CYEXPO 2025: Gema Ekspresi Urban yang Menggema di Karawang

Categories: Collaboration

Share
Ada yang berbeda di Indo Alam Sari Karawang pada Sabtu, 15 November 2025 kemarin. Ribuan muda-mudi tampak memadati kawasan tersebut untuk menyaksikan gelaran tahunan yang paling ditunggu, “Communication Youth Expo (CYE) 2025”. Event legendaris yang digawangi oleh Himpunan Mahasiswa Komunikasi (HIMAKOM) Universitas Singaperbangsa Karawang ini kembali hadir sebagai wadah nyata bagi mahasiswa untuk menyalurkan kreativitas dan mengimplementasikan ilmu yang telah dipelajari di bangku kuliah.

Sejak bergulir pada tahun 2014, CYE konsisten menghadirkan konsep yang segar dan relevan bagi anak muda terutama dikalangan para mahasiswa. Pada tahun ini CYE mengusung tema "Echos of Communication Expressions", sebuah tema yang menggambarkan betapa komunikasi memiliki banyak wajah dan cara untuk diekspresikan. Tema ini tidak hanya tercermin dari penampilan di panggung, tetapi juga dari berbagai instalasi dan booth yang tersedia di area event CYE.

Salah satu daya tarik utama CYE 2025 adalah kehadiran band lokal yang lagi hype, Perunggu sebagai headliner. Kabar ini sukses membuat para penggemarnya yang akrab disapa Merunggu tidak sabar menanti malam itu. Suasana semakin meriah dengan penampilan pendukung dari band-band berbakat seperti Ohara, Fourlass, Heylo Jeylo, dan Sound of South serta irama energik dari DJ Mail yang berhasil menjaga semangat penonton.

Tidak kalah seru, penampilan dari teman-teman Ikom Dance dan Ikom Voice turut memukau para penonton yang hadir. Mereka membawakan koreografi dan vokal yang apik membuktikan bahwa bakat seni dikalangan mahasiswa komunikasi sangatlah beragam dan patut diperhitungkan. Setiap penampilan berhasil menciptakan gelombang energi positif yang menyebar ke seluruh penjuru venue.

Hal yang juga cukup menarik perhatian pada booth CYE kali ini adalah kehadiran Museum Ilmu Komunikasi. Booth ini menawarkan perjalanan singkat yang informatif mengenai sejarah ilmu komunikasi dan kaitannya yang erat dengan perjalanan CYE selama ini. Bagi pengunjung yang ingin membawa pulang kenangan, booth Campaign & Photobooth serta Nail Art Studio selalu ramai dikunjungi. Beragam kuliner mantap juga tersedia, memastikan perut tetap kenyang sepanjang hari.

Malam pun tiba, momen yang paling dinantikan ribuan pasang mata akhirnya datang. Saat Perunggu naik ke panggung, gemuruh sorak sorai para Merunggu (fans Perunggu) memecah kesunyian. Dari sejak lagu pertama hingga akhir, para penonton tidak bisa diam. Setiap lirik yang dilantunkan oleh Trio Maul Ibrahim, Adam Adenan, dan Ildo Hasman hampir tidak ada yang terlewat untuk dinyanyikan bersama-sama dan menciptakan sebuah harmoni kolosal yang sangat emosional.

Dukungan sound system dan pencahayaan panggung yang maksimal semakin melengkapi penampilan memukau Perunggu. Mereka membawakan deretan lagu andalan yang langsung disambut histeris, seperti "33x", "Ini Abadi", "Berhasil","Biang Lara" hingga "Aku Ada Untukmu" yang merupakan single dari album terbarunya "Dalam Dinamika" sukses membius seluruh muda-mudi yang hadir. Kekuatan lirik Perunggu yang jujur dan relatable tentang cinta, refleksi diri, isu kesehatan mental, dan makna hidup, benar-benar menyentuh perasaan penonton yang hadir pada malam itu.

Tidak terkecuali dua sahabat asal Purwakarta, Zian dan Yani tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka usai menyaksikan penampilan Perunggu. Dengan mata berbinar, mereka memberikan acungan dua jempol untuk kesuksesan CYE 2025. 

"Acaranya keren banget, aman tertib dan so far ini salah satu momen terbaik bagi kami, meskipun sempat diguyur hujan deras. Tim CYE hebat!" ujar mereka. 

Hal tersebut juga mewakili perasaan bahagia penonton lain yang merasakan kerja keras tim pelaksana CYE sejak acara dimulai hingga ditutup dengan penuh momen kebersamaan.

Communication Youth Expo (CYE) 2025 telah usai, namun gema ekspresinya masih terus terngiang. Event ini sekali lagi membuktikan dedikasinya sebagai platform event yang tidak hanya menghibur, tetapi juga merepresentasikan semangat dan kreativitas mahasiswa komunikasi Universitas Singaperbangsa Karawang. Sampai jumpa di CYE berikutnya! (INQ)

FRIENDSHIP MOMENTS: PESTA PUNK ROCK DAN PERSAHABATAN DI KARAWANG

Categories: Collaboration

Share
Hi Bvckle’s Fren, Lapangan Kampus Universitas Buana Perjuangan (UBP) pada Minggu, 9 November lalu bukan lagi sekadar tempat berkumpulnya akademisi. Malam itu, telah bertransformasi menjadi sebuah arena bagi para pemberontak, sebuah ruang aman dimana teriakan, keringat dan gelak tawa bersatu dalam lingkup bising yang indah. "Friendship Moments" event yang dihelat oleh Coklat Kita (Coklat Extra) sukses membuktikan bahwa semangat persahabatan paling otentik justru seringkali lahir ditengah gemuruh gitar distorsi dan dentuman drum yang menggila.

Konsep acara yang merayakan pertemanan nan abadi ini langsung terasa sejak awal. Panggung Coklat Kita dihajar habis-habisan oleh para pendekar musik lokal Karawang yang energinya tidak main-main. Mesin Orsel, Prolet, Black Gardens, Minion Ska, dan DPRTY berhasil memanaskan atmosfer dan menyiapkan panggung untuk dua headliners yang sudah ditunggu-tunggu. Menjadi histori musik Karawang yang memiliki talenta hebat dan layak untuk diperhitungkan dikancah musik Nasional. Selain penampilan band lokal,  juga ada Pentas Seni Kampus dan beberapa kegiatan yang bertemakan Friendship Moments seperti friendship flower & friendship race. Terdapat pula stand food & beverage, mural & finger tree, thrifting market dan lelang Extra di sekitar venue Friendship Moments, Coklat Kita di UBP. Pokoknya seru abis deh !!!
 
Tidak butuh waktu lama bagi Romi & The Jahats membuktikan persona “sihir” mereka. Begitu intro lagu pertama menggelegar, ribuan massa yang memadati lapangan seketika menyatu dalam sebuah koor raksasa. Suara sound systemhampir tenggelam oleh teriakan penggemar yang sudah hapal mati setiap baris lirik lagu-lagunya. Bak reuni massal bagi para penggemarnya yang penuh emosi dan sedikit liar.

Sang Frontman, babeh Romi Jahat dengan atribut fusion unik ala ulama Betawinya terlihat sangat atraktif didukung para personil lainnya dengan sound penuh distorsi dan beat punk old school dalam membawakan lagu-lagu hitsnya seperti "Film Murahan", "Joni Lebay",  "Sudah Punah", “Negara-Negara Gagal” hingga versi Akustik "Bunga Kertas Merah Berduri" berubah menjadi lagu kebangsaan baru para sosialis oportunis dan tentunya para fans setianya pada malam itu. Hampir tidak ada jarak antara panggung dan penonton. Hanya ada satu entitas yang bernyanyi, bercerita, menari, dan melepas segala beban bersama-sama tentang kenyataan, penyesalan, harapan, dan kritik sosial.

Seakan tak ingin memberi jeda untuk bernapas, suasana justru semakin memanas ketika Fyan Sinner (vokal), Ceking (drum), Amek (gitar), dan Ryan (bass) yang tergabung dalam Rebellion Rose naik panggung. Dengan energi yang lebih kasar dan beringas, band punk rock ini langsung menghantam para Comrades tanpa ampun. Mereka membawakan pesan yang kuat kedalam sebuah perjalanan musik dengan penuh amarah dan semangat perlawanan. Lagu-lagu seperti "Aku Kamu & Samudera," "Terima Kasih," "Buruh Tani," dan "Sehat Selalu Saudaraku" yang kerap menjadi anthem para punkers kembali diteriakkan oleh massa dengan penuh keyakinan. 
Panggung warna warni berubah menjadi gelanggang moshpit dan crowd surfing, dimana setiap chord dan setiap hentakannya adalah dari jiwa yang bebas dan merdeka. 

It’s so F**kin worth to wait and screaming aloud together!!!  

Salah satu penonton yang bernama Yudistira, juga turut merasakan antusiasme malam itu saat band idolanya yaitu Romi & The Jahats tampil dengan sangat megah dan berwibawa. Yudi yang sengaja datang bersama teman-temannya mengaku sudah menunggu lama atas kesempatan tersebut karena selain bisa menyaksikan band idolanya tampil, mereka juga bisa ikut merayakan Friendship Moments dari Coklat Kita. 

Yudistira pun berharap untuk event selanjutnya agar para band favoritnya seperti Marjinal dan Sukatani juga bisa diundang silaturahmi oleh Coklat Kita ke Karawang sebagai obat rindu penggemarnya.  

Malam itu, hembusan aroma punk rock yang beringas sukses membuat Kampus UBP berguncang. Mereka bukan hanya sekadar menghibur, tetapi menjadi pemantik api bagi luapan emosi jiwa yang terdengar sangat kuat dan lantang. "Friendship Moments" oleh Coklat Kita lebih dari sekadar nama event tapi sebuah pernyataan konkrit. Sebuah bukti bahwa dalam kebisingan musik punk rock, justru di situlah kita menemukan kejujuran, ikatan, dan makna sesungguhnya dari sebuah persahabatan. 

Sampai jumpa di Panggung selanjutnya dan semoga sehat selalu saudaraku! (INQ)

MARRYANNE, Band Shoegaze Asal Cirebon Rilis Ulang EP Bertajuk "INTO THE VOID" di Atlas Records

Categories: Music

Share
Getaran gitar yang melayang halus diiringi vokal sendu menyelubungi ruang itu, kembali hadir. Marryanne, salah satu nama yang konsisten mengusung bendera shoegaze/alternatif asal Cirebon yang digawangi Erlinda Nazwa Rahmadani (vokal), Cyril Muhammad Falih (gitar/vokal), Andhika Dwi Himawan (bass), Arrest Bupala Rafiadi (drum), dan Erlangga Eka Pratama (gitar) secara resmi merilis ulang EP perdana mereka, “Into The Void” yang dirilis pertamakali pada 02 Agustus 2024 lalu. EP tersebut membuka eksplorasi terhadap tema-tema kesepian, pencarian jati diri, dan usaha manusia menemukan kedamaian yang tertuang pada empat tracks lagu yaitu "Violet," "Solitude," "Bookshelves Epilogue" and "Numb".

Kali ini, yang memberi sentuhan baru adalah kolaborasi mereka dengan Atlas Records, label kenamaan yang berbasis di Kota Semarang. Rilisan ulang ini mencakup CD dan T-shirt eksklusif untuk para kolektor dan pendengar setia Marryanne.

“Into The Void” merupakan sebuah perjalanan Marryane. Empat tracks didalamnya dipenuhi nuansa drive, reverb yang menggema dan soundscape ambient bersatu padu menjadi sebuah narasi melodius yang langsung menyentuh relung hati paling dalam. Sebuah mahakarya yang layak untuk diabadikan dalam format fisik.

Momen spesial ini juga tidak lepas dari agenda Marryanne menyambut akhir tahun: Tur Jawa “Into The Void”! Tur yang akan menyambangi beberapa kota di Pulau Jawa ini direncanakan berlangsung dari awal November hingga akhir Desember 2025.

Rilisan ulang EP “Into The Void” hadir tidak hanya sebagai merchandise pendukung tur, tetapi juga sebagai penanda perjalanan dan komitmen Marianne terhadap perkembangan musik dan scene shoegaze di Indonesia. Sebuah keinginan untuk diingat dan sebuah langkah kekal untuk melangkah lebih jauh lagi.

“Kami mengharapkan momen ini menjadi doa dan support kami untuk melangkah kedepannya dalam mengembangkan musik dan scene shoegaze di Indonesia.” Tutup mereka. (INQ)