DEVOTIONS Perkenalkan “DISTOPIA”Album Death Metal Penuh Amarah, Visualiasi Kiamat dan Kekacauan

Categories: Music

Share
Unit death metal asal Bali–Jawa, Devotions resmi memperkenalkan album penuh terbaru mereka bertajuk “Distopia”. Album ini menjadi pernyataan Devotions bak sebuah ledakan musikal yang menyatukan agresi ekstrem dengan narasi tentang kehancuran peradaban, kontrol sosial, dan arah dunia yang kian kehilangan arahnya.

Album ini dirancang sebagai satu kesatuan konsep yang merefleksikan kegelisahan Devotions terhadap realitas modern saat inu. Dunia yang dipenuhi ambisi, teknologi tanpa etika, dan kekerasan sistemik menjadi bahan bakar utama yang mendorong kemarahan dalam setiap komposisinya.

Visualisasi Kiamat dan Kekacauan

Judul “Distopia” menemukan perwujudannya secara utuh lewat artwork album. Visual utama menampilkan sosok entitas raksasa yang bangkit di tengah kota yang hancur dilalap api. Sebuah metafora tentang kekuatan destruktif yang lahir dari keserakahan manusia itu sendiri. Reruntuhan, api, dan skala kehancuran yang masif menjadi simbol runtuhnya nilai, moral, dan harapan di tengah peradaban yang merasa paling maju.

Pendekatan visual ini selaras dengan lirik-lirik Devotions yang tajam dan nihilistik. Tak ada romantisasi agaknya, yang ada hanyalah potret dunia yang berjalan menuju akhir karena pilihannya sendiri.

Evolusi Musikalitas yang Lebih Brutal

Secara musikal, “Distopia” menandai fase pendewasaan Devotions tanpa mengorbankan kebrutalan. Album ini memperluas spektrum death metal mereka dengan komposisi yang lebih kaya, agresif, dan lebih terstruktur.

Riff-riff gitar yang invasif menggabungkan kecepatan old-school death metal dengan bobot modern yang pekat. Dentuman drum bergerak presisi dan destruktif melalui blast beat yang agresif serta pola ritmik yang menghantam tanpa ampun. Vokal hadir sebagai medium amarah murni, mempertegas atmosfer apokaliptik yang menyelimuti album ini.

Secara tematik, Devotions mengangkat isu kontrol sosial seperti kehancuran moral, runtuhnya pedoman hidup, hingga sisi tergelap kemajuan teknologi. Semuanya dibalut dengan ekstrem dan konfrontatif.

“Distopia adalah kemarahan kami terhadap arah dunia saat ini. Ini bukan sekadar album musik, ini adalah soundtrack bagi akhir zaman yang kita ciptakan sendiri,” ujar perwakilan dari Devotions.

Pernyataan Posisi Devotions

Sebagai kuartet yang tumbuh dari skena underground, Devotions dikenal konsisten merilis karya dengan raw energy dan identitas yang kuat. “Distopia” menjadi tonggak penting dalam perjalanan mereka di peta musik ekstrem Indonesia.

Dengan konsep matang, produksi solid, serta visi artistik yang jelas, “Distopia” mempertegas Devotions sebagai unit death metal yang patut diwaspadai. Album ini berdiri sebagai pengingat bahwa di tengah dunia yang kian rusak, kemarahan masih bisa menjadi bentuk kejujuran paling jujur.

Melalui Distopia, Devotions mengajak pendengar untuk masuk ke dalam lanskap kehancuran yang mereka bangunl untuk merasakan tekanan, amarah, dan kegelisahan yang lahir dari realitas dunia hari ini. Album ini telah tersedia dan siap diperdengarkan dengan volume maksimal dan tanpa kompromi. Hellyeah! (INQ)

Solo Project Karawang URAR RIG Lepas “Malaikat dari Mimpi Buruk” Hadirkan Imajinasi yang Lahir dari Realita Pahit

Categories: Music

Share
Solo project alternative rock asal kota industri Karawang, URAR RIG, kembali merilis karya terbarunya. Kali ini lewat single kedua bertajuk “Malaikat dari Mimpi Buruk”, yang dirilis bersamaan dengan lyric video. Berbeda dari rilisan sebelumnya, single ini hadir dengan energi yang lebih agresif dan menyentuh hati.

“Malaikat dari Mimpi Buruk” menjadi wujud keresahan sekaligus imajinasi yang diramu dari realita pahit. Lagu ini dimasak melalui proses eksplorasi yang panjang, menampilkan kombinasi hantaman drum yang liar, distorsi gitar yang kasar, serta sentuhan nuansa orkestra yang mempertebal atmosfer gelap. Semua elemen tersebut berpadu harmoni dalam lirik yang tajam.

URAR RIG digawangi oleh Rizki, atau yang akrab disapa Urar (gitar/vokal). Ia menjelaskan bahwa single ini merupakan rilisan kedua setelah single perdana “Remuk Harapan”, yang lebih dulu dirilis pada 12 Mei 2025 dan telah tersedia di berbagai platform digital.

“Lagu ini sebenarnya sudah aku tulis sejak 2014–2015. Tapi proses produksinya sempat berhenti lama karena keterbatasan budget dan minimnya pemahaman teknis, apalagi semua dikerjakan secara mandiri seperti dari penulisan lirik, aransemen, sampai rekaman,” ujar Urar.

Ia menambahkan, perkembangan teknologi dan ketersediaan gear produksi saat ini menjadi titik balik bagi URAR RIG untuk menyelesaikan materi yang sempat tertunda.

“Syukurnya sekarang semua terasa lebih memungkinkan. Pelan-pelan track-nya bisa diselesaikan sampai akhirnya siap dirilis,” lanjutnya.

Lebih jauh, Urar menegaskan bahwa “Malaikat dari Mimpi Buruk” ditulis dengan pendekatan yang sangat personal.

“Lagu ini jujur dan emosional. Aku ingin pendengar bisa ikut ngerasain apa yang aku pikirkan dan rasakan, lalu menafsirkan sendiri maknanya.”Tutupnya bersemangat.

Single “Malaikat dari Mimpi Buruk” kini sudah tersedia di seluruh platform streaming digital. Sementara itu, lyric video-nya dapat disaksikan melalui kanal resmi URAR RIG.

Seperti pada rilisan sebelumnya, artwork single ini kembali digarap oleh seniman asal Malang, Wisnu Rizky Prabowo Aji. Untuk proses mixing dan mastering, URAR RIG mempercayakannya kepada Asep Hamdan dari My September Record. Congratulations! (INQ)

KULTUS PARA PENDOSA: Sindiran Tajam DPRTYBAND untuk para “Kadzadzaba” di Era Modern

Categories: Music

Share
Dengan mengusung genre Alternative Rock, musik DPRTYBAND kerap diidentikkan dengan Rock ‘n’ Roll karena energi ‘forte’nya, namun mereka tetap dengan taste musik yang berbeda. Salah satu kekuatan mereka terletak pada kemampuan mengangkat isu sosial era anak muda masa kini dengan lirik yang relate dan banyak menyentuh karakter kehidupan di era modernisasi. Selain itu juga mereka sering tampil live dengan konsep teatrikal yang membuat kehadiran mereka semakin memukau di kancah musik alternatif Karawang.

Kembali ke single terbarunya, “Kultus Para Pendosa” sendiri sudah menggugah rasa penasaran dari judulnya saja. Secara harfiah, “kultus” mengacu pada kelompok sosial ekstrem dengan pengabdian berlebihan dan sering dianggap sebagi aliran yang menyimpang. Dalam konteks lagu ini, frasa tersebut dimaknai sebagai sekelompok orang yang merasa paling benar dan dengan mudahnya merendahkan pihak lain yang dianggap “berbeda” dan mencap mereka sebagai pendosa. 

Lagu ini langsung menyasar ke tema yang relevan dan berani yaitu fenomena kelompok yang gemar menghakimi, menggunakan dalih agama atau moralitas sebagai tameng untuk memaksakan kehendak. Mereka juga disebut ‘kadzadzaba atau munafik’ dalam bahasa Arab yang berarti para pendusta bertopeng agama. Melalui lirik yang ditulis oleh Fizol Muhamad, DPRTYBAND menyajikan sebuah sindiran tajam terhadap hipokrisi yang kerap terjadi terutama di kalangan elit politik dan tokoh agama yang memanipulasi narasi keagamaan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Pesannya jelas yaitu sebagai kritik tajam terhadap mereka yang menyalahgunakan otoritas spiritual untuk mengontrol, menghakimi, dan menjustifikasi cara-cara yang tak sepenuhnya suci dan penuh kebohongan.

Dari sisi produksi, “Kultus Para Pendosa” adalah hasil kolaborasi DPRTYBAND dengan Broadway Studio, sebuah rumah produksi lokal yang memiliki visi sejalan. Proses kreatif yang berlangsung selama sekitar satu bulan mulai dari penulisan lirik hingga aransemen final terasa menghasilkan chemistry yang solid. Kolaborasi ini memungkinkan mereka bereksperimen dan menggabungkan kekuatan masing-masing, menghasilkan sebuah komposisi yang tidak hanya kuat secara pesan, tetapi juga matang secara musikal. Sentuhan Alternative Rock mereka yang khas dengan sound gitar yang tegas dan vokal yang penuh karakter, berhasil membungkus pesan sosial menjadi sebuah track anthem yang enerjik dan mudah dicerna.

Secara keseluruhan, ayat-ayat “Kultus Para Pendosa” adalah sebuah langkah kepercayaan diri dan berani dari DPRTYBAND. Mereka tidak hanya konsisten dengan identitas sebagai band yang kritis dengan isu sosial melalui musik keras, tetapi juga menunjukkan pematangan dalam menyampaikan kritik yang lebih kompleks dan berbobot. Sebuah karya yang patut diapresiasi, baik untuk dinikmati aransemennya maupun untuk direnungkan pesan di baliknya. 

DPRTYBAND membuktikan bahwa dari sebuah tongkrongan di Karawang, bisa lahir suara yang lantang dan memiliki peran penting untuk didengarkan.Single beserta videoklip “Kultus Para Pendosa” kini sudah beredar bebas di Spotify dan Youtube. Congratulations Fren! (INQ)