Lewat “Bumi Menangis (Unplugged)”, MAN SINNER Angkat Isu Banjir dan Krisis Lingkungan

Categories: Music

Share
Grup skatepunk asal Jakarta, Man Sinner, resmi merilis single terbaru mereka bertajuk “Bumi Menangis (Unplugged)” dalam format audio di seluruh platform musik digital pada 9 Februari 2026. Perilisan ini melanjutkan kehadiran video klip yang lebih dulu tayang perdana pada 9 Januari 2026 melalui kanal YouTube resmi mereka.

Single ini lahir sebagai respons atas bencana banjir bandang yang melanda wilayah Sumatra dan Aceh, sekaligus menjadi refleksi atas kondisi krisis lingkungan yang kian mengkhawatirkan di Indonesia. Lewat lagu ini, Man Sinner mencoba menyuarakan kegelisahan sekaligus ajakan untuk lebih peduli terhadap keseimbangan alam.

Berbeda dari karya-karya mereka yang identik dengan tempo cepat dan energi agresif khas skatepunk, “Bumi Menangis (Unplugged)” hadir dengan aransemen akustik yang lebih tenang. Format ini dipilih agar pendengar dapat lebih fokus pada pesan lirik yang disampaikan. Dalam proses kreatifnya, para personel menilai pendekatan unplugged memberi ruang bagi kata-kata untuk berbicara lebih jernih dan menyentuh.

"Format audio di platform digital membuat lagu ini lebih mudah diakses. Kami ingin pesan visual dari video klip tetap kuat, tapi kini pendengar bisa merasakan kedalaman lirik kapan saja lewat musik," ucap para personel Man Sinner dalam keterangan tertulisnya.

Penggarapan lagu ini dilakukan secara spontan setelah mereka menyaksikan langsung dampak bencana yang terjadi. Demi memprioritaskan karya tersebut, jadwal rekaman dua lagu baru yang sebelumnya telah direncanakan pun terpaksa ditunda.

Tak hanya merilis lagu, Man Sinner juga membuka pre-order merchandise “Bumi Menangis (Unplugged)” berupa kaos dengan desain yang selaras dengan pesan lagunya. Kaos tersebut dibanderol seharga Rp110 ribu dan dapat dipesan melalui direct message (DM) akun Instagram @mansinner_official mulai 15 Februari 2026.

Kini, “Bumi Menangis (Unplugged)” sudah dapat dinikmati di berbagai layanan streaming musik digital, sementara video klipnya tetap tersedia di kanal YouTube resmi Man Sinner. Lewat rilisan ini, mereka berharap semakin banyak orang tersadarkan bahwa eksploitasi berlebihan terhadap Bumi harus dihentikan sebelum alam menuntut keseimbangannya sendiri. (INQ)

Unit Experimental Metal, AVORAGOM, Lepas Album Debut "BONDED" yang Mencekam

Categories: Music

Share
Unit eksperimental metal berbasis di Indonesia, AVORAGOM, resmi meluncurkan album perdana mereka, “BONDED” ke seluruh digital platform. Dengan perpaduan atmosfer gelap, distorsi berat, dan odd-time signatures, Avoragom menjelma sebagai entitas baru yang mengancam di kancah musik keras global.

Enam lagu sangar di dalam album “Bonded” menjadi ritual kegelapan yang sarat emosi hitam, menegaskan karakter khas yang dibawa Avoragom sejak awal kelahiran mereka.

Trio lintas negara ini diisi oleh musisi-musisi jenius: Nardo Faltoyano (Indonesia) sebagai sound designer dan gitaris utama dengan julukan "note mutilation"; Natalie Blomholm (UK/Scotland) yang merangkap vokal dan bass memadukan vokal feminin doom khas Sharon del Adel (Within Temptation) dan Cristina Scabbia (Lacuna Coil) dengan jeritan agresif yang menghantui; serta Noah Hamilton (Selandia Baru) di balik drum yang membawa "detak jantung" baru melalui ritme poliritmik yang kompleks.

Lagu-lagu andalan seperti "Siren" dan "Eocene of Queen" menampilkan eksplorasi suara yang luas dari nuansa ambientyang dingin hingga breakdown yang menghancurkan. Visual album dengan gaya etching klasik kian memperkuat sisi teatrikal yang mereka usung. Dari sisi lirik, Avoragom tak hanya menggunakan bahasa Inggris, tetapi juga menyelipkan bahasa Yunani, Latin, hingga Aztek semakin memperkuat dimensi universal dalam syair-syair mereka.

"Kami tidak hanya membuat musik, tetapi juga menciptakan cakrawala baru. BONDED adalah ikatan antara emosi gelap manusia dan suara," ujar Nardo.

“Sanguis bibimus, corpus edimus!
Regina Noctis, in aeternum!
Deus mortuus est!
Gloria in Excelsis Tenebris!”
—Eocene of Queen

Dengarkan seluruh track garang album “Bonded” dari Avoragom yang kini telah tersedia di Spotify, Apple Music, dan seluruh layanan streaming digital. Bravo! (INQ)

Perayaan Luka Oleh ETERNAL Lewat Single Terbaru Mereka Bertajuk “Satu”

Categories: Music

Share
Unit Nu-Metalcore asal Kota Kembang Eternal, kembali menegaskan eksistensinya lewat single terbaru bertajuk “Satu”. Hadir sebagai perayaan luka, tentang kehilangan yang tak pernah benar-benar usai, tentang bayangan yang terus tinggal meski sosoknya telah pergi.

Dalam “Satu”, Eternal meramu narasi emosional mengenai seseorang yang terjebak di antara kenangan dan kenyataan. Ia mencoba berlari dari masa lalu, namun semakin jauh melangkah, semakin dekat bayangan itu menghantuinya. Lagu ini berbicara tentang kehilangan, rasa bersalah, overthinking, hingga konflik batin yang tak menemukan titik temu. Semua dibalut dalam lirik dua bahasa (Bahasa Indonesia dan Inggris) yang puitis, namun tetap menyimpan amarah terpendam sebuah ciri khas yang menguatkan identitas musikal mereka.

Secara musikal, “Satu” bergerak dinamis dalam spektrum gelap nan agresif. Clean vocal yang melankolis bertemu dengan rap yang tajam serta scream yang eksplosif, menciptakan lanskap suara yang sinematik dan penuh tensi. Perpaduan ini membuat lagu terasa dinamis, seperti denyut luka yang menganga. Tak hanya membicarakan cinta yang kandas, tetapi juga fase setelahnya ketika seseorang masih hidup, namun tak lagi “Satu”.

Tak berhenti pada sisi audio, Eternal turut merilis video musik “Satu” dengan pendekatan sinematik yang tajam. Digarap layaknya film pendek, video ini menghadirkan alur cerita yang jelas, dialog antar karakter, serta atmosfer visual yang gelap. Video tersebut menjadi medium naratif yang memperdalam makna lagu yang menggambarkan kehampaan, jarak emosional, dan pergulatan batin yang tak kasatmata.

Pendekatan ini menegaskan komitmen Eternal untuk melampaui batas format konvensional. Mereka menghadirkan sebuah ruang bagi pendengar untuk berdamai, atau setidaknya mengakui luka yang masih ada.

Melalui “Satu”, Eternal seperti mengajak kita untuk berhenti menyangkal rasa sakit. Bahwa terkadang, perpisahan bukan soal melepaskan, melainkan belajar hidup berdampingan dengan bayangan. Karena tidak semua kisah ditakdirkan berakhir utuh pun tidak semua luka harus segera sembuh untuk bisa dirayakan.

“Satu” telah tersedia di seluruh kanal digital musik manapun. Musik videonya pun sudah resmi tayang pada kanal resmi milik mereka. Bravo Eternal! (INQ)