Setahun “Limerence”, Therapy Session Gaungkan EP Akustik “Echoes of Limerence”

Categories: Music

Share
Genap setahun sejak album “Limerence” dirilis, Therapy Session memilih merayakannya dengan cara yang lebih personal. Lewat EP akustik bertajuk “Echoes of Limerence”, mereka menghadirkan versi yang lebih hening dari perjalanan emosional yang telah dilalui. Proyek ini tayang dalam format full session di YouTube bertepatan dengan Hari Valentine dan tersedia di seluruh platform digital sejak 21 Februari 2026 kemarin.

Alih-alih dirayakan dengan gebrakan besar, Therapy Session justru memilih pendekatan yang lebih intim. Naomi menyebut bahwa cinta tak selalu membutuhkan pengakuan dari siapapun. 

“Karena rasa cinta yang sesungguhnya tidak membutuhkan pengakuan dari siapa pun. Cinta tumbuh dari diri sendiri akan pemaknaan dan segala kenangannya,” ujarnya.

EP ini memuat empat lagu yaitu “Candala”, “Misery”, medley “Don’t Let Your Story End / I Let My Heartbreak Again”, serta “Renjana”. Lagu terakhir memiliki ruang khusus karena sempat direncanakan masuk ke album “Limerence”, namun ditunda lantaran belum terasa matang. Kini, “Renjana” hadir sebagai kepingan cerita yang akhirnya menemukan momentum yang tepat.

Reinned menjelaskan bahwa keempat lagu tersebut merupakan fondasi emosional dari proses kreatif album. Kehadiran “Renjana” seakan melengkapi narasi yang sebelumnya belum tuntas.

“Dari penyamaan visi, perombakan personel, hingga dinamika personal yang pasang surut, semuanya terjalin dalam fase ini, lagi-lagu ini tumbuh bersama kami,” ungkapnya.

Secara musikal, format akustik menjadi langkah eksploratif bagi band yang selama ini identik dengan distorsi dan intensitas tinggi. Dalam “Echoes of Limerence”, lapisan distorsi dilepas untuk memberi ruang yang lebih jujur.

Rifki menyebut pendekatan ini sebagai cara merayakan album secara lebih dalam dan mudah diresapi. Naomi menambahkan, 

“Merelakan hal yang selama ini digenggam dengan begitu erat, ternyata harus dilepaskan untuk bisa terbang lebih tinggi.”

Bagian dapur produksi ditangani oleh Hendro Ryan di H.137 Studio. Mengadaptasi lagu-lagu yang awalnya penuh energi menjadi aransemen akustik tentunya bukan perkara mudah. Salah satu momen paling emosional terjadi saat trackingchorus terakhir “Renjana”, ketika seluruh personel menyanyikannya bersama dalam satu frekuensi rasa.

Secara visual, artwork EP ini menampilkan rumah dari era “Limerence” yang terbakar merupakan simbol perpisahan sekaligus transisi untuk fase selanjutnya. Naomi menggambarkannya sebagai metafora kehilangan yang tak terhindarkan. Namun lebih dari itu, visual tersebut menjadi simbol keberanian untuk meninggalkan ruang lama demi membuka babak baru.

 “Ini perayaan satu tahun yang masih akan berkembang, sekaligus gerbang menuju perjalanan berikutnya,” tutup Men.

Meski album baru belum digarap secara resmi, proses pengumpulan referensi dan brainstorming materi telah dimulai. Lewat “Echoes of Limerence”, Therapy Session menghidupkan kembali gaungnya yang lebih intim, lebih matang, dan siap melangkah menuju fase ganas selanjutnya. (INQ)

“Perfidious” Gugatan REIWA Atas Pengkhianatan Sang Pengendali Kuasa

Categories: Music

Share
REIWA kembali menegaskan sikapnya lewat single terbaru bertajuk “Perfidious.” Sebuah judul yang diambil dari istilah dalam kamus Oxford yang berarti “pengkhianat”. Ditangan Reiwa, kata ini menjelma menjadi simbol kemarahan kolektif atas kepercayaan yang dirusak oleh mereka yang memegang kendali kuasa.

Lewat “Perfidious”, Reiwa memotret sosok pemegang mandat yang justru mencederai amanahnya. Lagu ini menjadi refleksi atas figur-figur yang secara sistematis melakukan kelalaian berulang yang pada akhirnya pengkhianatan terasa seperti rutinitas yang dinormalisasi. Dalam fenomena sosial yang sarat kompromi, Reiwa memilih untuk tidak diam.

Secara atmosfer, “Perfidious” dibangun dengan nuansa geram sekaligus muram. Emosi yang mengendap terasa seperti bara yang siap menyala lewat pesan yang cukup jelas mereka utarakan, bahwasanya kekuasaan tanpa integritas adalah ancaman.

Menariknya, di balik kemarahan yang lugas, lagu ini tetap menyisakan ruang harapan. 

“Kami percaya bahwa perlawanan yang tumbuh dari solidaritas adalah fondasi yang mampu meruntuhkan kekuasaan para pengkhianat,” tegas Reiwa.

Mereka percaya bahwa langkah kebersamaan merupakan fondasi perlawanan. Ketika kesadaran kolektif itu tumbuh, kuasa yang dibangun di atas pengkhianatan pada akhirnya akan runtuh oleh suaranya sendiri.

“Perfidious” juga menjadi pengingat moral, bahwa generasi mendatang layak mewarisi dunia yang lebih jujur dan adil. Karya mereka layak menjadi medium untuk menjaga kewarasan publik.

Melalui rilisan ini, Reiwa mengajak pendengar untuk menjaga bara harapan dan berani mengambil sikap. Single yang menjadi representasi bagi suara-suara yang kerap disisihkan, sekaligus penegasan bahwa perlawanan tak pernah benar-benar kehilangan ruang untuk tumbuh. Kini lagunya sudah bisa didengar diseluruh digital platform musik kesayangan kalian. Bravo!! (INQ)

Menuju Album Perdana, Basajan Menyelami Spiritualitas Sunda Lewat Single Terbaru “Nadoman”

Categories: Music

Share
Unit instrumental eksperimental asal Kabupaten Bandung, Basajan, kembali meluncurkan karya terbaru berjudul “Nadoman”. Dirilis sebagai pijakan awal menuju album penuh perdana mereka, single ini juga hadir dalam rangka menyambut bulan Ramadan dengan membawa pesan kritis yang bersumber dari tradisi tutur masyarakat Jawa Barat.

Secara harfiah, “Nadoman” (atau Nadzom) merupakan tradisi melantunkan bait-bait pujian dan nasihat ajaran agama Islam berbahasa Sunda yang kerap menggema di langgar atau masjid menjelang waktu salat. Bagi Basajan, “Nadoman” merupakan medium renungan budaya yang sarat makna.

Dalam single ini, Basajan menggali estetika “Nadoman” yang identik dengan pola repetisi dan melodi khas Sunda, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa musik mereka yang unik. Tanpa meninggalkan akar tradisinya, “Nadoman” tetap setia pada jalur Priangan Psychedelic Groove yang memadukan ritme enerjik dengan tekstur suara yang luas dan penuh warna.

Basajan memaknai “Nadoman” sebagai pengingat akan resonansi antara manusia, Sang Pencipta, dan alam semesta. Lewat komposisi ini, mereka berupaya menghadirkan ketenangan sekaligus pengalaman transenden ke dalam lantai dansa yang tetap groovy namun liar yang merupakan ciri khas psikedelia.

“Nadoman” menjadi potongan teka-teki berikutnya setelah rilisan-rilisan sebelumnya yang membawa atmosfer mistis, sedangkan “Nadoman” menawarkan lapisan aransemen instrumen yang kian matang dalam meramu musik instrumental yang punya bercerita.

Eksplorasi mereka semakin diperkaya dengan visual artwork garapan Yuri Yeuyanan, yang menerjemahkan getaran spiritual lagu ke dalam estetika grafis selaras dengan konsep album mendatang. Dari sisi produksi, proses mixing dan mastering ditangani oleh Panji Wisnu, dan rilisan ini didistribusikan melalui label Bahasa Ibu Records.

“Nadoman” telah tersedia di berbagai platform musik digital sejak 13 Februari 2026. (INQ)