Band indie rock alternatif asal Bogor, The Basement Dry, kembali merilis karya terbaru mereka berjudul “Karam” pada akhir November lalu. Single ini menjadi bagian dari janji mereka untuk lebih produktif menuju album perdana, sekaligus menandai beberapa perubahan menarik dalam perjalanan musik quartet yang terdiri dari Ken Norman (vokal & gitar), Andreas ‘Andri’ Yendra (gitar), Jody Rinaldy (bass), dan Daniel Agung Samudera (drum).
Setelah beberapa rilis sebelumnya, seperti mini album "Statement" (2023) dan single "Miles" (2025), menggunakan lirik bahasa Inggris, lagu "Karam" menjadi tonggak pertama The Basement Dry menggunakan bahasa Indonesia. Menurut Ken, proses ini terjadi secara alami.
"Ketika menyusun lagu, saya melakukan humming sambil membayangkan lirik dalam bahasa Inggris atau Indonesia. Bahasa yang terasa lebih 'sreg' saat itulah yang kemudian dipakai," ujarnya.
Daniel menambahkan bahwa pilihan ini murni berdasarkan sense of music, bukan demi mengikuti tren kalcer semata ya fren.
Selain itu, "Karam" juga memperkenalkan dinamika vokal baru. Untuk pertama kalinya, Andri turut mengisi vokal pada bagian reff, menambah kedalaman dan lapisan baru pada komposisi lagu. Proses vokal ini dibimbing oleh Ayu Muthia Zahra (Sousade & The Jansen) yang bertindak sebagai vocal director, dan akan terus mendampingi hingga proses album selesai.
Meski dibalut dengan musik yang terdengar melankolis dan intens, personil Basement Dry mengaku bahwa lirik "Karam" tidak berasal dari kisah nyata atau curahan hati pribadi.
"Sama sekali tidak ada curhat atau kisah nyata di baliknya, ini murni abstrak," jelas Jody sambil tertawa.
Ken Norman mengonfirmasi hal serupa, menyebut inspirasi liriknya berasal dari pendekatan absurd ala band Netral pada album "Minggu Ini".
"Saya hanya menyambung kata per kata. Tidak ada narasi khusus. Substance-nya mungkin cuma stres karena dimarahin bos di kantor," candanya.
Pendekatan ini menjadikan "Karam" seperti lukisan abstrak, penikmat diajak merasakan suasana, tanpa diberi cerita yang terstruktur.
Di balik layar, The Basement Dry tetap mempertahankan tim produksi yang andal. Proses rekaman dilakukan di Bens Studio n' Records, dengan Deni Noviadi (Swellow, Neal & Adopta) sebagai penanggung jawab rekaman, mixing, dan mastering. Kualitas suara yang dihasilkan tetap solid, dengan distorsi gitar yang tegas, ritme drum yang energik, dan bassyang mengalur kuat.
Sementara itu, artwork single ini kembali menjadi hasil kolaborasi dengan Moehammad "Wanto" Ridwan (Bersoreria Bogor). Uniknya, foto yang digunakan merupakan dokumentasi tugas kuliah Wanto, dengan model Naila Triandaya Putri. Ini menjadi kolaborasi ketiga mereka, menunjukkan konsistensi visual yang erat dengan identitas band.
Single “Karam” merupakan langkah berani The Basement Dry dalam bereksplorasi, baik dari segi bahasa, aransemen vokal, maupun pendekatan penulisan lirik. Single ini menawarkan atmosfer musik indie-rock yang dark, dengan pesan lirik yang terbuka untuk interpretasi masing-masing pendengar. Dan sebuah pertanda menarik untuk menyambut album perdana mereka di masa depan.
Single "Karam" from Basement Dry kini telah tersedia di berbagai platform streaming musik. Go check it now! (INQ)