Numb Hate Numb Uraikan Melodi Emosi dan Refleksi dari CLIFFSIDE

Categories: Collaboration

Share
Numb Hate Numb lahir dari perjalanan unik dan penuh makna. Awalnya, "Love Hate Love" sempat menjadi opsi, namun terasa kurang menggambarkan energi emosional yang mereka bawa. Inspirasi akhirnya datang dari dua lagu ikonik: "Uncomfortably Numb" oleh “American Football” dan "Numb, but I Still Feel It" dari “Title Fight”, yang menjadi soundtrack tak resmi setiap sesi latihan mereka. Numb Hate Numb menjadi simbol yang merangkum ambivalensi perasaan manusia—mati rasa terhadap kebencian, tetapi terus hidup dan beresonansi melalui musik.

Debut formasi Alternative Rock dari Karawang ini terdiri dari tiga personel inti: Farhan (vokal dan gitar) yang membawa melodi penuh kejujuran, Heron (vokal dan bass) yang menjadi fondasi ritmis penuh kedalaman, dan Sulton (drum) sebagai penggerak dentuman energi. Dalam penampilan live, mereka sering mendapat dukungan dari Abo Reiwa, yang menyumbangkan pattern nada tambahan melalui gitar.

"CLIFFSIDE" : Sebuah Hidangan Pembuka

Hidangan pembuka mereka, "CLIFFSIDE," adalah sajian pertama dari perjalanan menuju EP atau mini album yang tengah diracik. Lagu ini tecipta dari lirik yang torehkan Farhan terlebih dahulu, kemudian dibalut dengan aransemen instrumental yang menjaga kedalaman emosinya.

“Cliffside itu mencoba membuka segala bentuk kepedulian tentang perasaan manusia sekedar datang duduk mendengarkan tanpa menghakimi sebuah kesalahan.” Ungkap Farhan menjelaskan makna lagu tersebut. Upaya membuka dialog tanpa prasangka, memberikan ruang aman untuk emosi manusia. 

Tidak terlalu menggunakan banyak teknik pada lagu ini, liriknya sendiri merupakan poros utamanya, memuntahkan perasaan yang mengantarkan siapapun pendengarnya ke sisi jurang dan mengepakkan sayap kemudian.

Lahir dari Kebetulan, Disempurnakan oleh Kolaborasi

Proses kreatif "CLIFFSIDE" menjadi cerita tersendiri. Dengan hanya modal 50% materi yang direncanakan, sisanya tercipta secara spontan dalam sesi jamming di studio. Dukungan dari “Unseen Record” sangat berarti dalam membantu mereka merealisasikan single ini, sementara peran Abo sebagai rekan kolaboratif juga memiliki peranan penting dalam proses produksi lagu.

Mendapatkan inspirasi dan support dari band-band lokal seperti “Lingkar Cendala “ dan “Reiwa”. Bukan hanya sebagai sesama musisi, mereka juga berperan sebagai pemberi stimulant, mentor dan pendukung dalam perjalanan band ini. Kolaborasi di lingkaran komunitas menjadi fondasi penting bagi identitas musik mereka.

Dalam kurun waktu satu bulan, "CLIFFSIDE" terpilih sebagai single pembuka yang mencerminkan esensi album mendatang. Visual dari lagu ini dirancang oleh Sulton, yang dengan apik menangkap semangat dan energi band melalui desain artwork yang relatif sederhana namun tersesaki makna.

Kini “CLIFFSIDE" sudah bisa didengarkan pada platform official mereka dan bagi siapapun yang mendengarkan "CLIFFSIDE" NUMB HATE NUMB berharap musik ini menjadi medium merasakan, merenung, dan mungkin sebuah harapan yang membawa pesan-pesan damai. (INQ)

Hal Yang Sama, Gebrakan Eksperimental Kolaborasi Javanese Cat dan Ranggart

Categories: Music

Share
Setelah setahun senyap tanpa rilisan baru, Javanese Cat, satu-satunya band grunge asal Cikampek-Karawang yang masih panas mengguncang gigs ke gigs ini, hadir kembali dengan gebrakan terbarunya. Kali ini, mereka menggandeng Ranggart, solois ballad asal Pontianak, dalam single bertajuk "Hal Yang Sama". Dirilis akhir November kemarin, lagu ini bukan hanya pemantik untuk album kedua mereka yang akan keluar tahun depan, tapi juga sebuah pernyataan bahwa musik lokal punya daya dobrak luar biasa.

Bukan Lagu Cinta “Mainstream

"Hal Yang Sama" bukan lagu cinta biasa. Ini adalah anthem bagi siapa saja yang percaya bahwa cinta sejati tidak butuh alasan, hanya kejujuran. Dengan pesan kuat untuk menerima pasangan apa adanya, tanpa ekspektasi berlebihan, lagu ini merangkul emosi pendengar dengan lirik yang jujur dan aransemen yang menggebu. Dari riff gitar yang tajam hingga vokal khas Ranggart, setiap elemen terasa dirancang dengan hati sebagai target utamanya.

Dapur Produksi Dipenuhi Musisi Lokal

Proses kreatif lagu ini diproduksi dengan semangat kolektif. Ramadhan Tama dari "Lingkar Cendala" menggantikan Carlos di posisi bass sementara Ramdan Rhuswana dari "Sembilan Persen" mempercantik lagu dengan isian pianonya. Sentuhan megah orkestra diaransemen oleh M. Syidik Subagja “Hyperbolic Culture” sehingga mengantarkan dimensi baru pada lagu ini, menambah keintiman lirik dengan percikan energi musikal.

Kepada tim Bvckle Smiggle, Ray Cornell gitaris dan otak kreatif Javanese Cat menceritakan awal mula kolaborasi ini terlaksana.

"Sebenernya lagu ini awalnya gue ciptain buat proyek solonya Ranggart," ungkapnya, "Tapi Ranggart minta kolaborasi sama Javanese Cat. Tujuan kolaborasi ini buat menyatukan aja sih, antara musisi indie dan musisi reguleran. Rangga sering ngisi di cafe-cafe, sedangkan Javanese Cat lebih ke gigs underground. Akhirnya gue fokus di departemen gitar, dan hasilnya lebih dari yang gue bayangkan." pungkasnya.

Proses rekaman di Broadway Music, dengan M. Syidik Subagja sebagai produser, berlangsung selama tiga minggu penuh tantangan, mulai dari jadwal manggung yang padat hingga sakit yang sempat menghambat.

Gebrakan Aransemen Eksperimental

"Hal Yang Sama" adalah percampuran liar antara grunge, pop, dan jazz. Dengan beat drum sederhana dari Abay, teknik gitar Ray yang kasar dipadukan Seattle Sound  tak luput sayatan gitar yang penuh emosi dikemas dengan vokal unik Ranggart menjadikannya sesuatu yang sulit diabaikan. Overall lagu ini memiliki daya tarik tersendiri.

Perjalanan Panjang Javanese Cat di Skena Musik

Enam tahun lalu, di tengah riuh kota Cikampek, Javanese Cat lahir dari kreatifitas sekelompok karyawan Kompas Gramedia. Band ini kemudian tumbuh menjadi trio solid dengan formasi Ray (gitar/vokal), Abay (drum), dan Carlos (bass). Mereka adalah pionir lokal yang tak ragu mengeksplorasi genre, dari grunge 90-an hingga punk, jazz, dan heavy metal. Album perdana mereka, The Best of the Beast (2021), serta single seperti Larut, Amarila, dan Deselerasi Distorsi Rindu (2023), telah membuktikan kemampuan mereka sebagai salah satu band yang patut diwaspadai di skena musik, lokal khususnya.

"Hal Yang Sama" telah available di semua platform digital official mereka. Jangan lewatkan kesempatan untuk merasakan gebrakan baru dari Javanese Cat dan Ranggart. Mari bersama merayakan cinta, musik, dan gimmick kehidupan yang tak pernah lekang! (INQ)

Kredit Produksi

Lagu dan lirik: Ray Cornell

Recording, Mixing, dan Mastering: Broadway Music oleh Muhammad Syidik Subagja

Vokal: Ranggart

Gitar: Ray Cornell

Bass: Carlos Manalu

Drum: Akbar Zildjian

Instrumen tambahan: Ramdhan Rhuswana ("Sembilan Persen")

Lebih Personal, Karnamereka Rilis Single Ketujuh Bertajuk Ayah Untuk Album Fortune

Categories: Music

Share
KARNAMEREKA—Grup pop-punk asal Kulon Progo, Yogyakarta yang berdiri pada 17 Agustus 2010. Dipimpin oleh Heroherda (vokalis dan gitaris), band ini juga digawangi oleh Rolan dan Candra.

Fortune album yang sedang digarap oleh mereka, menambah pasokan single-nya satu lagi yang resmi rilis 13 Desember kemarin berjudul “Ayah”.  Lagu ini adalah lanjutan dari single sebelumnya yang berjudul “Di Persimpangan” yang telah rilis 18 Oktober 2024 lalu, dengan bridging versi terbaru lagu “Ayah Ibu” yang dijadikan pop punk, rilis kembali pada 15 November 2024.

Sisi personal “Ayah” dari sudut pandang Herda

Heroherda (Herda), frontman KARNAMEREKA, mengonsepkan lagu “Ayah” sebagai kisah soal sosok anak yang kehilangan ayahnya dan merindukan nasehat-nasehatnya selama sang ayah hidup. Herda menganggap “Ayah” adalah karya yang sangat personal. “Lirik yang ku tulis ini adalah sesuatu yang aku pendam dan rasakan.” Herda menambahkan, “Saat lagu ‘Ayah Ibu’ telah rilis, banyak yang suka. Orangtua saya juga sangat suka dengan lagu itu. Saya merasa bangga bisa membahagiakan mereka. Tapi tak selang lama setelah itu ayah saya meninggal dunia.” Herda mengakui bahwa karena itulah lagu ini tercipta.

Warna musik balada adalah genre yang terpilih untuk merepresentasikan “Ayah”. Bagi Herda, musik balada digunakan karena lagu ini penuh dengan pesan kehidupan. Dia juga berharap, “Kami ingin lagu ini dinikmati oleh kalangan universal, tidak hanya audience pop punk saja.”

Saat menulis lagu “Ayah”, Herda mem-flashback berbagai kenangan dengan sang ayahanda. “Saya hanya berandai-andai, siapa tahu lirik yang ku tulis bisa tersampaikan ke ayah yang sudah tidak ada lagi di sini.”

Rekaman “Ayah” melibatkan personil awal KARNAMEREKA

Formasi awal KARNAMEREKA–Herda, Rolan, dan Candra–terlibat di rekaman lagu terbaru ini. Bukan cuma pengonsepan aransemen, bahkan sampai cerita untuk video musik. Sementara untuk instrumen piano dan biola, posisinya diisi oleh Nereus Alvin. Momen yang menarik dari proses perekaman “Ayah” adalah ketika lagu sudah dalam tahap 90% mixing dan mastering, Herda iseng menambahkan part piano yang mirip dengan lagu “Nina Bobo” pada bagian interlude biola. Herda menjelaskan, “Kordnya masih ‘masuk’ dan ingin menambahkan suasana masa kecil yang ceria di tengah sayatan biola yang terdengar menyedihkan.”

Perekaman “Ayah” dilakukan pada bulan Oktober dan November 2024 lalu di studio Seventiga Labs, Yogyakarta.

“Ayah” juga hadir dalam bentuk video musik

Seperti single-single sebelumnya, “Ayah” juga disertakan dengan konten video musik yang bisa dinikmati di kanal resmi KARNAMEREKA di YouTube. Sutradara Usman Hasan lagi-lagi didapuk menjadi sutradara video musiknya. Namun turut melibatkan seluruh personil KARNAMEREKA untuk mengembangkan naskahnya.

Herda berpesan, “Kalian harus nonton video klipnya , ada pesan kehidupan yang sangat penting terutama untuk kalian yang sudah memasuki fase dewasa.”

Lagu “Ayah” sudah dapat dinikmati di berbagai kanal streaming favorit per hari ini , dengan video musik yang juga tersedia di kanal resmi KARNAMEREKA di YouTube. (INQ)

Dengarkan “Ayah” di melalui tautan di bawah ini:
https://karnamereka.bfan.link/ayah