)
Track pembuka Teenage Death Star "Drakilla" membawa suasana baru dengan sentuhan musikalitas yang lebih modern namun tetap mempertahankan identitas & esensi punk rock yang menjadi ciri khas Teenage Death Star. Single ini tercipta dari hasil kolaborasi Teenage Death Star dan Hary Foundation Goodnight Electric.
2. Pesantren Kilat
Di track nomor dua ini TDS mengajak duo punk new wave asal Purbalingga, Sukatani. Ovi aka Twister Angel memanifestasikan kontribusi dengan vocal gaharnya.
3. Good For Your Mental Health
Acin The Panturas turut andil bersuara di track ini, frontman band Surf Rock Jatinangor pride ini memberi warna baru pada lagu ini. Asik yeee.
4. Johnny Anak Sekolahan
Terpandang sebagai vokalis band hardcore punk comedyTabrak Lari, Luthfi Tank Grunge ternyata ikut meramaikan hajatan TDS ini. Emang kalo hajatan besar harus begini sih ya.
5. Cinta Ini Tak Kan Membunuhku
Bila dengan D'Masiv menyanyikan lagu "Cinta Ini Membunuhku", Rian Ekky Pradipta menyanyikan 180° hits D'Masiv itu dengan gaya yang nakal. Semua orang pasti akan kaget, biasanya doi nyanyi melow, di sini si Rian lebih rawk. Goks sih!
6. Pemuda Petir
Ada Dila Lips! yang siap membuat onar di track nomor 6 ini, suara lady punk rock satu ini menyatu banget dengan corak musik TDS ya guys.
7. Kemana Benda Itu Pergi? (Pls Bantu Cariin)
Rapper sekaligus Youtuber asal Jakarta, Davidbeatt turut mengoceh di lagu ini. Wujud punk bisa bergaya bebas.
8. Ride The Lightning Boarding School
Dikenal sebagai BassistPolka Wars, Xandega turut serta bernyanyi di track ini. Xandega juga produktif dengan projek solo nya dance/electronic, keren sih TDS gaet musisi ini.
9. 30
Selain Davidbeatt, TDS juga mengajak rapper Nartok sebagai pengisi lagu urutan ke sembilan ini. Sepertinya rappercapek nyanyi lagu hip-hop ya, akhirnya menginvasi punk rock ala TDS.
10. Cuci Steam Lambung
Refo dan Fauna yang dikenal sebagai musisi pop dengan lirik nyentriknya, kali ini Refo Alpha Ramadhan atau sering dipanggil Refo bergabung dalam hajat besar TDS buat ngisi track ini, bahkan ada suara merdu saxophone juga. Kira-kira Refo habis ngevokalin ini masih nonton Spongebob gak?
11. Persetan, ini Semua Tak Berguna
Muhammad Fadel Afredo Ginting atau biasa dikenal dengan Romantic Echoes dan juga vokalis Pijar, ikut berorasi di track nomor 11 ini. Punk is never dead baby!
12. Wish I Was the One Who' s Driving You Home
Pamungkas, sesuai dengan namanya dia juga mengisi di track pamungkas di album ini guys, biasanya Pamungkas menyanyikan lagu-lagunya dengan gaya storytelling berbahasa Inggris andalannya, tapi di track ini Pamungkas berhasil menjadi ganas menyatukan soul-nya dengan esensi punk rock khas TDS.
Melihat ragam genre dan konsep yang ditawarkan kepada para kolaborator, mungkin wajar untuk mempertanyakan seberapa jauh kebebasan berkreasi yang diberikan TDS kepada seluruh musisi yang terlibat.
"Prosesnya bebas banget, gak ada aturan kalau sama kami," ujar Alvin.
"Kami percaya keadilan bermusik bagi seluruh musisi di Indonesia, jadi bebaskan saja," sahutdrummer Firman Zaenudin ikut menambahkan.
"Thunder Boarding School", dua belas kolaboratif single karya Teenage Death Star bersama dua belas musisi lintas genre sudah bisa didengarkan di seluruh platform digital mulai 31 Januari 2025. Kira-kira kalian suka yang mana? Bingung ya? Satu lagu yang dinyanyikan oleh dua belas musisi dengan freestyle masing-masing emang unik sih. Congratulation untuk Teenage Death Star atas rilis album barunya setelah 17 tahun. Cheers!!! (INQ)
Comments
“Sebelum Merayakan” EP Terbaru Dari For Revenge, Track Utamanya Bertajuk “Menunggu Giliran” Gaet Elsa Japasal
Tepat pertengahan Januari 2025 lalu, for Revenge grup musik rock alternative asal Bandung ini merilis EP terbaru bertajuk “Sebelum merayakan”. Kabarnya yang paling menarik dari EP ini, track utamanya menggaet artis wanita muda, menarik dan multitalenta Elsa Japasal. Tentu saja kehadiran Elsa Japasal yang kerap dikenal dengan Eca akan menjadi pemikat tersendiri di skena juga industri musik. Tidak hanya karakter suara yang ternyata cocok, bagi for Revenge, Elsa Japasal juga memiliki bakat besar di bidang musik.
“Saat ini, Eca merupakan salah satu sosok yang sangat dikenal di generasi sekarang, namun belum banyak yang tahu kalau Eca juga memiliki potensi luar biasa dalam bermusik sehingga kami berniat untuk menggali potensi tersebut dan mengenalkannya kepada masyarakat. Bagi for Revenge, berkolaborasi dengan penyanyi di luar genre kami menjadi tantangan tersendiri yang menarik untuk dicoba,” papar Boniex vokalis for Revenge.
Total ada lima lagu dengan tigaversi akustik dari single mereka sebelumnya, yaitu "Sadrah", “Penyangkalan”, dan “Semula”, ditambah dua lagu baru, yaitu “Menunggu Giliran”, yang menyatukan mereka dengan Elsa Japasal dan “Kala Luka Berpesta”, di mana mereka berduet dengan Wira Nagara.
“Album ini sudah digarap sejak Oktober 2024 dan memakan waktu sekitar tiga bulan. Dengan konsep akustik dan kolaborasi, tantangan kami dalam mengerjakan Sebelum Merayakan adalah lebih ke usaha mencocokkkan karakter for Revenge dengan para kolaborator tersebut. Tapi, selain itu, semua proses berjalan dengan lancar dan siap dinikmati para pencinta musik mulai 18 Januari mendatang,” ungkap Boniex kembali.
“Sebelum Merayakan” terpilih sebagai judul untuk EP akustik kedua for Revenge dan pemilihan tersebut bukan tanpa sebab karena ini akan adalah prolog menuju album kelima mereka ‘Perayaan Patah Hati – Babak 2’ yang akan dirilis setelahnya. Karena ini adalah mini album akustik, maka kelima track yang ada pun memakai aransemen akustik, termasuk dua lagu baru. Selain itu, dua lagu lainnya merupakan kolaborasi.
Salah satu track andalan tentunya yang berjudul “Menunggu Giliran”, yang merupakan hasil kolaborasi mereka dengan Elsa Japasal. Menurut Arief Ismail (gitaris), track ini masih terhubung dengan “Sadrah” dan “Semula” karena merupakan bagian keempat dari tema besar “Stages of Grief” atau “Tahapan Kesedihan”.
“Lagu ‘Menunggu Giliran’ masih memiliki keterkaitan dengan dua single kami sebelumnya yang kali ini mewakili fase Depression (Depresi), tahap saat seseorang kehilangan harapan karena kedukaan yang dialami. Lewat lagu ini, kami menggambarkan kondisi tersebut melalui sudut pandang seseorang yang sedang berada di titik terendah, kehilangan arah, dan tidak tahu harus ke mana. Pada akhirnya, di setiap baitnya, ‘Menunggu Giliran’ seperti menuntun seseorang yang sedang berada di fase tersebut untuk menemukan apa yang tersisa dari suatu keterpurukan.” ungkap Arief lagi.
Berangkat dari karakter atau nuansa lagu “Menunggu Giliran” yang dirasa perlu sentuhan suara perempuan, membuat for Revenge mantap untuk berkolaborasi dengan Elsa Japasal.
“Saat mengerjakan lagu ini untuk album ‘Sebelum Merayakan’ kami merasa bahwa lagu ini terlalu kelam dan perlu suara yang bisa membuatnya terdengar menenangkan. Saat itu, kebetulan, kami pernah melihat dan mendengar Eca bernyanyi di beberapa kesempatan dan merasa bahwa karakter suaranya bisa memberikan warna lain di lagu ini. Ajakan kami untuk berkolaborasi ternyata juga disambut Eca,” ulas Boniex.
Bassist Izha Muhammad jugamenyebutkan bahwa suara Elsa Japasal sangat berpengaruh pada track “Menunggu Giliran”.
“Jika diibaratkan, di lagu ini, bagian Boniex seperti mewakili “Gelap”, sementara Eca mewakili “Terang”. Artinya, for Revenge dan Eca saling mengisi sehingga terciptalah kolaborasi yang menarik.”
Lebih lanjut, Izha juga menceritakan kerja sama dengan Wira Nagara di track selanjutnya, “Kala Luka Berpesta”.
“Kolaborasi berikutnya di album ini adalah ‘Kala Luka Berpesta’ yang datang setelah proses pengerjaan EP ini hampir selesai. Berawal dari Wira yang akan merilis buku ketiga bertajuk ‘Diktiosom Anthophyta’ berisi sajak-sajak tulisannya yang secara benang merah memiliki kesamaan dengan tema pilihan for Revenge saat ini. Akhirnya, kami pun berkolaborasi dengan menuangkan sajak-sajak itu menjadi lagu ‘Kala Luka Berpesta’,” lanjut Izha.
Menurut sang drummer, Archims Pribadi, ini adalah kali kedua for Revenge berkolaborasi dengan Wira Nagara setelah lagu “Perayaan Patah Hati”.
“Hanya saja dalam ‘Kala Luka Berpesta’, kami menyuguhkan nuansa musik yang berbeda. Lirik Boniex dan sajak Wira dibuat saling bersahut-sahutan di lagu ini sehingga menghasilkan keunikan tersendiri. Tidak hanya itu, dari segi mood, lagu ini terdengar lebih kelam.” tuturnya.
Menurut drummernyalagi, jika ditarik satu benang merah, ada pesan khusus yang ingin mereka sampaikan melalui EP ini.
“Intinya, kebahagiaan dan kesedihan selalu berjalan beriringan lewat lagu-lagu yang kami suguhkan. Keduanya adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan. Karena itu, kami berharap mini album akustik ini bisa diterima di telinga khalayak yang lebih luas lagi, sekaligus mengiringi proses kedukaan menuju terpulihkan, bagi siapapun yang mendengarkan,” tutup Archims.
Konsep for Revenge pada EP ini sangatlah matang dan luar biasa menarik. Awal tahun 2025 dirasa pas sebagai momentum for Revenge untuk terus menjaga kobaran panas eksistensinya. Dan bagi tim Bvckle Smiggle mendengarkan “Sebelum Merayakan” adalah cara menikmati luka yang tepat. Dengan aransemen musik minor for Revenge yang selalu memukau, berbalut lirik-lirik indah sebagai bumbu penyedapnya. Tentu saja agar lebih berasa, dengarkansekarang juga album milik mereka di seluruh platform digital favorit kalian. >>yeah<< (INQ)