Akhirnya Pure Saturday Kolab Bareng Rekti “The Sigit” Pada Single Bertajuk “Dry”

Categories: Music

Share
How you spend the time, we spend the same but, How you end up dry”— Penggalan lirik yang menyentuh, seolah mengajak pendengarnya masuk ke dalam sebuah dimensi dengan segudang pertanyaan dikepala. Sangat personal dengan majas yang indah, ciri khas lirik-lirik lagu yang tercipta oleh Rekti “The Sigit” dengan balutan harmoni syahdu namun tetap maskulin khas melodi rintik Pure Saturday.

Sebelumnya kolaborasi Pure Saturday pernah terjadi dikala album “Grey” muncul di tahun 2012, dimana terdapat track yang berjudul "Utopian Dream", dan Rekti berperan sebagai vokalis tamu di lagu yang membawa ke penghayatan yang dalam dengan komposisi musik bernuansa "folk-balad”.

Ternyata bukan sekadar pertemuan ataupun kolaborasi, tetapi juga representasi dari perjalanan panjang persahabatan yang saling menghormati di antara mereka. Rekti, dengan kepekaannya dalam menulis lagu berhasil menyatukan lirik dengan komposisi harmoni yang kaya emosi milik Ade Muir di lanjut dengan harmoni vokal Satria NB, sebuah esesensial khas  milik Pure Saturday.

Definisi Projek Persahabatan 

Perjalanan proses kreatif yang panjang dan berlapis ini diimulai pada tahun 2018 ketika Ade Muir mulai meracik kerangka musiknya, yang awalnya direncanakan sebagai materi lagu untuk single Pure Saturday. Kemudian di lanjut dalam pembuatan liriknya dengan menggandeng Rekti “The Sigit”. Ia juga menambah warna sentuhan vokal rock yang gagah bersama Satria NB pada garapan lagu ini. Dengan harapan kedua karakter vokal yang berbeda dari Satria NB menjadi perekat kolaborasi mereka. 

Projek santai dilanjut pada tahun 2022, yang pada akhirnya lagu ini menjadi berkembang dengan ambient nuansa pop romantis ala tahun 90-an. Dikemas sempurna dengan suara pop-rock milik Satria NB melebur bersama komponen alter ego yang kuat dan berat dari Rekti Yoewono berhasil merangkul lagu ini menuju relung emosional membawa “Dry” semakin bernyawa dan melekat pada persona mereka masing-masing namun tetap mengadopsi elemen romantis pop ala dekade 90-an milik Pure Saturday. Setelah melalui berbagai revisi dan eksplorasi musikal, akhirnya pada tahun 2023, “Dry” memasuki tahap finalisasi sebagai karya yang utuh dan matang hingga tahun 2024. 

“Dry” menghadirkan pengalaman nostalgia bagi para pendengar setia Pure Saturday, sekaligus memberikan dimensi baru yang segar dan memberikan warna yang berbeda, menyatukan energi dari generasi dalam sebuah karya yang indah. Definisi lagu melankolis namun tetap kritis.

Artwork “Dry” dikerjakan oleh Dewi Aditia seorang seniman/pelukis asal Bandung. Artwork ini memiliki visual sebuah makna dari esensi lagu Dry sendiri seperti Pop/Folk-Balad yang berhasil di tuangkan ke dalam kolasi akrilik berwarna dengan sentuhan objek dua ekor burung yang sedang terbang beriringan.

Lagu epik kolaborasi mereka sudah bisa didengar, serentak rilis pada tanggal 24 Januari 2025 di semua platform digital. Sangat cocok mengawali Februari yang masih saja dingin dan acap kali membuat kita termenung. Congrats for that “Dry” dudes! (INQ)

Production Credits:
Executive Producer: Labirin Records
Music Producer: Ade Purnama, Rektivianto Yoewono, Arief Hamdani & Satria Nurbambang
Recording Engineer: Loevi Wahyudi, Sofyan Effendi & Indra Adhikusuma
Mixing Engineer: Loevi Wahyudi & Indra Adhikusuma 
Mastering Engineer: Indra Adhikusuma, Loevi Wahyudi
Protools Editor: Arief Saefudin, Indra Adhikusuma 

Vocals: Rektivianto Yoewono & Satria Nurbambang 
Guitars: Rektivianto Yoewono, Rika Faizal Rezza, Ade Purnama, & Arief Hamdani 
Bass: Ade Purnama 
Drum: Sony Mulyana 
Artwork: Dewi Aditia 
All tracks Recorded, mixed & mastered at Binaural Studio, BandungUp

Setelah Sebelumnya Lepas Dua Single, Iconic Tourist Akhirnya Rilis Album “If There Were A Band At The Opera”

Categories: Music

Share
Grup band rock alternatif dari Cibubur, pada waktu lalu Iconic Tourist memperkenalkan diri ke ranah musik Indonesia lewat dua single bertajuk "Give it to Me" dan "Oh Honey". Lewat keterangan tertulisnya, Jova Rangkuti (vocal/gitar) dan Reno Rendragraha (drum) yang menjadi motor unit ini menjelaskan bahwa dua lagu tersebut merupakan kelanjutan proyek musik Iconic Tourist yang sudah berjalan sejak 2020 silam. 

Dua single tersebut, merupakan bagian dari album "If There Were A Band At The Opera" yang tepat kemarin rilis pada 2 Februari 2025 dan tentunya sudah bisa dinikmati seluruh lagunya di seluruh platform musik resmi milik mereka.

Berisikan 12 lagu dengan dominasi genre alternative dan alternative-rock, karya ini mencampur berbagai warna dan mooduntuk menciptakan nuansa yang abstrak. Diantara genap dua belas lagu matang tersebut tampaknya “Media Madness” menjadi lagu favorite khususnya bagi tim kurasi dari Bvckle Smiggle

"Liriknya lahir dari keresahan dan isi pikiran penulis yang menceritakan tentang kehidupan pribadi sampai kritik sosial. Sementara dari segi musik, album ini cukup mencampur banyak warna dan mood, sehingga menciptakan nuansa yang sedikit abstrak jika didengarkan secara keseluruhan," kata mereka yang diwakilkan oleh Jova.

Dengan riff gitar yang catchy dan latar ambient yang kaya dan easy listening, Jova memulai perjalanan Iconic Tourist dengan menuliskan lagu pertama mereka bertajuk "No One is Going to Know the Difference" pada 2020. Lagu ini, dipasang menjadi semacam benang merah atau warna pertama yang akan menggambarkan genre/mood band tersebut.

Di tahun yang sama, Iconic Tourist kemudian melepas lagu "Too Tired" yang memiliki warna berbeda, tetapi tidak menghilangkan vibe dark  seperti lagu pertama mereka.

Jova dan Reno terus berupaya menjaga eksistensi Iconic Tourist dengan memperkenalkan dua lagu awal mereka. Kerap bergonta-ganti personel, keduanya kemudian menggarap lagu "Oh Honey" yang menjadi terobosan dan semangat baru untuk tetap melanjutkan produksi album ini dengan formasi 2 orang saja.

Baru pada 2023, Jova Rangkuti dan Reno Rendragraha sepakat mendaulat Ananda Viguno untuk mengisi departemen gitar dan Tyo Priohutomo di instrumen bass. Dengan formasi baru ini, Iconic Tourist seolah mendapat gairah baru untuk menyelesaikan materi album mereka.

"Dibanding sebuah pesan, album 'If There Were A Band At The Opera' lebih bisa disimpulkan sebagai wadah untuk menuangkan emosi dan perasaan," ucap Jova Rangkuti dalam keterangannya.

Setelah rilis album, Iconic Tourist juga berencana menggelar showcase pada pertengahan tahun 2025. Showcase ini bertujuan untuk memperkenalkan album baru mereka dan memberikan gambaran energi serta visual mereka secara langsung. Cant wait dudes! (INQ)

Rilisan terbaru Steps Behind, Gone For Meramu Patah Hati Ala Pop Punk!

Categories: Music

Share
Grup musik Steps Behind dari Karawang umumkan siap meramu patah hati ala penggemar genre pop punk melalui lagu terbarunya berjudul “Gone For”. Diracik sangat matang gaya modern pop punk, lagu “Gone For” diakui Steps Behind mengajak pendengarnya mengarungi deru perjalanan kisah romantis yang diselimuti kepahitan.

Band yang terbentuk tahun 2022 ini masih beranggotakan Alessandro W (Vokal), Fakhri Nurluthfi (Vokal dan gitar), M Afrizal (Lead gitar), Bagja Satria (Bass), dan Kandia (Dram) buktikan eksistensi dan keseriusan dalam skena musik dengan terus produktif dalam berkarya.

Fakhri Nurluthfi selaku lead guitar juga peramu musik “Gone For” mengatakan lagu ini mengupas tentang kompleksitas patah hati dan pencarian akan kejelasan dalam sebuah hubungan.

“‘Gone For’ adalah sebuah anthem kuat yang menangkap perasaan ketidakpastian dan kebingungan yang muncul ketika sebuah hubungan tiba-tiba kandas,” ungkap Fakhri kepada tim Bvckle Smiggle

Ia menjelaskan “Gone For” diproduksi mereka sendiri di RFNP Records (@rfnprecords) dari mulai  aransemen, serta mixing dan mastering

“Kita buat lagu ini sangat berbeda dengan gitar yang menghentak, ritme yang kuat ala pop punk dengan dibalut sound yang modern, serta nada - nada yang nge-hook, dan vokal yang siap menyayat hati para pendengar,” jelasnya ungkapkan ketotalitasan Steps Behind dalam penyampaian perasaan mereka dengan vibrasi minor penuh amarah dan kerapuhan perasaan.

Sementara itu, lirik “Gone For” ditulis langsung oleh vokalis Steps Behind sendiri yaitu Alessandro yang menggali pergolakan emosi dalam sebuah hubungan yang telah retak. 

Kalimat - kalimat seperti "You owe me something / At least an explanation / (Without hesitation)" dan "Just where you think you going? / I’d know if you’re gone for good / Or you just gone for?" yang meluruhkan hati juga visualisasikan kerinduan akan jawaban dan perjuangan untuk memahami alasan dibalik kepergian pasangan ataupun teman.

“Gone For" kini telah tersedia di semua platform streaming musik di seluruh platform offical Steps Behind. So, putar “Gone For” sekarang juga dan berpeluklah erat pada iramanya! (INQ)