Please Welcome toCLOATH, unit chaotic hardcore dari Bagian Timur Indonesia, Banda Aceh telah meluncurkan EP perdananya “The Fallen God” yang gak bisa kalian tunda buat didengar dan headbang bersama! Pada album EP kali ini CLOATH merilis 6 brutally tracks sebagai alerta akan masa muda yang tak terkendali dan semangat yang tak pernah tergoyahkan!
Formasi CLOATH saat ini terdiri dari Fatahillah Reza (vokalis), Wirya Nugraha (gitaris), Dopan Rehayatsyah Putra(gitaris), M. Khairul Azmi (bassis) dan Alief Maulana (drummer). CLOATH yang merupakan Juara Hammerclash 2025resmi fire the stage pada Hammersonic 2026 mendatang sepanggung dengan para headliners internasional seperti Gorilla Biscuit, Speed, Jinjer, Counterparts and many more. Bhapp !
Sejak awal dibentuk, CLOATH sengaja memilih musik yang berkarakter kuat dengan memadukan nada gitar low tuningyang bergemuruh, riff-riff menusuk tajam, atmosfer mencekam, dan dentuman double kick drum bikin babak belur with no mercy. Pertahanan CLOATH yang agresif, full power dan memiliki "their heavy style" memang benar nyata sejak detik pertama di EP ini. Tidak hanya sekadar throat screaming dan distorsi sahaja, dipadu dengan aransemen rumit tapi bisa tetep harmonis membuat setiap lagunya terasa epik dan full layered. Band brutallygenius ini seperti merekayasa akar punk hardcore serta metal dengan berbagai karakter sound digital unik tanpa harus terikat dengan pakem pada umumnya.
Background "The Fallen God" adalah rangkaian hikayat terinspirasi dari mitologi Nordik yang mengisahkan keruntuhan para dewa sebagai alegori manusia modern yang hancur karena haus kekuasaan, konflik batin yang berlebihan serta benturan kepentingan ‘kebinatangan’. Storyline-nya jelas sejak track pertama "Ashborn" (Intro) selaku pembuka konsep cerita, kemudian dilanjutkan dengan "Odin", "Hellheim","Ragnarok" dan "Valhalla" (feat. Dixie Erlangga).
Their collaboration with Dixie Erlangga (Strangers) adalah a briliant choice sebagai ujung klimaks hantaman emosional dari EP ini. Dinamika duo vokal yang kontras semakin menciptakan perpaduan suara yang semakin menderu dan saling melengkapi satu sama lain tanpa harus mendominasi.
Di akhir EP ini pun ditutup dengan "Ashes" yang menyisakan jejak kehampaan sekaligus refleksi di purna perjalanan kisahnya.
CLOATH menegaskan kalo di momen EP "The Fallen God" ini merupakan pijakan langkah mereka kedepan dalam menjangkau audiens lebih luas lagi dan membangun interaksi dengan seluruh stakeholder kancah musik keras nasional tanpa harus lepas dari root bawah tanah yang telah membesarkan mereka. Apalagi setelah menang Hammerclash Festival 2025 lalu, CLOATH semakin berkomitmen membangun konsep yang lebih matang dan kolaborasi tepat guna demi menunjukkan keseriusan mereka siap bermain di kancah yang lebih besar.
Semoga EP tersebut berhasil menjadi medium refleksi positif baik untuk pendengar lama maupun pendengar baru yang menyukai musik berdistorsi berat seperti CLOATH.
Sebagai penutup, a reminderfrom Gampong Aceh,
"Tapak jak urat nari, na tajak na raseuki"
yang artinya: kaki berjalan, otot-urat pun melenggang, ada usaha pasti ada rezeki.
"KRUE SEUMANGAT CLOATH !"
And Grab it fast as your Brootal dancing Soundtrack at all DSP and follow theirIG: cloathcvlt for more stories about them! (INQ)
Comments
WORKER MIRIAM Perkenalkan Emo Modern Lewat Single Perdana “Think About It”
Fren sekarang kita ke Kota Pahlawan, Surabaya yang tidak pernah kekurangan talenta khususnya di skena musik underground. Untuk kali ini ada Worker Miriam dari unit alternative emo. Band yang terdiri dari Rizuma (vokal), Fais(gitar), dan Dea (drum) officially telah merilis single pertamanya yang berjudul “THINK ABOUT IT” pada bulan Desember tahun kemarin. Single tersebut hadir dengan mixed up ala Paramore dan sedikit Dashboard Confessional tentunya lebih fresh dengan lirik intim.
Lagu “THINK ABOUT IT” bercerita tentang takdir seseorang yang masih terbelenggu oleh egonya sendiri, hingga akhirnya tersadarkan oleh dorongan lingkungan pergaulannya kini dan sekaligus mengajaknya untuk merefleksikan kembali dampak dari mental yang dulu merusaknya. Sebuah tema yang hingga kinipun masih relevan dengan rakyat skena hari ini dibungkus dengan energi musik clean distortion emo yang lebih banyak berbicara from heart to heart tanpa harus over crying mencaci maki absurdnya diri sendiri.
Proses kreatif single-nya sendiri ternyata tidak semudah penggundulan hutan menjadi ladang sawit, menurut sang vokalis, lagu “THINK ABOUT IT” awalnya adalah hasil eksperimen tanpa tujuan jelas dan butuh waktu tiga bulan untuk akhirnya dirampungkan.
“Cukup struggle sih apalagi dengan kesibukan kita masing-masing saat menggarap single ini, namun akhirnya karya perdana ini dapat kami rampungkan dan kini telah tersaji ke ruang dengar teman-teman semua,” ungkap Rizuma.
Worker Miriam kedepan juga telah merencanakan single ini akan menjadi bagian dari sebuah Extended Play (EP) yang agendanya segera dirilis tahun ini sebagai pembuktian diri untuk terus berkarya dalam mengibarkan kembali bendera musik emo di ranah skena.
“THINK ABOUT IT” kini dapat dinikmati di seluruh platform streaming digital dan official Video Lyricnya juga sudah tayang di kanal Youtube resmi Worker Miriam.
Buat kamu yang kepo dengan band ini, pantengin terus perkembangan Worker Miriam melalui akun Instagram @worker.miriam. (INQ)
Comments
101% HARDCORE VOLUME 3: Silaturahmi Skena HC dan Pesona Moshpit yang Menggila bersama Kick Punch Beatdown Family
D’Arkan Coffee Cikampek menjadi saksi bisu atas gemuruhnya sebuah agenda kolektif DIY (Do It Yourself) bertajuk 101% Hardcore Vol. 3 yang digelar oleh teman-teman dari Kick Punch Beatdown Family (KPBF) pada Sabtu lalu (17/01). Event tersebut menjadi bukti nyata bahwa semangat persatuan antar sesama penikmat musik Hardcore (HC) masih tetap hidup dan berdenyut kuat di Cikampek, Karawang terutama KPBF yang kini telah menginjak usia 11 tahun.
Sebagai bagian dari 101% edisi ketiga, KPBF bisa dibilang cukup berani menghadirkan sajian line up yang benar-benar representing their hardcore community networking. Delapan band pilihan yang berasal dari berbagai penjuru pulau Jawa tampil habis-habisan menguras energi liar para HC Kids sebagai bagian dari ritual breakdown tempo tanpa jeda. Full lineup-nya terdiri dari Weaponized (Indramayu), NotBleed (Bandung), Overhate (Malang), Beneath The Scars(Bandung), People Sweet (Karawang), Dekapila (Malang), Bloom (Bekasi) & End In Pain (Jakarta).
Crowd engagement yang sejak awal sudah mulai merasuk ketika Weaponized band asal Indramayu membuka panggung 101% HC Vol. 3 dengan beberapa lagu andalan milik mereka. Two steps, Windmill, spin kicks dan crowd surfing (you named it) menghiasi lantai moshpit tanpa henti dan spontan langsung terbentuk didepan stage yang sederhana oleh crowd yang didominasi oleh Gen Z. Hampir tidak ada jarak antara band dan para saksi hidup yang hadir saat itu, it’s a true interaction where all mixed up and united. Suasana yang hangat dengan iringan distorsi beatdown punk dan caci maki seakan menjadi bahasa universal tentang HC is not about hustle alone but its about surviving together all at once. The Pain in You is The Pain Indeed !
Setlist setiap band terasa padat dan penuh intensitas. Hampir tidak ada waktu untuk filler tracks, hanya hard-hitting power chords dan discharge drum beats yang terus menggema sebagai anthem moshpit. Beberapa band menonjolkan two-step parts seperti yang dilakukan oleh sang vokalis NotBleed yang menggiring penonton untuk bergerak bebas terus menerus, sementara personil yang lain udah tenggelam pada heavy breakdowns dalam beat yang sama.
Over Hate from Malang juga tidak mau ketinggalan momen dengan mengeluarkan jurus beatdown-nya seperti pada single“Eternal Peace” yang soundnya terdengar masih mentah namun memberikan efek samping headbanging. Merekapun memberikan kesan mistis pada penampilan mereka dengan membakar dupa sebagai salah satu bentuk ritualnya. Respect!
Beneath The Scars yang baru merilis single “Blood Funeral” juga ikut menghiasi lantai dansa 101% HC Vol. 3 dengan karakter sound HC yang sedikit berbeda namun tetap enerjik. Once again their power controlled the stage on blast. Kabarnya mereka juga pernah ikut meramaikan 101% HC Vol. 2 yang diadakan pada 2024 lalu.
Tidak berselang lama, salah satu kebanggaan Kota Karawang, People Sweet mengambil alih stage dengan 100% powerful energy membawakan koleksi single mereka termasuk yang terbaru yaitu “Parade Ego” yang baru aja rilis di sosial media. Mereka tampil habis-habisan pada malam itu dengan karakter hardcore screamo yang sudah menjadi ciri khas People Sweet, walaupun mungkin ada yang meragukan kalo People Sweet itu bukan hardcore tapi secara musikal they’re absolutely Hardcore As F**k. No doubt about it! People Sweet juga sering support band dan ikutan gigs lokal sebagai bagian tak terpisahkan dari akar musik mereka yang juga berasal dari komunitas musisi Karawang yang telah terjalin sejak 2015 silam. Go Ahead People Sweet !
Rupanya dinginnya malam dan hujan deras tak membuat stage dan moshpit 101% HC Vol. 3 melemah, malah semakin panas membara ketika perwakilan band asal Malang City, Dekapila is taking control the crowd and started to kicking their ass ! Kombinasi Vokal growl dan beat breakdown HC seperti pada lagu “The City Suffers Under Greed” adalah salah satu keunikan band ini. Wajar jika kehadiran mereka malam itu sangat dinantikan oleh para HC Kids sebagai pengiring yang sangat pas untuk ber-windmill ria dan bergaya two step dan pecahkan konsentrasi massa yang terkena tendangan mesra ala capoeira tanpa target.
Next, another broken beatdown HC from Bekasi yaitu BLOOM menginvasi crowd dengan sound distorsi yang cukup brightala Hatebreed dan throat screaming yang memilukan dari seorang Ayup, sang frontman wanita beringas semakin membuat situasi menjadi tidak terkontrol dan sedikit membuat panik karena crowds on the dance floor saling bergesekan dan tidak sedikit yang terkena salam pramuka dari para uncontrolled human. Oh iya, mereka juga baru saja merilis Maxi Singles “Demonic” yang bisa kalian cek di situs Bandcamp-nya.
End In Pain sebagai pamungkas malam 101% HC Vol. 3 menjadi pusat perhatian yang amat sulit untuk dilepaskan begitu saja walaupun hujan deras semakin menunjukkan kuasanya pada malam itu. Down tempo disertai beat drumold skool dan vokal pig squeal membersamai kehangatan massa pencinta HC dan Metal garis keras. Tidak ketinggalan kombinasi slamming dance dan spinning kicks mewarnai penampilan End in Pain waktu itu. End in Pain mengakhirinya dengan indah without painand revenge dengan berpesan,
“Tetap berkarya, jangan pernah ada Gap diantara kalian, jangan mencuri dan merugikan Orang lain.” Ucapnya bersemangat.
Seorang sosok berkacamata yang sering mondar-mandir disekitar venue bernama Aldiva, selaku penanggung jawab event 101% Hardcore yang juga merupakan ketua dari KPBF menyampaikan bahwa event ini merupakan agenda tahunan Kick Punch Beatdown Family (KPBF) yang sudah bergulir sejak 2023 yang bertujuan sebagai ajang silaturahmi antar sesama komunitas HC yang berada dari luar Cikampek dan sekitarnya. Kegiatan ini adalah merupakan komitmen kolektif dari semua anggota KBPF sejak Volume 1. Adapun pada Vol. 3 baru kerjasama dengan sponsor lokal karena ada tambahan jumlah penampil band dibandingkan pada Volume sebelumnya. Adapun persiapan eventnya terbilang singkat yang hanya butuh waktu sekitar sebulan hingga hari H.
“Kami berharap agar di Cikampek diperbanyak event-event seperti ini sebagai ajang ekspresi diri sekaligus sebagai media informasi antar komunitas terutama di Cikampek dan Karawang. Khusus untuk KPBF sendiri semoga jalinan kita semakin kuat sebagai keluarga besar, bukan hanya sekedar komunitas saja.”
Aldiva juga menambahkan jika masih memungkinkan berencana akan kembali membuat event serupa di Cikampek pada tahun ini dengan mengundang band Kosmic HC yang berasal dari Negeri Jiran, Malaysia dan ZIP dari Jakarta.
Kedepannya KBPF juga akan mencoba aktifitas lain sebagai bagian dari support event yang akan mereka laksanakan nantinya.
Overall, gigs lokal seperti ini patut diacungi dua jempol besar karena dengan budget terbatas tapi mampu menghadirkan line up yang cukup pamor, sound system yang mumpuni dalam, time management yang terjaga, crowd control yang senantiasa saling mengingatkan ketika terjadi pergesekan di depan panggung, hingga vibes positif duo MC Agap & Bogel yang terjalin dengan para penonton sejak awal acara. Hal tersebut bertujuan agar esensi dasarnya sebagai ajang silaturahmi dapat terus berlangsung dengan baik di skena Hardcore atau di skena lain dimasa mendatang.
Sampai jumpa di Volume Selanjutnya, Semoga KPBF lebih kompak lagi dan terus bikin gigs seru lagi yak. STAY TRUE, STAY HARDCORE! (INQ)