Tiga tahun vakum tanpa kabar, quartet metallic hardcore asal Malang. Noose Bound, akhirnya muncul lagi dengan singleteranyar berjudul "In Silence / I Would Die…", tentunya dengan sesuatu yang lebih brutal.
Buat yang belum dengar, single ini sebenarnya terdiri dari dua track terpisah yakni "In Silence" dan "I Would Die…" yang digabung jadi satu tanpa jeda. Kolaborasi dengan Brightside Records, label lokal Malang yang juga mendukung band-band seperti Otwofive, Seek & Destroy sampai Rulls, jelas jadi langkah cerdas buat memastikan rilisan ini sampai pada pendengar yang tepat.
Formasi Noose Bound masih tetap dengan Rio (drum), Devrizal dan Icang (gitar), plus Bagas yang tetap setia di vokal. Secara musikal, mereka jelas masih bereksplorasi pada akar metallic hardcore kental yang memberi nuansa seperti All Out War, Kickback atau Integrity dan elemen baru sebagai ciri khas mereka sendiri. Sedikit bumbu black metal di beberapa bagian, breakdown yang lebih variatif dan yang paling mencolok adalah pada clean vocal-nya. Sentuhan melodinya justru mengingatkan kita pada band-band seperti Deftones, Vein, atau Loathe.
“Pertimbangan kami memasukkan beberapa unsur baru seperti clean vocal, part yang dinamis dan rotasi pattern baru adalah karena kami ingin lebih beresksplorasi lebih jauh sebagai musisi”. Ungkap mereka.
Yang membuat single ini menarik justru ada pada pesannya. Di bagian "In Silence", Noose Bound masih setia dengan karakter lama mereka yang penuh amarah, chaos dan gelap. Dan mereka punya alasan kuat untuk itu sebagai kritik sosial terhadap para penguasa. Mulai dari kasus aparatur negara yang semena-mena, kebijakan yang mengorbankan rakyat, sampai tragedi di skena Malang. Semua kejadian itu menjadi engine starter kemarahan mereka. Lagu ini adalah cerminan frustrasi yang mungkin juga kamu rasakan sebagai anak muda yang harus hidup di negeri yang katanya serba demokratis tapi dihantui tindakan represif tanpa ampun dan nirempati terhadap sesama.
Namun pada bagian "I Would Die…", ada pergeseran yang cukup dalam. Musiknya tetap berat dengan breakdown, tapi nadanya lebih anthemic. Lirik "For those I love, I would die to sacrifice" menjadi inti dari bagian tersebut. Tentang rela berkorban untuk orang-orang yang mereka sayangi meski harus berhadapan dengan pihak-pihak yang menghalangi di part lagu ‘In Silence’.
Bagas yang sejak awal memegang urusan lirik, memberikan perspektif menarik soal perubahan ini. Dahulu dia banyak terinspirasi dari lirik-lirik gelap seperti Black Flag, Black Sabbath atau almarhum Ivan Scumbag ‘Burgerkill’. Tapi sekarang, sebagai seorang ayah, dia merasa ada tanggung jawab moral sebagai orangtua untuk putrinya.
"Gue sadar tulisan gue akan dibaca banyak orang, termasuk anak gue suatu saat nanti," jelas Bagas.
Karena itu dia mencoba menulis lirik yang tetap jujur dengan karakter Noose Bound tapi mengarah ke pesan yang lebih terang dan logis. Bukan berarti mereka menjadi lembek, justru ini menunjukkan kedewasaan tanpa harus kehilangan identitas. Inspirasi dari band-band seperti Hatebreed, Indecision, sampai Cro-Mags yang membawa pesan lebih positif mulai terlihat pengaruhnya melalui karya ini.
"In Silence / I Would Die…" sebuah pembuktian bahwa sebuah band bisa berevolusi tanpa harus meninggalkan akarnya. Noose Bound yang masih brutal, masih keras dan masih menginspirasi dalam kebebasan berekspresi.
Buat penggemar berat mereka dari zaman "To The Same End", kamu akan menemukan banyak hal yang familiar. Tapi buat yang baru pertama dengar single “In Silence/ I Would Die...” bisa menjadi awalan yang tepat untuk berkenalan dengan salah satu band metallic hardcore paling menarik dari Malang saat ini. Dont forget to follow their IG @noosebound (INQ)