Dari Kota Kecil di Riau, WEARS Lahirkan EP “Heal Your Wounds” Leburkan Era Grunge dan Post-Hardcore

Categories: Music

Share
Dari sudut kecil di Bangkinang, sebuah gema baru dari skena alternatif mulai terdengar. WEARS terbentuk pada tahun 2024, kembali menegaskan keberadaannya lewat EP perdana bertajuk “Heal Your Wounds.” Sebuah rilisan yang lahir dari kegelisahan personal, namun dibungkus dengan energi distorsi yang liar penuh emosional.

Sebelumnya, WEARS sempat memperkenalkan diri melalui single perdana mereka bertajuk “Enough.” Dari sana, arah musikal mereka mulai terbaca dengan menggali tema-tema personal yang tidak selalu nyaman untuk dibicarakan yaitu tentang krisis identitas, ketakutan, kehilangan, hingga ketidakstabilan mental. Dalam “Heal Your Wounds,” tema-tema tersebut berkembang menjadi narasi yang lebih utuh, menjadikan EP ini terasa seperti catatan luka yang diubah menjadi suara.

Secara musikal, WEARS memadukan fondasi alternative rock dengan karakter grungy yang kental. Distorsi gitar yang berat dan cenderung muram dipertemukan dengan sentuhan emosional khas post-hardcore, sementara jejak emo awal 2000-an tipis-tipis dan atmosfer grunge revival ikut memperkaya lanskap suara mereka. Hasilnya adalah komposisi yang melankolis namun tetap agresif seolah bergerak di antara keheningan dan ledakan perasaan.

Proses rekaman EP ini dilakukan di Uhuuy Records yang berbasis di Bukittinggi. Sementara distribusi digitalnya dirilis di bawah naungan Backstabbed Records, label yang aktif mendukung pergerakan band-band dalam skena underground di Riau.

Dalam EP ini, WEARS menghadirkan riff gitar yang kuat dengan struktur sound yang berat. Pengaruh dari band-band seperti Superheaven, Narrow Head, Sunny Day Real Estate, hingga Fleshwater terasa membentuk atmosfer melankolis yang kemudian meledak dalam klimaks post-hardcore yang emosional.

“Heal Your Wounds” terasa seperti upaya WEARS untuk menemukan bahasa mereka sendiri—bahasa yang lahir dari luka, kegelisahan, dan keberanian untuk mengekspresikannya melalui distorsi.

Pasca perilisan digital ini, WEARS juga tengah mempersiapkan sebuah showcase untuk memperkenalkan materi dari EP tersebut secara langsung. Detail mengenai acara tersebut akan diumumkan dalam waktu dekat melalui kanal resmi mereka.

EP “Heal Your Wounds” kini telah tersedia di berbagai platform musik digital, menandai langkah awal WEARS dalam memperluas resonansi suara mereka dari kota kecil menuju skena yang lebih luas! (INQ)

LYRA Unit Shoegaze Asal Bandung, Debut Maxi Single “Bleed/Trace” Vibesnya Bikin Merinding

Categories: Music

Share
Keresahan, mimpi yang berulang, dan kecemasan emosional menjadi benang merah yang melatarbelakangi lahirnya LYRA, unit alternatif rock / shoegaze asal Bandung yang terbentuk pada Maret 2025. Band ini beranggotakan Abizair Abrar (vokal/bass), Fadhilla Maulana (gitar), dan Jauzaa Fachrie (drum).

Memasuki tahun 2026, LYRA resmi memperkenalkan diri lewat debut maxi single bertajuk “Bleed / Trace”, yang dirilis secara independen. Rilisan ini menjadi langkah awal mereka untuk menandai kehadiran di skena musik alternatif dengan pendekatan sound yang gelap, atmosferik, dan penuh tekanan emosional.

Secara musikal, LYRA banyak dipengaruhi oleh band-band seperti Slow Crush, Faetooth, King Woman, dan Holy Fawn. Pengaruh tersebut terasa kuat melalui karakter sound yang mereka bangun yakni lapisan gitar berat, ambience yang luas, serta ruang suara yang seakan menelan emosi di dalamnya.

Melalui “Bleed / Trace”, LYRA langsung memperkenalkan identitas musikal yang padat dan tenggelam dalam atmosfer gelap—sebuah dunia yang dipenuhi tekanan batin dan kecemasan yang terasa konstan.

Maxi single ini dibangun dengan dark vibration yang bikin merinding. Menggambarkan kondisi ketika harapan dan rasa sakit bercampur hingga sulit dipisahkan. Perasaan itu meninggalkan jejak yang terus terbawa, bahkan ketika seseorang mencoba melangkah pergi. Kedua track dalam rilisan ini disusun sebagai satu rangkaian cerita yang saling terikat.

Track pertama, “Bleed”, menangkap momen ketika harapan dan rasa sakit hadir bersamaan. Tekanan tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari tuntutan pada diri sendiri yang mendorong tindakan tanpa pertimbangan. Dalam kondisi tersebut, rasa kebal terhadap sakit perlahan membuat respons menjadi dingin dan datar. Lagu ini terasa seperti potret kelelahan emosional yang sunyi. Momen pasrah yang masih menyisakan sedikit harapan, terdengar seperti permintaan sederhana untuk berhenti dan dibiarkan sendiri.

Cerita kemudian berlanjut dalam track kedua, “Trace”. Lagu ini berbicara tentang keinginan untuk kembali kepada diri yang dulu, setelah hubungan dan pola sikap menghindar perlahan mengubah cara seseorang menjalani hidup. Meski mencoba melangkah maju, rasa takut yang tertinggal tetap membekas, seperti jejak yang sulit dihapus.

Dalam proses pengembangannya, maxi single ini disusun melalui kolaborasi internal antar anggota band. Setiap personel berperan dalam membentuk arah produksi yang konsisten. Track “Bleed” ditulis oleh Abizair Abrar sebagai kerangka ide dan struktur utama yang kemudian dikembangkan bersama dalam tahap aransemen. Sementara itu, “Trace” ditulis oleh Fadhilla Maulana dengan kontribusi pengembangan musikal dari seluruh anggota LYRA.

Dari sisi produksi, kedua track direkam di Norman Studio sebagai basis utama pengerjaan materi. Proses mixing dan mastering ditangani oleh Haikal Badjeber untuk memastikan karakter musik yang padat dan atmosferik tetap terjaga. Sementara itu, aspek visual dari maxi single ini juga mendapat sentuhan personal materi art photography digarap langsung oleh Abizair Abrar sebagai perpanjangan dari konsep estetika yang selaras dengan identitas musik LYRA.

Lewat “Bleed / Trace”, LYRA membuka pintu menuju dunia musik distorsi, penuh emosi, di ruangan sunyi. Debut ini menjadi titik awal perjalanan mereka di dunia musik, sebuah langkah pertama untuk rilisan-rilisan yang patut dinanti dalam menggali sisi gelap dari identitas LYRA. Congratulations! (INQ)

BINGAR. Rilis “Di 25 (Sebenar-benarnya Dunia Segera Tiba)”, Potret Kegelisahan di Titik Balik Usia

Categories: Music

Share
Bingar. kembali merilis single terbaru berjudul “Di 25 (Sebenar-benarnya Dunia Segera Tiba)”, sebuah lagu yang merekam isi hati dan pikiran ketika seseorang tiba di usia yang sering terasa seperti titik balik dalam hidup. Di usia ini, waktu seolah berjalan lebih cepat, sementara cita-cita dan cinta yang dulu terasa dekat justru belum sepenuhnya terkejar. Di saat yang sama, dunia perlahan mulai menunjukkan wajah aslinya.

Single yang lahir dari refleksi sederhana tentang perjalanan hidup, tentang apa yang sudah ditempuh, apa yang perlahan menjauh, serta apa yang masih berusaha dijaga meski tidak selalu berada di tempat yang sama. Melalui lagu ini, Bingar. mencoba menggambarkan fase persinggahan dalam kehidupan, sebuah ruang diantara awal kehidupan yang terasa bak babak akhir.

Lewat lirik yang lugas dengan karakter khas Bingar., lagu ini menghadirkan rasa gelisah yang berjalan berdampingan dengan penerimaan. Salah satu penggalan liriknya berbunyi, 

“Kita sampai di 25… sebenar-benarnya dunia segera tiba.” 

Sebuah kalimat sederhana yang mengingatkan pengingat bahwa pada akhirnya, setiap orang akan sampai pada fase ketika realitas mulai terasa semakin nyata.

Secara musikal, “Di 25 (Sebenar-benarnya Dunia Segera Tiba)” tetap mempertahankan warna anthemic indie rockyang menjadi identitas Bingar. Namun kali ini, pendekatan aransemen terasa sedikit lebih ditahan. Nuansa yang lebih tenang memberi ruang bagi pendengar untuk menyelami emosi di dalam lagu, seolah mengikuti tempo hidup yang mulai melambat dan terasa lebih reflektif.

Tidak hanya dari sisi musik, narasi lagu ini juga diperkuat melalui artwork yang merepresentasikan konsep “pertikaian diri.” Bingar. meyakini bahwa di usia 25 tahun, konflik yang paling sunyi justru sering terjadi di dalam diri sendiri. Pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan: 

apakah semua yang sudah dilakukan selama ini benar atau justru keliru? Haruskah perjalanan ini dilanjutkan, atau berhenti sebelum semuanya terasa semakin jauh?”

Dalam fase ini, ego ingin membuktikan bahwa kita mampu dan tidak tertinggal. Di sisi lain, idealisme terus mengingatkan pada mimpi-mimpi lama yang dulu terasa begitu yakin. Sementara realitas berdiri dingin dengan tanggung jawab dan batas yang tak bisa diabaikan. Ketiganya seperti saling tarik-menarik tanpa jeda.

Usia 20 terasa sudah cukup jauh untuk sekadar disesali, sementara usia 30 seolah tinggal satu kedipan mata lagi. Akibatnya, setiap keputusan terasa lebih berat dan mendesak seolah waktu yang dulu terasa luas kini mulai semakin padat.

Di tengah kekacauan itu, yang tersisa hanyalah pertanyaan sederhana namun menyesakkan: 

sekarang atau tidak sama sekali? 

Apakah harus terus melangkah dengan segala risikonya, atau berhenti dengan kemungkinan penyesalan yang akan datang kemudian?

Single “Di 25 (Sebenar-benarnya Dunia Segera Tiba)” resmi tersedia di seluruh platform streaming digital mulai 27 Februari 2026. Melalui lagu ini, Bingar. menghadirkan potret realitas tentang sebuah usia yang sering terasa sunyi namun diam-diam penuh dengan pergulatan paling nyata dalam kepala. (INQ)