Manusmara melanjutkan langkahnya menuju album kedua “Perjalanan Asing Sepasang Terikat” lewat rilisan single ketiga berjudul “Manusia / Bidadari”. Jika pada dua lagu sebelumnya mereka banyak berbicara tentang bertahan dan memulihkan diri, kali ini membawa pendengar ke arah yang lebih hening dan membawa pendengar masuk ke ruang yang lebih personal, dimana tempat kehilangan perlahan diterima.
Lagu ini lahir dari pertanyaan yang kerap disimpan sendiri: bagaimana cara melepaskan seseorang yang sudah tidak ada, sementara jejaknya masih membentuk siapa kita hari ini? Manusmara memilih untuk membiarkan pertanyaan itu menggantung dikepala, lalu memberi jeda bagi setiap pendengar untuk merasakan dinamika tanpa terburu-buru mencari jawabannya.
Dalam alurnya, “Manusia / Bidadari” menggambarkan seseorang yang hidup berdampingan dengan bayangan masa lalu. Sosok yang pernah menjadi tempat pulang itu memang telah pergi, namun kehadirannya masih terasa seperti dalam suara yang seolah muncul di saat sepi, dalam pelukan yang kini hanya bisa ditemukan lewat mimpi. Kesadaran bahwa ia telah tiada tidak serta-merta menghapus kehangatan yang pernah ada justru di situlah kehilangan menemukan bentuk sejatinya.
“aku ini manusia, dan kau bidadari di atas sana”
Manusmara merumuskan jarak yang sederhana dalam baitnya meski ada jarak antar mereka. Kalimat ini bentuk penerimaan yang seolah mengakui bahwa ada cinta yang tidak membutuhkan kehadiran untuk tetap menjaga.
Perasaan tersebut semakin ditegaskan lewat lirik,
“cerita itu menjagaku / dari perih yang mengalun”
Di titik ini, kenangan tidak lagi diposisikan sebagai beban yang harus dilepaskan, melainkan sebagai sesuatu yang justru melindungi, dan bahkan ketika rasa kehilangan itu sendiri belum sepenuhnya hilang.
Secara musikal, pendekatan yang diambil juga selaras dengan emosi yang dibangun. “Manusia / Bidadari” hadir dalam balutan alternative rock yang lebih tenang dan kontemplatif, dengan dinamika yang harmonis. Setiap lapisan nada memberi ruang untuk emosi yang menyala, menjadikan lagu ini sebagai semacam titik jeda di tengah perjalanan album dengan lagu-lagu yang bergejolak
Melalui single ketiga ini, Manusmara mengajak untuk berdamai dengan perasaan yang meluap tersebut. Mereka menunjukkan bahwa tidak semua kehilangan harus ditutup atau diakhiri. Cukup dirawat, cukup diakui keberadaannya, dan dibiarkan tetap hidup dalam bentuk yang berbeda. Realitanya kehilangan memang tidak pernah benar-benar pergi, yang berubah hanyalah cara, dan dari kejauhan diam-diam terus menjaga. (INQ)