Pada sebuah malam nan syahdu di Pendopo Walikota Bandung akhir Oktober silam, Kelompok Musik Tanam Tuaimenggelar konser yang panggungnya diubah menjadi hamparan kebun mini berhiaskan aneka sayur mayur sebagai bagian dari instalasi pentas panggung tujuh musisi yang sedang menyampaikan kabar dari tanah selatan Bandung.
Kelompok Musik Tanam Tuai beranggotakan Nissan Fortz (gitar, vokal), Zaki Peniti (bass, vokal), Fiksi (gitar elektrik, vokal latar), Ratimaya (dongeng, vokal latar), Ratih Putria (keyboard, vokal latar), Wandi (drum, vokal latar), dan Johny Jacko (perkusi, vokal latar) menawarkan narasi yang jujur dan reflektif tentang tanah, petani, protes, dan hubungan kita yang semakin jauh dengan sumber pangan.
Tanpa MC yang memandu acara pada malam itu, pertunjukan yang menjadi bagian dari gelaran Titik Kumpul Kolaborasi Energi Episode 142 itu justru dirajut oleh puisi. Aktor-aktor dari Universitas Pasundan (UNPAS) membacakan sajak-sajak panjang karya Bob Anwar yang menjadi jembatan antar lagu serta menciptakan sebuah pertunjukan multi kultur yang unik. Di situlah EP perdana Kelompok Musik Tanam Tuai, "Kabar dari Selatan", diluncurkan secara resmi.
EP yang berisi lima lagu ini adalah buah dari kepedulian mendalam terhadap realitas petani di Pangalengan.
"Salah satunya kami melihat langsung bagaimana petani berjuang dengan cuaca yang kian tak menentu. Ini bukan sekadar cerita, ini realitas mereka setiap hari. EP ini adalah cara kami menyampaikan kabar dari sana. Dari tanah yang memberi kita makan." ujar Nissan Fortz, vokalis dan gitaris Kelompok Musik Tanam Tuai.
Lagu-lagu dalam EP ini menyentuh tema-tema yang sederhana namun mendasar. "Kemarau Basah" menyoroti anomali iklim yang membingungkan petani seperti curah hujan tinggi di musim kemarau. "Kami Makan yang Kau Tanam" adalah pengakuan jujur tentang ketergantungan kita pada kerja keras petani. Sementara itu, "Kentang Kol" hadir seperti mantra.
Dengan lirik repetitif yang hipnotis, "Tanam terus, tumbuh terus, siram terus, segar terus" lagu ini merayakan kesederhanaan dan ketekunan. "Pesan Damai" mengingatkan bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab kolektif, sementara "Air Mata di Negri Sendiri" menyimpan protes yang tertahan tentang ironi kehidupan petani di tanahnya sendiri.
Kolaborasi dengan komunitas Buruan Sae dalam penataan panggung bukanlah sebuah kebetulan. Konsep "panggung sebagai kebun" adalah pernyataan intent.
"Kami ingin penonton merasakan bahwa musik ini lahir dari tanah, bukan dari studio yang steril," kata Zaki Peniti, sang pemain bass.
Pendekatan musikal Tanam Tuai terasa seperti sebuah upaya menjembatani jurang. Mereka meramu reggae Jamaican yang hangat, dentingan folk yang akrab, energi rock, dan sentuhan pop modern, dengan celupan elemen tradisional yang samar. Hasilnya adalah sebuah simpati musikal yang tidak menggurui, tetapi mengajak berdialog.
"Ini bukan album protes, ini adalah kabar. Kami hanya menyampaikan apa yang kami lihat dan rasakan dan tentunya harapan," tegas Nissan Fortz.
Dalam setiap not dan liriknya, Kelompok Musik Tanam Tuai berusaha merangkul pendengarnya untuk melihat lebih dekat kondisi para petani dan sistem pangan yang kian kompleks yaitu sebuah misi yang mereka jalani dengan sudut pandang yang romantik sekaligus penuh pesan moral tentang kesenjangan antara kota dan desa, antara konsumen dan produsen pangan, antara petani dan sistem pemerintahan yang dirasa timpang.
EP "Kabar dari Selatan" kini telah tersedia diberbagai plartform digital musik dan rencananya akan terus disebarkan oleh Kelompok Musik Tanam Tuai dengan menggelar pertunjukan serupa di beberapa kota, untuk menyebarkan kabar dari pelosok Selatan, suara petani Pangalengan kepada khalayak yang lebih luas. (INQ)