Gabriëlle Lepas Kemarahan Lewat EP Debut "Animals"

Categories: Music

Share
Di usia 21 tahun, ketika kebanyakan musisi seangkatannya masih sibuk mematangkan formula musik, gadis solois metal asal Yogyakarta, Gabriëlle (gabrielle_444), telah memasak tanpa basa-basi EP debutnya yang bertajuk "Animals". Musisi yang berada dibawah naungan Repertoart Records ini siap menggebrak lewat warna musik yang jauh lebih gelap dan berbahaya. 

Bagi yang sempat mendengarkan single terdahulunya, Falling For An End, bersiaplah untuk mendapatkan super kejutan di mini album ini. Karena Gabriëlle officially meninggalkan pendekatan clean vocal dan beralih total scream vocal yang kasar dan keras dalam meluapkan amarahnya.

Langkah yang diambil mahasiswi bernama lengkap Gabrielle Maryse Antoinette den Hertog ini sebenarnya tergolong sangat berani dan penuh risiko. Bayangin aja, berkenalan dengan musik metal baru sekitar empat tahun lalu dan belajar teknik extreme vocal sendiri baru didalaminya dua tahun terakhir. Tapi dengan waktu sesingkat itu justru menjadi semangat besar bagi seorang Gabriëlle untuk fokus di skena bawah tanah. Diproduseri oleh Sambung Penumbra, keterbatasan itu berhasil menjadi mahakarya modern metal dengan pengaruh old skool hardcore yang sangat agresif dan so anthemic. 

Di balik aransemennya yang bising dan penuh agresi, “Animals” memiliki cetak biru konsep yang sangat matang lewat empat track di dalamnya: "Carved in Mud", "Heel", "Kill Their Static", dan "Anthropophagous". 

Gabriëlle menggunakan perumpamaan empat hewan babi, anjing, domba, dan tikus sebagai metafora tajam menyoroti bagaimana lingkaran kekuasaan global bergerak secara kotor, menyindir kepatuhan tanpa batas terhadap sebuah otoritas serta kritik keras terhadap sistem yang memaksa manusia bekerja tanpa henti hingga menguras tenaga dan jiwa demi keuntungan segelintir elit. 

"Aku nggak nulis ini buat semua orang," tutur Gabriëlle.

 “like it or not, its okay. Tapi kalau menurut mereka pesan yang aku sampaikan is real and related dengan apa yang mereka rasakan, itu udah cukup appreciated.” 

Bagi dirinya, musik ekstrem ini adalah caranya yang paling nyaman untuk speak up mengenai realitas dunia, dibanding harus berbicara langsung di depan kamera atau media sosial. 

EP Animals adalah sebuah rilisan debut yang sangat solid, berani, dan impresif dari seorang solois muda, Gabrielle. Ditambah dengan visual cover art yang digarap oleh Saniaryos juga berhasil memperkuat atmosfer kelam yang ingin disampaikan di dalam album ini. 

EP Animals ini sudah bisa tersedia di berbagai Digital Streaming Platforms (DSP). 
Prepare your eargasm buat dihajar si belia Gabrielle, sang agresi Metal dari Yogyakarta! (INQ)

Stromberry Blue rilis streaming Album EP “See You Darling”,  Sebuah Romantisasi Problematik Yang Melankolis Dari Hulu Sungai Kapuas, Pontianak

Categories: Music

Share
Kali ini kita akan membahas dari skena alternative, Stromberry Blue yang berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat dengan personil Ori Natasha  (Vokal/Gitar), Gian (Gitar), Adi (Bass), Andhanika (Drum), serta tambahan Wikri (Terompet) dan Aryo (Synthesizer). Mereka secara resmi merilis EP “See You Darling” dalam format digital pada akhir Maret lalu melalui Dirtwave Rekords selaku distributor rilisan fisik dan digital resminya. Sebelumnya rilisan fisik kaset pita juga sudah dirilis pada September 2025 dan sempat direview di kanal Youtube Vixtape Eps. 13. Pada EP tersebut memuat 6 tracks alternative dalam muatan chamber pop, jazz, psychedelic dan nuansa dreamy sebagai ciri khas musik mereka.

Alkisah dari pengapnya sebuah studio kecil yang mereka kelola sendiri dan diberi nama Studio Berdikari, mereka telah memulai perjalanan bermusik Stromberry Blue dan akhirnya merekam EP “See You Darling” pada pertengahan 2022 dengan dua single pertama "Close" yang dibuka dengan kick drum dan menjadi opener dalam EP ini, yang berkisah tentang kejujuran dalam romansa dingin dalam menyatakan sebuah perasaan, kemudian "Bimbang Daku Dengan Puan" yang menceritakan tentang problematika kisah nyata dalam kehidupan asmara personal Stromberry Blue. Kedua materi tersebut rampung sekitar setahun dan dirillis Agustus 2023.

Dan ditahun berikutnya Stromberry Blue kembali melanjutkan merekam empat materi dan selesai di tahun 2025. Didalam 4 materi yang sudah direkam, masing-masing diberi judul "Rabu”, sebuah lagu melankolis tentang perayaan duka disetiap malam, kemudian “Dimana Jalanmu”, yang menceritakan sebuah refleksi dari perjalanan mati rasa dalam menemukan kenangan masa lalu yang kelabu, lalu ada “See You Darling” yang bernuansa gloomy yang menjadi tanda perpisahan kepada seseorang dan ditutup dengan track “Terka”, yang menjadi kesimpulan dari keseluruhan cerita dari EP ini, bahwa semua perjalanan romansa yang sudah terjadi dan rusak itu tidak dapat kembali dan tidak dapat diobati.

Direkam kembali secara mandiri di Studio Belantara dan proses mixing dan mastering digarap oleh Hadyan F Amirullahsbagai kesatuan yang utuh dalam EP “See You Darling” milik Stromberry Blue dan kini boleh kalian dengarkan di seluruh penyedia layanan Digital Streaming. Cocok didengar sambil nikmati nuansa musik yang khas dengan lirik melankolis namun romantis dari album mereka. (INQ)

ANGEL OF DEATH Rilis “PESTA BUNUH DIRI”, Kritik Brutal Tentang Kematian Nalar di Era Global

Categories: Music

Share
Di tengah hiruk pikuk yang semakin bising oleh propaganda digital, polarisasi sosial, dan budaya instan yang menggerus identitas manusia, unit metal asal Sukabumi, ANGEL OF DEATH kembali muncul membawa ledakan baru bertajuk “Pesta Bunuh Diri”. Sebuah manifesto perlawanan terhadap kematian kesadaran manusia modern.

Formasi terbaru mereka diisi oleh Faizal (vokal), Okky (gitar), Wig (bass), dan Adji (drum). Chemistry tersebut terasa semakin matang dan terasa lebih agresif, dan lebih berani membongkar realitas sosial melalui medium musik ekstrem.

Dengan karakter agresif yang selama ini menjadi identitas mereka, Angel Of Death memperluas spektrum musik dengan atmosferik yang lebih gelap. Lagu yang meraung seperti alarm darurat di tengah reruntuhan peradaban digital yang brutal dan sesak.

“Pesta Bunuh Diri” adalah metafora satir mengenai bunuh diri eksistensial. Sebuah kondisi ketika manusia secara sukarela menyerahkan nalar, spiritualitas, bahkan identitas personalnya demi diterima dalam sistem sosial yang seragam dan dikendalikan secara masif.

Angel Of Death membedah fenomena tersebut melalui lirik yang tajam. Mereka menyoroti bagaimana manusia modern perlahan dipaksa berdansa mengikuti ritme budaya global yang menciptakan standar kebahagiaan palsu. Di balik ilusi kemajuan, manusia justru semakin jauh dari realitas dirinya sendiri.

Dalam semesta “Pesta Bunuh Diri”, media sosial digambarkan sebagai arena penghancuran kolektif. Polarisasi menjadi alat kontrol paling efektif dimana manusia sibuk saling menyerang demi ideologi yang pada akhirnya berasal dari sumber kekuasaan yang sama. Kebencian dipelihara, ego dipertentangkan, sementara kesadaran perlahan dilumpuhkan.

Angel Of Death juga menyentuh konsep digital panopticon — sebuah kondisi ketika algoritma menjelma menjadi penjara tak kasat mata. Setiap klik, interaksi, hingga data pribadi berubah menjadi komoditas dalam sistem pengawasan modern. Kita merasa bebas, padahal sedang berjalan menuju bentuk penghambaan baru yang lebih halus dan lebih mematikan.

Kematian individu menjadi inti dari keseluruhan narasi lagu ini. Sebuah perayaan massal atas hilangnya jati diri akibat kontrol sistemis yang bekerja secara perlahan namun nyata. “Pesta Bunuh Diri” terdengar seperti soundtrack generasi yang hidup di tengah kebisingan informasi namun kehilangan nalar mereka.

“Lagu ini adalah pengingat bahwa jika kita tidak segera bangun dan mengambil alih kemudi pikiran kita sendiri, kita hanyalah tamu yang diundang dalam sebuah perayaan yang bertujuan untuk melenyapkan kemanusiaan kita.”

Bersamaan dengan perilisan single-nya di berbagai platform digital, Angel Of Death juga menggelar ritual pelepasan amarah sekaligus refleksi kolektif bagi skena underground bertajuk “Pesta Bunuh Diri” dalam event live show Ruang Berisik Chapter 8 yang diselenggarakan di Pride Palace Coffee, Sukabumi bulan April lalu.

Lewat rilisan ini, Angel Of Death menawarkan kemarahan yang nyata. Mereka sengaja menyusun sebuah cermin besar bagi masyarakat modern dan memperlihatkan bagaimana manusia perlahan kehilangan dirinya sendiri di tengah pesta besar bernama peradaban. Congratulations! (INQ)