FOVHERE Hadirkan Emo Revival yang Relatable Lewat “Our Own Shade”

Categories: Music

Share
Unit pop punk/alternative asal Sidoarjo, Jawa Timur, FOVHERE, resmi memperkenalkan langkah awal mereka menuju debut EP yang telah rilis lewat single bertajuk “Our Own Shade”. Digawangi oleh Yogi (drum), Ulul (gitar), dan Raffi(bass/vokal), Fovhere membawa kembali nuansa pop punk era 2010-an yang terasa familiar namun tetap segar.

“Our Own Shade” dibangun dari ketukan drum yang energik, riff gitar yang catchy, serta balutan lirik penuh emosional yang langsung memeluk pendengarnya. Bak ruang refleksi di mana kenangan, perasaan, dan realita bertabrakan dalam satu waktu.

Secara naratif, “Our Own Shade” mengangkat fase paling rumit dalam sebuah hubungan yaitu ketika rasa masih ada, namun keadaan memaksa untuk melepaskan. Fovhere berhasil menangkap momen di mana seseorang masih terikat secara emosional, tapi perlahan belajar menerima dan merelakan. Bukan tentang menyerah, melainkan tentang memahami bahwa tidak semua hal harus dipertahankan.

Lagu ini menghadirkan sudut pandang yang lebih dewasa dengan menghargai setiap proses yang sudah dilalui, seburuk atau seindah apa pun itu. Ada pesan harapan sederhana dari mereka yang terselip yaitu ketika nanti di masa depan, masing-masing kita semua akan tumbuh dan menemukan versi terbaik dari diri sendiri.

Dengan sentuhan emo revival yang kental, “Our Own Shade” menjadi representasi perasaan generasi sekaran. Fovhere membungkusnya dalam konteks yang relevan dengan realita hubungan masa kini.

Single ini menjadi pembuka yang kuat sekaligus pemanasan menuju debut EP mereka yang direncanakan rilis pada pertengahan 2026. Sebuah sinyal bahwa Fovhere siap mengambil ruang dalam skena dengan identitas yang mereka bangun sendiri.

“Our Own Shade” kini sudah dapat dinikmati melalui Bandcamp, dengan tautan yang tersedia di bio resmi mereka. Congratulations! (INQ)

“Under Black Blossom Trees” Bentuk Ritual Gelap AMORPHOUS yang Siap Menelan Jiwamu

Categories: Music

Share
Hello Bvckle’s Fren kali ini ada unit black metal asal Tasikmalaya, Jawa Barat, Amorphous yang resmi membuka lembaran baru dalam perjalanan musikal mereka lewat single terbaru bertajuk “Under Black Blossom Trees.” Sebuah gerbang kegelapan, menuju konsep artistik yang lebih dalam, sekaligus menjadi pengantar untuk EP terbaru yang dijadwalkan meluncur tahun ini.

Mengusung tema kematian sebagai bentuk transendensi, “Under Black Blossom Trees” membingkai narasi suram. Lagu ini menghadirkan figur simbolis yang memposisikan diri sebagai pembawa wahyu yakni entitas yang menyerukan jiwa-jiwa terasing untuk meninggalkan dunia fana dan kembali ke asal yang telah lama menanti. Nuansa ini menjadikan lagu tersebut terasa seperti ritual sunyi dan penuh makna.

Liriknya lahir dari perenungan akan keseimbangan antara keyakinan, ketakutan, dan hal-hal yang tak mampu dijangkau oleh logika manusia. Di titik ini, “Under Black Blossom Trees” membiarkan pendengar tenggelam dalam makna pengalaman spritual yang mereka bangun sendiri.

Dari sisi produksi, single ini menunjukkan peningkatan yang signifikan. Proses rekaman dilakukan di Damage Studio, Tasikmalaya, dengan sesi drum yang direkam di QR Studio, Ciamis. Adit dan Bay dari Damage Studio bertanggung jawab dalam proses tracking, sementara tahap mixing dan mastering dipercayakan kepada Febri di Orvious Soundlab. Dengan hasil yang lebih solid, lebih tajam, dan terasa matang dibandingkan rilisan mereka sebelumnya.

Secara musikal, Amorphous kini tampil dengan formasi terbaru yang terdiri dari lima personel yang memberikan ruang eksplorasi yang lebih luas, menghadirkan aransemen yang agresif dan imersif. Kehadiran Lord Daevas dari Sethos sebagai vokalis tamu turut memperkuat dimensi emosional lagu ini, menambahkan intensitas yang memperdalam karakter gelap yang diusung.

Untuk sisi visual digarap oleh Serpentchron, yang menerjemahkan esensi lagu ke dalam artwork penuh simbol dan nuansa kelam. Visual ini mempertegas identitas Amorphous sebagai entitas yang serius dalam membangun dunia konseptual mereka.

Perilisan “Under Black Blossom Trees” menjadi langkah awal yang menjanjikan menuju EP terbaru Amorphous. Lebih dari itu, single ini menegaskan komitmen mereka dalam mengeksplorasi black metal sebagai medium ekspresi yang keras secara, dalam secara emosional dan filosofis.

Single ini akan tersedia di berbagai platform digital dan didukung oleh kampanye promosi bersama Metalgear Music. Ritualpun telah dimulai, Amorphous siap menarik siapa pun yang berani mendekat untuk masuk lebih dalam ke dalam kegelapan yang mereka ciptakan. (INQ)

Era Baru The SIGIT Setelah Enam Tahun Penantian Hadir Lewat “Bread & Circus”

Categories: Music

Share
Setelah enam tahun menanti hidangan, The SIGIT akhirnya kembali ke arena dengan sebuah masakan terbarunya. Single bertajuk “Bread & Circus” menjadi pelepas rindu sekaligus penanda dimulainya babak baru bagi unit rock asal Bandung in. Penegasan dimulainya era yang membawa The SIGIT, the new era.

Perubahan paling mencolok hadir dari formasi. Kini, The SIGIT diperkuat oleh Absar Lebeh (gitar), Aghan Sudrajat (bas), dan Raveliza (drum) sebagai personel resmi, yang bergabung bersama dua nama lama, Rektivianto Yoewono (vokal, gitar) dan Farri Icksan Wibisana (gitar). Kombinasi ini melahirkan dinamika baru, baik dalam komunikasi maupun proses kreatif di dalam tubuh band.

“Dengan bertambahnya tiga orang baru, ada etos yang berbeda, dinamika komunikasi yang berbeda, yang mana semuanya membutuhkan adaptasi. Kebetulan, proses adaptasi tersebut bisa dijalankan perlahan sambil bermusik,” sambut Rekti mewakili The SIGIT.

Dinamika tersebut terasa jelas dalam “Bread & Circus”. Lagu ini menjadi pintu masuk menuju spektrum musikal terbaru The SIGIT yang masih berakar pada guitar-driven rock yang menjadi ciri khas mereka, namun kini diperkaya dengan sentuhan synthesizer dan instrumen elektronik yang lebih dominan. Hasilnya adalah lanskap suara yang lebih psikedelik, lebih berwarna, sekaligus terasa segar tanpa kehilangan identitas mereka.

Secara tematik, “Bread & Circus” mengangkat isu yang jauh dari kata ringan. Lagu ini berbicara tentang persoalan struktural—perampasan ruang, penyalahgunaan kekuasaan, hingga pengelolaan sumber daya alam yang serampangan. Sebuah refleksi keras tentang bagaimana manusia seringkali mengorbankan lingkungan demi kepentingan sesaat, tanpa memikirkan dampak jangka panjang yang harus ditanggung oleh alam itu sendiri.

Kehadiran Absar, Aghan, dan Ravel juga memberikan pattern baru dalam proses produksi. Perbedaan cara bermain serta latar musikal masing-masing membuka ruang eksplorasi yang sebelumnya belum tersentuh oleh The SIGIT.

“Kehadiran mereka jelas membawa nuansa yang berbeda pada hasil akhir karena cara bermain mereka yang sangat berbeda dengan kebiasaan formasi lama. Perspektif dan perbendaharaan musikal merekalah yang membuka cakrawala dalam pembuatan dan aransemen lagu,” lanjut Rekti.

Di balik layar, proses penggarapan “Bread & Circus” turut melibatkan sejumlah kolaborator. Tanya Ditaputri dari Rattlesmengisi vokal latar, sementara produksi ditangani oleh Budianto Setyadi sebagai produser sekaligus mixing engineer. Sisi visual juga digarap serius melalui kontribusi Gunkbudi dan Refantho Ramadhan, yang membentuk identitas visual kuat untuk rilisan ini.

“Bread & Circus” menjadi pembuka dari rangkaian materi baru yang tengah dipersiapkan oleh The SIGIT. Sebuah fase yang sudah lama dinantikan, mengingat terakhir kali mereka merilis karya adalah “Another Day” pada tahun 2020 silam.

“Saya rasa lagu-lagu baru lain yang sudah kami buat bersama juga memiliki daya tarik yang tidak kalah menarik dengan ‘Bread & Circus’. Ada pembaruan yang menyegarkan,” tutup Rekti.

Mulai 3 April 2026, “Bread & Circus” sudah dapat didengarkan di berbagai layanan streaming digital, disusul dengan perilisan video musik yang tayang perdana di kanal YouTube resmi The SIGIT pada pukul 20.00 WIB. Sebuah langkah awal yang menandai bahwa setelah penantian panjang, mereka berevolusi. (INQ)