“Desemberantakan” : Riuh Kecil, Gaung Panjang Skena Indie Cikampek

Categories: Collaboration

Share
Kalau ada yang masih mengira geliat musik independen di kawasan industri Karawang hanya bergulat  di pusat kota, maka “Desemberantakan” membuktikan sebaliknya. Digelar oleh Synergigs di Warkop De Palawa, Cikampek, Kamis (13/12), acara ini menegaskan bahwa denyut skena lokal hidup dan tumbuh juga di arah lintas wilayah jalur Pantura dengan karakter dan ruangnya masing-masing. Event ini bentuk penegasan masih hangatnya ekosistem kalcer skena musik indie Indonesia khususnya daerah Karawang dan sekitarnya.

Mini gigs “Desemberantakan” dibuka dengan tepat oleh DJ Zdeza. Membuka percakapan yang cerdas, menyambungkan titik-titik antara berbagai setlist genre dari reggae yang melayang hingga beat soul and funk yang menggigit. Penampilannya sukses mencairkan suasana dan mengajak penonton ikut menikmati suasana venue terbuka De Palawa sebelum break Maghrib.

After break Maghrib, panggung diserahkan kepada debut Marryanne dari Cirebon. Mereka menaklukkannya dengan penuh keyakinan dan percaya diri. Meski sedang dalam Distant Light Tour dengan formasi tidak lengkap, tapi kehadiran Oya (vokal), Cyril dan Erlangga (gitar) yang dibantu Bangkit (bass) dan Nazar (drum) terasa sangat solid. Vibrasi yang gelap, sound distorsi yang padat dan vokal Oya dan Cyril yang melayang-layang bersilang dengan dark noise-nya secara langsung menegaskan identitas shoegaze mereka. Mereka membawakan lagu-lagu andalan dari EP Into The Void seperti “Bookshelves Epilogue”, “Violet”, dan “Numb”, plus preview lagu baru yang akan mereka rilis dalam waktu dekat. Suasana menghanyutkan yang mereka ciptakan adalah momen berharga bagi pecinta shoegaze dan membuktikan bahwa musik yang sering dianggap ‘introvert’ ini bisa sangat powerful jika dibawakan secara live.

Energi spontan meledak ketika Kale asal Bandung bergantian naik ke panggung. Band ini membawa alternatif modern rock dengan intensitas yang berbeda, frontal, enerjik dan tanpa jeda. Lagu-lagu seperti “Brood”, “I’m Done”, “Selamanya”, dan “Sermon” mereka sodorkan penuh semangat dan diserap riuh oleh penonton yang sudah kepalang panas. Kakang (gitar/vokal), Erwin (gitar), Adit (bass/vokal latar), dan Budi (additional drum) tampil dengan kematangan panggung yang didapat dari tour panjang Mei-Oktober lalu. Puncaknya adalah ketika Kakang stage diving, melebur dalam lautan penonton sebagai sebuah simbol hubungan simbiosis mutualisme antara band dan penikmat musiknya.

Sebagai penutup dari band tuan rumah, Emilio and The Groves membawa perubahan atmosfer yang pas. Setelah dua band penampil yang intens, mereka kemudian mengajak penonton bersantai, berayun-ayun dengan alunan reggae yang hangat. Mereka memainkan dua lagu orisinal (“Melangkah” dan “Will Be a Way”) yang rencananya akan masuk EP perdana mereka, diselingi lagu cover Bob Marley dan Momonon yang langsung disambut meriah. Penampilan mereka menutup malam dengan senyuman dan rasa penuh syukur, menunjukkan sisi lain dari musik indie yang tak kalah penting yakni kebersamaan dan kecintaan pada musik lokal yang menyenangkan.

Mumpung suasana masih hangat, kami berkesempatan ngobrol santai dengan para penampil di "Desemberantakan" tentang pandangan mereka terhadap skena indie lokal. Cyril ‘Marryanne’ melihatnya sebagai optimisme yang terus berkembang sesuai perkembangan zaman. Menurutnya, skena lokal indie terutama shoegaze, terus beregenerasi dengan sehat. 

“Berbagai genre sudah banyak saling silang menyesuaikan selera sekarang, seperti dicampur emo, metal, dan lain-lain,” ujarnya. 

Oya menambahkan, meski selera personel bisa berbeda, akar Marryanne tetaplah shoegaze.

“Itu ‘wajib’ buat kami. Tapi ramuannya bisa universal sesuai karakter masing-masing. Jadi nggak terikat pakem shoegaze aja,” jelasnya. 

Mimpi terbesar mereka adalah karya mereka bisa dikenal lebih luas dan berkesempatan tampil dipanggung besar seperti Synchronize Fest atau Joyland. Mari kita doakan semoga lancar terus dan mimpinya terwujud yap Marryanne!

Pandangan serupa diungkapkan Kakang ‘Kale’ yang menekankan ragam kekayaan dalam musik indie sudah cukup banyak, terutama alternative

“Apalagi jika digabungkan dengan rock dan metal, pemahaman dan karakter musiknya tentu akan semakin luas,” ujarnya. 

Bagi Kale, eksplorasi ini adalah napas yang membuat scene tetap dinamis dan tidak stagnan. Obrolan tentang peta musik indie makin menarik ketika Kakang ‘Kale’ berbagi pengalaman tur mereka.
 
"Waktu tur 'Mistake' di 15 kota, terutama Jawa Tengah dan Timur yang lagi hype itu hardcore dan turunannya," ujarnya. 

Namun, ia menekankan ada perbedaan keberagaman selera terutama di Jabar dan sekitar Bandung. 

"Di Jabar lebih general. Nggak cuma hardcore, tapi jenis musik lain juga tetap jadi pilihan sesuai selera publik. Intinya, secara keseluruhan industri musik indie lokal terus mencari celah pasar dengan keunikan sendiri yang otentik dan tanpa dipaksakan."

Pandangan ini memberi highlight bahwa ada dinamika yang sehat yang selama ini terjalin. Skena lokal tidak bergerak seragam seperti trend massal pada umumnya, tetapi lebih merespon ke karakter dan identitas lokal masing-masing. Seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur yang punya gelora hardcore waves, sementara Jawa Barat menunjukkan eklektisisme genre yang lebih cair. Ini bukan soal yang lebih baik, tapi soal bagaimana musik hidup dan beradaptasi dalam konteks komunitasnya.

Sementara pandangan dari kalangan musisi Cikampek sendiri sebagai para pelaku skena lokal, DJ Zdeza dan Emilio and The Groves. Mereka  sepakat bahwa perkembangan musik indie di Cikampek dan Karawang pada umumnya juga sudah sangat berwarna, tidak didominasi satu genre tertentu. 

"Dengan adanya berbagai event terutama di Cikampek jadi mood booster sekaligus exposure positif buat kami para musisi lokal buat mengembangkan mimpi dan bakat di dunia musik indie" ujar Emil selaku vokalis di Emilio and The Groves. 

Event seperti "Desemberantakan" adalah ‘nafas’ penggerak siklus kreatif yang memberikan panggung, kepercayaan diri dan jaringan yang vital bagi pertumbuhan musisi di Cikampek dan Karawang pada umumnya.

Tansyah, selaku founder Synergigs yang juga merupakan musisi lokal memberikan penegasan tentang filosofi di balik “Desemberantakan”. Harapannya sederhana namun mendalam yaitu agar event seperti ini terus berlanjut sebagai wadah ekspresi dan tempat berkumpulnya para kolaborator.

“Kami ingin bersama-sama mengangkat potensi musisi lokal, terutama di Cikampek, tanpa harus terikat dengan genre tertentu,” ujarnya. 

Pernyataan ini menangkap esensi dari apa yang telah terlihat pada malam itu sebuah panggung inklusif dimana shoegaze, alternative rock, reggae, dan set DJ bisa tampil bersama dan masing-masing juga mendapat apresiasi dari para penontonnya.

Rencana Tansyah dan Synergigs tidak berhenti di situ. Ada ambisi yang lebih besar yang tengah dirancang.
 
“Kedepannya Synergigs berencana membuat event yang lebih besar lagi dan tentunya akan lebih keren di Cikampek,” tambahnya dengan semangat. Ini adalah janji dan proyeksi yang menggembirakan. 

“Jadi, tunggu tanggal mainnya ya!!!”

Pernyataan Tansyah ini merupakan doa yang harus kita bantu laksanakan agar supaya event seperti “Desemberantakan” menjadi sebuah proof of concept bahwa ada komunitas yang solid dan antusiasme yang cukup besar di Cikampek. 

Rencana event yang “lebih besar” dan “lebih keren” mengisyaratkan sebuah evolusi dari mini gigs menuju sebuah festival atau seri event berkelanjutan yang bisa menempatkan Cikampek di peta musik indie regional secara lebih permanen. Bisa dikatakan “Desemberantakan" trigger dari semangat besar skena musik indie Indonesia yang berani unik, tumbuh dari komunitas, dan maju bersama. Remindering bahwa terkadang momen-momen berharga justru lahir dari kesederhanaan sebuah panggung, segelas kopi, dan deru distorsi yang menyatukan hati. Selain itu juga sebagai ruang berkumpul, bertukar energi, dan membangun narasi bersama.

Congrats! Synergigs, Warkop De Palawa dan tentu saja Marryanne, Kale, Emilio and The Groves, serta DJ Zdeza. Kalian telah membuktikan bahwa “keriuhan” yang sesungguhnya bisa dimulai dari sebuah panggung kecil disebuah Warkop Cikampek dan semoga gaungnya akan terus terdengar hingga kemana-mana. Sampai jumpa di gigs-gigs keren selanjutnya! (INQ)

WARFOR Suguhkan “Bajingan Paruh Waktu”, Kampretisme Bermuka Dua Dengan Vibrasi Metalcore

Categories: Music

Share
Malang tak lagi sekadar dingin, ia kini memanas dan menggelegar, menyimpan amarah terkompresi rapi dalam riff, blast beat, dan teriakan yang menyayat. WARFOR, pasukan metalcore kota ini, kembali merangsek ke garis depan dengan senjata terbaru mereka: “BAJINGAN PARUH WAKTU”. Sebuah serangan berturut-turut setelah “ANGKARA MURKA” dan “ASSASSIN’NATION”, sekaligus tembakan peringatan keras menuju album perdana di 2026.

Single-nya berjudul “Bajingan Paruh Waktu” sebuah frase yang jenaka, kasar, dan tragis-sekaligus. Bukan hanya sekadar umpatan, tetapi sebuah diagnosa sosial yang presisi. Sasarannya jelas para pemegang kuasa yang hipokrit, yang bersembunyi di balik slogan rakyat kecil sementara tangan mereka kotor mengambil rezeki orang lain. WARFOR memasak metafora yang rumit. Mereka memilih bahasa yang blak-blakan, langsung ke urat nadi kemunafikan, lalu membungkusnya dalam musik yang sama beringasnya.

Kolaborasi dengan Jemba (Limbo Hardcore) adalah sebuah masterpiece. Sentuhan vokal hardcore-nya kasar namun berenergi penuh, tampak sebuah keberanian “straight to your face” yang menyempurnakan teriakan metalcore ala WARFOR. Hasilnya? Bhap!! Sebuah kolaborasi yang brutal dan menyayat hati. Drum yang cepat seperti detak jantung yang sedang berpacu melawan maut, riff ala chainsaw machine, diselingi momen-momen clean vocal yang justru terdengar lebih menantang. Ini bukan cuma lagu, ini sebuah unjuk rasa marah yang terdengar begitu jelas.

Hebatnya, seluruh kemarahan terstruktur ini lahir dari konsep DIY (Do It Yourself). Direkam dan diproduksi mandiri di studio rumah Indra Widjaya (bassist), “Bajingan Paruh Waktu” adalah bukti bahwa energi kreatif dan teknikal musisi ekstrem Indonesia telah level up.

Dan perhatikan juga strategi visualnya. Video lirik yang digarap oleh Kevin Euaggelion (Utkarsa)— perpanjangan dari pesan lagu dalam membangun atmosfer yang gelap dan penuh tekanan guna memastikan pesan “bajingan” yang bisa dirasakan.

“Bajingan Paruh Waktu” mencari kepala para penipu untuk dijadikan sasaran tembak kemarahannya. Lagu ini ciptakan gaung metalcore yang masih punya taring dan nyali dimana sebuah kritik sosial yang dibungkus dalam dominasi distorsi yang tak kenal kompromi. Mereka menyediakan medium penyuaraan yang keras bagi yang merasa tak bersuara, dan sekaligus menyajikan serapan musik baru yang segar (dan marah) bagi kancah metalcore Indonesia.

“Bajingan Paruh Waktu” adalah single ketiga WARFOR yang dikonfirmasi rentetan perjalanan menuju album 2026 dan propaganda terbaik mereka sejauh ini.

SALAM MURKA! Dengarkan dan bersiaplah menyambut “BAJINGAN PARUH WAKTU” beserta video musik berliriknya yang telah dirilis di kanal YouTube mereka. (INQ)

WOLFYOUTH Asal Karawang Lepas Single Bertajuk “Ribuan Rencana”, Antara Ambisi Berbalut Anxiety

Categories: Music

Share
Karawang lagi-lagi kirim sinyal. Kali ini bukan dari pabrik atau industri, melainkan datang dari Wolfyouth, unit indie rockyang dengan langkah mantap sedang membangun narasi mereka sendiri. Setelah melepas dua single sebelumnya sebagai pengantar yaitu, “Binar” (2023) dan “Akhir Pekan” (2024) kini mereka menghadirkan “Ribuan Rencana”. Lagu ini bentuk perjalanan menuju mini album perdana mereka yang sudah didepan mata.

“Ribuan Rencana” adalah judul yang paradoks. Terdengar optimis, penuh plotting dan strategi, tapi justru mengangkat beban yang menghantui generasi sekarang tentang kekhawatiran akan masa depan. Ditulis oleh Lopes dan Reezcky, dengan sentuhan aransemen Fakhri, lagu ini mengolah emosi yang kompleks seperti dorongan ambisi dan pencarian makna di tengah segala kebisingan hidup. Lagu yang berusaha menjembatani apa yang ada didalam kepala dengan realitas fana.

Dan disitulah kekuatan utama Wolfyouth karena sejak awal, niat mereka jelas menyampaikan realitas sosial yang mereka rasakan dan alami. “Ribuan Rencana” menjadi perpanjangan dari misi itu. Ia lahir dari pengalaman pribadi, observasi lingkungan sekitar, dan keadaan sosial yang mengitari. Dalam gejolak gitar dan dinamika rhythm section (Jagur pada bass, Nicko pada drum), ada suara hati yang ingin didengar dan ada keresahan yang ingin disatukan.

Musiknya sendiri bergerak dalam spektrum rock yang cukup luas, seperti yang mereka janjikan. Ada jejak post-rock atau energi grunge dalam distorsi gitarnya dan beat punk pada drum, tapi yang jelas semua dirajut menjadi suara yang kohesifdengan anthem penuh intensitas. Aransemen Fakhri berhasil menciptakan atmosfer yang tegang namun meledak, seperti gambaran dari pikiran yang penuh rencana dan imajinatif.

Single yang dirilis via RFNP Records merupakan penanda yang penting dalam bagian dari proyek yang lebih besar. Di tengah banjir lagu single yang lepas konteks, Wolfyouth memilih pendekatan album oriented dan itu adalah sesuatu yang patut untuk diapresiasi. Ibaratnya setiap rilisan adalah sebuah puzzle dan “Ribuan Rencana” adalah potongan penting yang membuat kita penasaran dengan gambar utuhnya.

Wolfyouth, dengan lima personilnya (Lopes, Reezcky, Fakhri, Jagur, Nicko), adalah bentuk entitas positif bagaimana musik indie rock lokal tetap relevan ketika punya pesan dan konteks. 

“Ribuan Rencana” secara tersurat ungkap kejujurannya dan gelora yang dibawanya untuk mengangkat sesuatu yang nyata yakni anxiety atau kecemasan masa depan yang universal dengan pengampaian bahasa musik yang personal dan penuh pesan.

Mereka berasal dari Karawang dengan latar belakang musik yang berbeda-beda tapi sepakat kalo musik harus menyentuh realitas. Dan lewat single terbaru ini serta janji mini album dan “beberapa kejutan”, Wolfyouth sedang memetakan realitas itu dengan kekuatan musik mereka yang bersuara lantang. 

“Ribuan Rencana” sudah bisa didengarkan di seluruh platform streaming digital. GO n CHECK ‘EM NOW ! (INQ)