Suarakan Kesedihan dari Toxic Relationship, Kolaborasi Manusia Aksara dan Widi Vierratale di 'Akhirnya Waktu Memisahkan Aku dan Kamu'

Categories: Music

Share
Jakarta—Menyambut musim yang penuh emosi ini, Manusia Aksara dengan bangga mengumumkan perilisan karya kolaborasi terbarunya yang sangat dinanti-nantikan, "Akhirnya Waktu Memisahkan Aku dan Kamu". Lagu "Akhirnya Waktu Memisahkan Aku dan Kamu" bukan hanya sebuah lagu, melainkan juga sebuah narasi yang ingin disampaikan ke banyak orang tentang keberanian untuk melepaskan diri dari sebuah hubungan yang tidak sehat atau sering kali disebut Toxic Relationship

Di lagu ini Manusia Aksara mengajak Para Manusia dan semua orang untuk berani bersuara agar keluar dari hubungan toxic. Dengan sorotan yang tajam terhadap dinamika hubungan manusia, lagu ini mencerminkan perasaan yang rumit, perpisahan karena kekerasan sering kali bungkam. Lagi lagi, lagu dari Hafizh Weda, sang vokalis disepakati semua personil Manusia Aksara untuk menjadi karya terbaru mereka. Lirik yang sangat on point dan notasi sederhana menjadi khas dari tiap lagu-lagu yang ditulis oleh Weda, sang vokalis. Selain itu, Nicko Prabowo sang drummer untuk ketiga kalinya dipilih untuk menjadi produser. Selain itu kontribusi gitar dari Hendrie kali ini tidak begitu banyak, hanya sedikit mengisi lead dan ambience dan peran besar juga diberikan Jowel Tirta dalam pembungkusan aransemen lagu ini.

Hal unik terjadi. Nama besar Widi Vierratale muncul untuk mengisi lagu terbaru Manusia Aksara. Vokalis ternama dengan karakter vokal yang khas dari band Vierratale, sangat memberikan sentuhan emosional yang unik pada lagu ini. Tentunya karakter vokal Widi sangat berbeda dengan lagu-lagunya di Vierratale. Suara tebal dan tegas begitu terasa pada vokal Widi. Widi juga menceritakan kepada Nicko bahwa lagu ini juga sangat relate dengan pengalaman hidupnya dan Widi juga merasa sangat senang saat tau adiknya berani untuk mengeksplor genre pop yang kurang lebih hampir sama dengan kolam Vierratale.

Widi yang duluan menawarkan konsep ini kepada kita. Dan, waktu itu gue langsung hubungin Weda untuk pemilihan lagu. Karena dia kan yang jadi jagoannya dalam lagu-lagu kita. Terus, Weda langsung kaget dan waktu itu ada dua lagu yang dikasih ke kita” ujar Nicko Prabowo, sang drummer.

Setelah GAZT, project kolaborasi kakak beradik Widi dan Nicko tidak berjalan. Lagu ini menjadi project terbaru mereka dalam konsep kolaborasi yang berbeda. Ini kedua kalinya Manusia Aksara merilis karya dengan konsep kolaborasi. Sebelumnya Manusia Aksara merilis karya kolaborasi dengan Savira Razak di lagu “Semesta Semesta” (Acoustic Version) 

Pas tau Widi mau kolaborasi sama Manusia Aksara, gue langsung shock. Langsung buka Spotify untuk dengerin lagu lagunya Vierratale untuk tau betul kira kira lagu yang kayak apa yang pas sama suara Widi. Terus beberapa kali ketemu Widi untuk ngobrol. Bahkan sebelum single ini rilis. Gue sempet nyanyi bareng Vierratale di salah show mereka di Jakarta. Alhamdulillah, kurang lebih kebayang lagu kolaborasinya akan seperti apa” Kata Weda saat tahu kakak kandung dari Nicko ini mengajak kolaborasi.

Manusia Aksara berharap agar lagu ini dapat mencapai berbagai kalangan, dari berbagai lapisan umur dan latar belakang, sebagai perwakilan dari pengalaman emosional yang universal. Karya ini bukan hanya tentang musik, tetapi juga tentang mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kesehatan emosional dalam setiap hubungan.

Lagu “Akhirnya Waktu Memisahkan Aku dan Kamu” Manusia Aksara featuring Widi Vierratale sudah bisa dinikmati diseluruh portal musik digital. Selamat mendengarkan!

Song Credits:
Song & Lyric : Hafizh Weda
Executive Producer : Manusia Aksara & Widikidiw
Producer : Nicko Prabowo
Vocal : Hafizh Weda & Widy Vierratale
Guitarist : Hendrie Leite
Bassist : Jowel Tirta
Drum, Synth : Nicko Prabowo
Mixing & Mastering : Nicko Prabowo
Recording : Home Studio, Backbeat Studio
Distribution : Musica Studios

Ekspresikan rasa sakit yang sulit hilang, Deathrone rilis single perdana “Silhouette”

Categories: Music

Share
Kabar baik dari Jombang—Deathrone, unit metalcore ini baru aja menghidangkan single perdana mereka. Deathrone band modern metal/metalcore asal Jombang, Jawa Timur. Berikut formasi liar mereka, Mohammad Sugihannur "vocal", Yudysfianda Ramadhani "guitar/vocal", Rayhan Aminanda "guitar", Noefa Tahara "Bass", dan Moh. Yusron Maulana "Drum".

Debut single perdana Deathrone meracik lagu dengan menggabungkan metal modern dengan tekstur sonic yang inovatif, riff-riff yang agresif, vokal melengking, dan elemen-elemen anthemic yang mudah memikat para pendengarnya.

Single perdana bertajuk "Silhouette" tegas mereka memaparkan tentang perasaan kehilangan arah dan lepas kendali diri akibat kesalahan ataupun dosa di masa lalu yang harus terus dirasakannya. Dalam lagu ini, diibaratkan sebagai bayangan gelap, sosok siluet perlahan melahap inangnya kedalam perangkap pusaran kegelapan tanpa dasar. Seperti perasaan yang menyayat dan bekas luka yang tak akan pernah pudar ataupun hilang. 

Memiliki irisan latar belakang personil yang berbeda, mempengaruhi warna musik mereka tersendiri. Band-band metalcore/nu metal hingga posthardcore seperti Architects, Polaris, Beartooth, Thornhill, Wage War juga memberi inspirasi yang sangat signifikan. Hanya melalui dapur rekaman salah satu personil mereka, tidak mengurangi pembuktian kepiawaian band ini dalam menciptakan lagu yang keras namun terselipkan vibrasi melodi yang menawan. Pada proses kreatifnya mixing dan mastering melibatkan Zain Bali. Sedangkan goresan artwork cover mereka menggandeng ilustrator Reyth. Deathrone pun berencana akan menyajikan irisan sequel dari chapter panjang yang berkelanjutan.

Dengarkan Silhouette diberbagai digital streaming platform seperti Spotify, Apple music, Deezer, Joox dan juga kanal Youtube mereka.

Usai Masuk Nominasi AMI Awards 2024, Bless The Knight Rilis Track yang Menyentuh Jiwa

Categories: Music

Share
Jakarta — Bless the Knights pelopor djent di Indonesia, kembali mendistorsi skena Tanah Air! Unit metal asal Jakarta ini baru saja masuk nominasi Artis Metal Terbaik di AMI Awards 2024, sebuah legacy yang penuh haru dan bukti kalau mereka nggak main-main dalam meracik karya. Djent sendiri merupakan subgenre dari metal progresif. Nominasi ini menjadi kali keempat bagi Bless the Knights, setelah sebelumnya diakui di tahun 2016, 2018, dan 2023.

Bukti Konsistensi, Luncurkan Lagu Baru yang makin Ganas

Setelah kabar nominasi ini, Bless the Knights tancap gas merilis track terbaru mereka, “Crying in the Desert”. Track ini adalah buah karya sang gitaris, Fritz Faraday alias Mrfritzfaraday. Dengan groove-groove yang menarik dan interval melodi yang tak terduga membawa pendengar hanyut ditiap nada yang dramatis.

Juga berbarengan dengan rilisan versi instrumental yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Kombinasi palm muting dan staccato memberikan dinamika yang kontras juga tuning rendah menambah kesan djenty pada musiknya.

Makna di Balik "Crying in the Desert" yang Menyentuh Jiwa

Bukan sekadar lagu, “Crying in the Desert” hadir dengan cerita yang relatable. Lagu "Crying in the Desert" mengeksplorasi tema tentang pengorbanan yang tidak dihargai. Cerita di balik lagu ini menggambarkan seseorang yang telah berjuang dan berkorban, tetapi pengorbanan tersebut dianggap remeh oleh orang-orang yang dicintainya. 

Lewat keterangan tertulisnya, Mrfritzfaraday mengungkapkan, "Lagu ini berasal dari pengalaman pribadi dan pengamatan saya terhadap bagaimana pengorbanan sering kali tidak dimengerti atau bahkan diabaikan oleh orang-orang terdekat."

Fritz Faraday: Kunci Keberhasilan Dalam Berkarya

Fritz Faraday, sebagai penggagas utama di balik Bless the Knights, dikenal sebagai penulis lagu yang memiliki reputasi baik. Banyak lagu yang ia ciptakan telah meraih penghargaan, tidak hanya dari AMI Awards tetapi juga berbagai media musik terkemuka.

Fritz menjelaskan, "Kesuksesan saya dalam menciptakan lagu-lagu berkualitas adalah hasil dari dedikasi dan kemauan untuk mendengarkan suara hati serta pengalaman pribadi. Musik adalah cara saya mengekspresikan diri dan berbagi cerita."

Pembicaraan tentang kekuatan musik dan pengaruhnya terhadap pendengar menjadi fokus utama Fritz. "Saya selalu percaya bahwa lagu yang baik dapat berbicara lebih dari sekadar kata-kata. Saat pendengar berhubungan dengan musik kami, itu adalah pengakuan terbesar bagi saya sebagai seorang musisi."

Sinergi Bless the Knights yang Makin Solid dan Kuat!

Bless the Knights terdiri dari Fritz Faraday (gitaris), Cas Coldfire (vokalis), Dongeng (screamer), dan Cukong (drummer). Setiap anggota memiliki power juga karakter yang berbeda, saling melengkapi dalam mengaitkan harmoni merupakan kekuatan disetiap penampilan mereka.

Cas Coldfire, sang vokalis, menambahkan, "Kami memiliki ikatan yang kuat di dalam band ini. Setiap ide dan setiap nada yang diciptakan adalah hasil kolaborasi yang penuh semangat."

Bless the Knights berharap bahwa dengan rilisnya "Crying in the Desert," mereka dapat menjangkau lebih banyak pendengar dan memberikan dampak positif melalui musik mereka.

Dongeng ikut menambahkan pentingnya merangkul tema universal dalam musik mereka. "Kami ingin musik kami dapat diterima oleh semua orang, memberi suara bagi yang tidak terdengar dan menjembatani emosi yang mendalam."

Keep In Touch dengan Bless the Knights!

Buat yang pengen terus update tentang progres mereka, ikuti perjalanan Bless the Knights di Instagram lewat akun @blesstheknights_official dan @theknights.id. Jangan lupa dengerin juga "Crying in the Desert" yang telah rilis di semua platform streaming 24 Oktober 2024, bersama video liriknya di YouTube. Gas dengerin dan rasakan vibe totalitas bikin headbang sekaligus menyentuh jiwa—hellyeah!

https://www.youtube.com/embed/ySrrMVXdbfU