Kolaborasi Level Up! Soundwaves Connection Buktikan Silaturahmi Forum Musisi Karawang Nggak Ada Matinya

Categories: Collaboration

Share
“Soundwaves Connection” yang dihelat oleh @forummusisikarawang (FMK) pada Minggu (19 Oktober 2025) membuktikan bahwa pagelaran musik bisa lebih dari sekadar pertunjukan. Event ini menghadirkan vibes para musisi baik yang baru berkecimpung di dunia musik hingga para musisi senior Karawang yang telah malang melintang di dunia hiburan berskala nasional dan internasional. Bertempat di Kota Kertabumi, Karawang, telah sukses menjadi ajang silaturahmi yang hangat dan pentas kreasi yang membanggakan bagi musisi lokal.


Event digelar sejak sore hari yang dipandu oleh MC Rully Maya membuat suasana heboh terus tanpa sekat hingga berakhirnya event ini. Beliau kerap menyapa sambil beradu canda dengan para tamu dan para musisi yang hadir serta yang tampil untuk ikut memberikan opini masing-masing demi kemajuan FMK kedepannya, Selain itu atmosfer panggung yang berada ditengah kawasan Kota Kertabumi cukup terasa adem, nyaman dan asri ikut membuat para audiens semakin betah nongkrong sambil menikmati aneka sajian dari food merchant disekitar venue.


Selain silaturahmi para musisi, juga turut hadir berbagai komunitas yang tergabung di FMK diantaranya, Guitar Community of Indonesia (GCI) Chapter Karawang, Indonesian Drummer (ID) Karawang, Land of Guitar (LOG), Karawang Blues Society, serta Himpunan Artis Musik Indonesia (HAPMI) Karawang. Their presence bener-bener nambahin aura semangat kolaborasi dan solidaritas.


Gak cuma jadi ajang kumpul-kumpul biasa, malam itu “Soundwaves Connection” menjadi panggung sederhana namun istimewa dimana bakat-bakat lokal Karawang tunjukin kelas mereka. Mulai dari genre Pop, Rap, Ska, Punk, Metal hingga Rock n Roll gencar menghibur audiens hampir tanpa jeda waktu. 

Antusiasme juga datang dari para musisi yang turut meramaikan event ini. Diantaranya Dean Sanopa, sang vokalis Minion Ska, band yang sudah terbentuk sejak tahun 2016. 

"Ini event yang positif banget bagi kami para musisi Karawang! Semoga jadi agenda rutin buat wadah berkumpulnya musisi lokal Karawang untuk saling berbagi ilmu dan tentunya mempererat tali silaturahmi."

Hal senada juga diungkapin Fizol, frontman dari Taksanada dan DPRTY Band

"Bagi saya pribadi event FMK ini sebagai bagian dari movement yang lebih terarah dan tentunya sharing ide ke sesama musisi udah kayak keluarga besar buat kita. Tujuannya jelas tentang bagaimana kolaborasi FMK bisa menjadi benang merah dalam pengembangan karir musisi lokal biar makin maju dan berkualitas."

Mereka berharap event ini lebih dari sekadar pentas saja tetapi lebih sebagai ruang untuk saling connect melalui cerita dan energi sesama anggota FMK yang makin solid dan kreatif.

Ketua FMK, Rizki Angkasa menyampaikan apresiasi setinggi tingginya atas inisiasi event “Soundwaves Connection” sebagai bagian dari partisipasi aktif rekan-rekan musisi dalam memajukan potensi kreatifitas dan pengembangan diri musisi lokal Karawang di masa depan. 

"Kita harus selalu bersama, ngariung, ngumpul seperti ini dan berkolaborasi membahas tentang  era masa kini yang benar-benar digital dari sisi profesionalitas musisi. Kita harus terus bergerak untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kedepannya. Olehnya itu, kapanpun dan dimanapun hayuk kita berdiskusi karena sudah saatnya kita berjalan bersama dan terus aktif dalam menghasilkan karya yang positif...“ ujar Rizki Angkasa. 


Overall, standing applause kepada seluruh musisi dan komunitas yang tergabung di FMK yang telah menyukseskan “Soundwaves Connection” dari yang awalnya sekadar ide dan konsep menjadi sebuah simfoni kolaborasi yang nyata dari cerita perjalanan panjang kita. Terima kasih telah membuktikan bahwa musik bukan hanya tentang nada, tapi juga tentang menyatukan hati. Sampai jumpa di event FMK selanjutnya !!! (INQ)

Iksan Skuter Gelar "Raya Daendels Tour 2025": Perjalanan 1000 KM Napak Tilas Jalur Bersejarah dari Anyer ke Panarukan

Categories: NEWS

Share
Musisi solois Iksan Skuter (@iksanskuterofficial) mengumumkan rangkaian perjalanan tur musik epik yang bertajuk "Raya Daendels Tour 2025". Sebuah tur musik akustik yang akan menempuh jarak 1.000 km dari Anyer ke Panarukan menggunakan Vespa. Tur yang berlangsung pada 18 Oktober hingga 20 November 2025 ini direncanakan akan melintasi 5 provinsi dan 19 kota di Jawa yang dimulai dari Cilegon dan berakhir di Panarukan. Selain menyajikan pertunjukan musik intim di setiap kota, tur ini juga membawa misi reflektif terhadap sejarah dan makna keberjalanan seni di luar arus industri musik besar.

"Panggung musik tidak harus di kota besar dengan sponsor besar. Musik harus lebih membumi dan akrab dengan masyarakat," tegas Iksan. 

Tur ini akan menjadi bentuk keberanian menghadirkan alternatif pertunjukan musik independen di luar skema industri arus utama.

Nama “Raya Daendels” dipilih sebagai napak tilas Jalur Raya Pos bersejarah yang dibangun Herman Willem Daendels tahun 1808. Jalan sepanjang 1.000 km ini menyimpan kisah kelam kerja paksa (rodi) pekerja pribumi pada masa kolonial yang mengakibatkan ribuan pekerja tewas akibat eksploitasi dan kekerasan selama proyek tersebut berlangsung.

Rute tur Raya Daendels 2025 terbagi dalam tiga wilayah: Barat (Cilegon, Tangerang, Jakarta, Bogor), Tengah (Cianjur, Bandung, Sumedang, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang), dan Timur (Demak, Rembang, Tuban, Gresik, Pasuruan, Probolinggo, Panarukan). Setiap kota yang disinggahi akan menghadirkan pertunjukan akustik dalam format sederhana, yang menekankan interaksi dan suasana kebersamaan.

“Aku ingin membuktikan bahwa pertunjukan bisa dilakukan dengan berjejaring dan proper, tanpa harus bergantung pada kuantitas dan tuntutan industri,” tambah Iksan Skuter

Menariknya, Iksan Skuter akan menempuh perjalanan menggunakan Vespa bernama "Sarinah" yang telah direstorasi menggunakan bahan bakar daur ulang limbah plastik. Proyek tersebut merupakan hasil kolaborasi bersama Get Plastic, organisasi yang bergerak dalam pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar alternatif. Dukungan ini menjadi simbol konkret dari komitmen Iksan terhadap keberlanjutan dan tanggung jawab ekologis dalam berkarya. Vespa ini nantinya akan menempuh seluruh jalur dari Anyer ke Panarukan, berhenti di setiap kota untuk tampil dan bersilaturahmi.

Sebelum tur dimulai, Iksan Skuter juga akan merilis single "1000 KM" sebagai pengantar musikal perjalanan tersebut. Seluruh proses tur juga akan didokumentasikan dalam film dokumenter yang menangkap “spirit berkesenian dijalan” yang menjadi core dari seluruh perjalanan Raya Daendels Tour 2025.

"Intinya ini adalah tour musik sambil naik vespa menyusuri Jalan Raya Daendels. 1000 km, melewati 5 provinsi, 19 kota di Pulau Jawa. Jika ada nama kotamu, mari bersilaturahmi, bernyanyi, dan ngopi," tutup Iksan. 

Informasi lebih lanjut mengenai lokasi venue, waktu pertunjukan, dan pembaruan dokumenter dapat diakses melalui akun media sosial resmi @langgamlangsam_ (INQ)

Jakarta Music Con 2025: Ruang Baru untuk Cerita, Kolaborasi, dan Masa Depan Musik Indonesia

Categories: NEWS

Share
Di tengah derasnya festival musik yang muncul setiap bulan, Jakarta Music Con (JMC) 2025 hadir lebih dari sekedar festival. Mereka membawa ruang musik baru untuk diskusi, kolaborasi, dan pembentukan arah baru bagi ekosistem musik Indonesia.

“Melalui program Bicara Musik dan Bisik Musik, kami ingin menunjukkan bahwa kekuatan industri musik Indonesia tumbuh dari jejaring, percakapan, dan kolaborasi lintas bidang. Melihat audiens begitu terhubung dengan cerita para musisi membuat kami yakin bahwa musik bukan hanya karya, tetapi juga cara manusia memahami diri dan dunia di sekitarnya,” ungkap Andri Verraning Ayu, CEO Antara Suara.

Selama dua hari di Dome, Senayan Park, JMC menjadi titik temu antara musisi, produser, promotor, brand, kreator visual, dan penikmat musik yang ingin memahami bukan hanya “apa” yang mereka dengar, tapi juga “bagaimana” industri ini bekerja. Dari panggung hingga diskusi, dari t-shirt hingga ide bisnis, semuanya menyatu dalam satu narasi: musik sebagai medium yang hidup, tumbuh, dan membentuk identitas zaman. JMC menjadi pintu bagi siapa pun yang ingin melihat cara kerja dunia musik dari balik panggungnya.

Di Persimpangan Cerita dan Industri

Hari pertama dibuka dengan dua jalur utama, Bicara Musik dan Bisik Musik keduanya saling melengkapi, menggambarkan sisi depan dan belakang dari dunia musik.

Sesi Brand x Band: Where Music, Stories, and Collaboration Converge bersama LOCALFEST menghadirkan Rafi Sudirman dan Billy Dewanda. Keduanya menegaskan bahwa kolaborasi bukan lagi sekadar strategi promosi, melainkan soal kesamaan nilai dan visi antara musisi dan mitra kreatif. Di era di mana identitas sering dikonstruksi lewat algoritma, keaslian justru jadi kunci.
Musik, dalam konteks ini, menjadi jembatan antara brand, audiens, dan budaya secara otentik. 

Selanjutnya, From Backstage to Onstage bersama Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI) membuka mata banyak peserta tentang kompleksitas dunia festival. Gerhana Banyubiru (The Sounds Project) dan Ferry Dermawan (Joyland Festival) memaparkan bagaimana setiap festival adalah hasil dari keseimbangan antara kreativitas dan manajemen risiko. Mengungkap kompleksitas dan kerja sama lintas peran yang membentuk pengalaman sebuah pertunjukan musik.

Cerita yang Menjadi Lagu

Di sore hari, suasana berubah menjadi lebih intim lewat Turning Tales into Tunes: How Personal Stories Transform into Music.

Gemat ‘Sailormoney’ dan Monica Karina, ditemani moderator Canti Tachril dan Sarra Tobing (Dixi’s), berbagi bagaimana kisah hidup mereka menjelma menjadi lagu. Dalam atmosfer yang hangat, mereka membagikan kisah pribadi di balik setiap lagu, menciptakan ruang intim tempat musik dan cerita saling menyatu.

Menyelami Dunia Produksi dan Ekosistem Pendapatan Musik

Memasuki sesi Bisik Musik, fokus beralih ke dapur industri. Band Production Management 101 with PPC menghadirkan Bayu Perkasa (FOH Engineer Barasuara & Lomba Sihir) dan Adam Imaddudin (Head Crew & Monitor Engineer Lomba Sihir). Dua nama yang lama bergelut di sisi teknis panggung. Mereka membahas pentingnya perencanaan, soundcheck, hingga manajemen kru. Hal yang sering tak terlihat, tapi justru menentukan kualitas pertunjukan. Penegasan bahwa profesionalisme, cara kerja dan disiplin di balik layar.

Sesi berikutnya, Music Without Borders bersama TuneCore Indonesia, memperluas wawasan soal distribusi global. Andi Arya Dwi Putra dan Gian Hashemi menjelaskan bagaimana musisi independen kini memiliki akses yang sama ke pasar dunia, asalkan memahami strategi distribusi digital dan keberlanjutan karier. Dalam konteks industri modern, setiap rilisan musik adalah paspor menuju audiens global.

Kemudian, Royalties Uncovered The Hidden Revenue Behind Every Song, bersama Franki Indrasmoro (Pepeng, eks-Naif) dan dimoderatori Aria Baja (Laleilmanino) membahas sisi lain dari musik, hak cipta dan sistem royalti di era digital, termasuk mekanisme pengumpulan, distribusi, dan tantangan transparansi yang dihadapi pelaku musik.

Ketika Visual dan Suara Menjadi Cerita

Sebagai penutup hari, sesi Echoforms: Story in Sound and Design bersama Grafis Masa Kini menghadirkan Dian Tamara, Djali, dan Moses Sihombing. Diskusi ini dimoderatori oleh Alessandra Langit (Editor dan Penulis) memperlihatkan hubungan simbiotik antara desain, fotografi, dan musik. 

Mereka membagikan pandangan tentang bagaimana desain dan musik dapat saling berpadu, menciptakan pengalaman budaya yang lebih mendalam dan penuh emosi.

Ekosistem yang Terus Tumbuh

Dari panggung utama, deretan penampil seperti JAGUANK, Gabriella Fernaldi, Kabar Burung, VVYND, hingga SATU PER EMPAT memperlihatkan keberagaman wajah musik Indonesia dari nuansa etnik, bossa nova, hingga R&B dan rock alternatif. Masing-masing tampil dengan identitas musik mereka yang kuat.

Di luar panggung, area Pasar Musik menjadi ruang yang tak kalah hidup. Merchandise, rilisan eksklusif, live screen printing serta kolaborasi terbatas bersama para visual artist yang hanya tersedia selama dua hari, 11-12 Oktober kemarin.

Musisi-musisinya pun ikut hadir juga sekaligus demo karya mereka. Seluruh kegiatan interaksi langsung ini menunjukkan suksesnya misi JMC 2025 dihari pertama sebagai ruang baru untuk cerita, kolaborasi, dan masa depan musik Indonesia. Bravo! (INQ)