Nitatadi Hidupkan Kembali Keajaiban Harmoni Lewat “Masih Ada”, Kini Lebih Fresh dan Groovy

Categories: Music

Share
Dunia musik Indonesia kembali disapa kehangatan harmoni dari Nitatadi, grup vokal berisi empat legenda: Ronni Waluya, Rita Effendy, Netta Kusumah Dewi, dan Hedi Yunus. Setelah lama tak muncul bersama, keempatnya kembali dengan single terbaru berjudul “Masih Ada” — sebuah karya yang menghidupkan kembali pesona klasik dengan sentuhan aransemen yang lebih fresh dan groovy.

Lagu “Masih Ada” merupakan karya legendaris dari duo ikonik 2D (Deddy Dhukun & Dian Pramana Putra) yang kali ini diinterpretasikan ulang oleh Nitatadi. Setelah sukses merilis “Kawan” dan “Dunia Cinta”, keempat vokalis ini kembali memadukan harmoni khas mereka dalam warna musik pop-balada yang lembut, berpadu dengan groove modern yang membuat lagu ini terasa hidup dan relevan untuk generasi zaman now.

“Lagu Masih Ada bercerita tentang keyakinan bahwa selalu ada harapan di setiap kesulitan. Kami ingin menghadirkan semangat positif bagi siapa pun yang mendengarkannya.” ujar Hedi Yunus. 

Sementara itu, Rita Effendy menuturkan, 

“Proses rekamannya penuh nostalgia, tapi juga jadi momen yang sangat emosional karena kami semua merasa kembali ke akar musikal kami.”

Dengan aransemen yang lebih segar dan nuansa groove yang ringan, “Masih Ada” menghadirkan pengalaman mendengar yang menenangkan sekaligus membangkitkan semangat. Lagu ini menjadi simbol perjalanan lintas generasi dan bukti bahwa harmoni sejati tak lekang oleh waktu.

Single “Masih Ada” resmi dirilis pada hari ini, 31 Oktober 2025 di seluruh platform digital, bersama dengan video musiknya akan tayang di kanal Geronimo Records serta official kanal Youtube milik mereka. Visualnya sederhana namun sarat maknanya memperkuat pesan bahwa musik berkualitas dan persahabatan sejati akan selalu hidup di hati siapapun yang mendengarkan. Congratulations! (INQ)

Knucklechain dan Monumen Amarah Bernama "A King to Nothing"

Categories: Music

Share
Bayangkan sebuah palu godam yang diayunkan tepat ke telinga bersamaan dengan kebisingan mesin chainsaw industri yang menggilas besi tua dibungkus kuat kemarahan yang begitu personal sambil bergoyang two step ala sentimental Groovy Beatdown Hardcore. Seperti itulah kira-kira pengalaman pertamamu ketika mendengar debut album Knucklechain, "A King to Nothing".

Knucklechain, unit metallic hardcore beatdown asal Yogyakarta ini tidak main-main dalam menggarap album debutnya. Setelah sekian lama bergaung di bawah tanah, mereka akhirnya meluncurkan album perdana yang bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan sebuah manifesto. Sebuah album penuh teriakan ditengah pesta pora kehancuran dunia.

Album yang diproduseri oleh Bugis Putra punya premis yang ambisius yakni sebuah refleksi tentang manusia yang diberi mandat sebagai "penguasa" di bumi, tapi justru menjadikannya puing-puing tanpa masa depan. Kita adalah raja sebenarnya yang tak punya kerajaan, pemimpin yang gagal memimpin dirinya sendiri dan rakyatnya.  "A King to Nothing" adalah judul yang sinis dan pas.

Secara musikal, Knucklechain tidak menawarkan kompromi dan memang sengaja album ini dirancang untuk menghancurkan. Riff gitar Aziz dan Reza berat, kotor, dan menggerus seperti gerinda tanpa ampun. Betotan Bass Priayang berpacu dengan gebukan drum Andjas cepat, tajam, dan meledak-ledak bagai rentetan tembakan. Dan di atas semua itu, ada vokal Bintang yang bukan sekadar menyanyi, melainkan meneriakkan mantra-mantra keputusasaan. Suaranya mencabik, penuh sakit, seolah ia adalah juru bicara dari semua kekecewaan yang terpendam.

Lagu seperti "Bring you to hell" yang menampilkan Nvndtgr adalah puncak dari kemarahan itu.  Bagaikan kutukan yang dilantangkan langsung untuk para penguasa dan penindas. 

Namun, dibalik teriakan itu ada sebuah pengakuan yang jujur seperti yang tersirat dalam press releasenya, kemarahan ini bukan hanya untuk "mereka", tapi juga untuk "kita", untuk "aku", dan untuk diri Knucklechain sendiri. Ada elemen introspeksi yang membuat amarah mereka terasa lebih dalam dan tidak sekadar latah pada album ini.

Menariknya, Knucklechain tidak hanya merilis album. Mereka langsung membungkusnya dengan tur promo bertajuk, "90° FATAL OVERHEAT". Sebuah tema perjalanan yang menggambarkan situasi dimana mesin-mesin kemanusiaan yang sudah kegerahan dan bersiap untuk meledak!!! Jadwal tur mereka akan menjangkau Jakarta hingga Bali, dari Oktober hingga Desember 2025 adalah bukti keseriusan Knucklechain membawa "monumen amarah" ini langsung kehadapan penikmatnya. 

Bayangkan kekacauan dan kebrutalan di lantai moshpit ketika lagu-lagu ini mulai bergema keras. Karena itu bukan lagi sekadar panggung, melainkan sebuah ruang emosi diantara celah kegelapan.

"A King to Nothing" adalah album untuk mereka yang pernah merasa muak, frustasi, dan terasingkan di dunianya sendiri. Knucklechain berhasil mengubah perasaan-perasaan negatif itu menjadi 9 tracks lagu penuh energi yang jujur, brutal tapi agak mengerikan.

Pada akhirnya, album ini adalah pengingat dibalik segala ilusi kuasa dan kontrol kita semua, pada akhirnya, hanyalah A King to Nothing

Overall, Knucklechain berani membisikkan distorsi keras ke telinga kita. Hellyeah!

"A King to Nothing" sudah dapat di-streaming di Spotify. Ikuti perjalanan chaos mereka di Instagram @knucklechain__  Congratulations! (INQ)

ASHN Rilis Debut Full Album "Waves in Two" Terinspirasi Game Horor Silent Hill

Categories: Music

Share
Buat kalian para pencinta musik shoegaze dan alternative rock, perkenalkan ASHN, unit band asal Bandung yang dikenal dengan vibes dreamy dan melancholic-nya. Salah satu band pilihan BVCKLE SMIGGLE, akhirnya ngerilis album perdana bertajuk "Waves in Two" pada awal Oktober 2025 kemarin. Momen tersebut merupakan yang ditunggu-tunggu setelah mereka udah cukup lama bikin demo dan single yang akhirnya muncul dengan album penuh dalam mewakili ekspansi artistik dan langkah maju memperkenalkan ASHN kepada khalayak yang lebih luas.

ASHN dibentuk pada tahun 2022 silam yang terdiri dari Bryan Arkan (gitar), Nafisa Almira (vokal), Bryan “Popon” Pongtiku (vokal dan gitar), Rafi Azani (bass), dan Irfan Al Hafizh (drum). Bryan Arkan memimpin penulisan lagu dan bertindak sebagai  produser  utama  album,  didukung oleh Irfan, Popon, Nafisa, dan Rafi dalam berbagai aspek penulisan lagu dan produksi.

Album “Waves In Two” yang berisikan 10 lagu yang siap membawa kita menyelami berbagai lautan perasaan sedih, senang, melankolis, cinta, sampe kesepian yang amat dalam. Semuanya dibungkus dengan narasi suara yang immersivedan kohesif. Karakter low key, drum beat dan distorsi gitar berat pada beberapa lagu seperti Farewell, Knife, Waves in Two dan In Circles cukup membuat lagu dialbum ini menjadi unik dan berbeda dari unit shoegaze lain. Selain itu ciri khas duet vokal yang terdengar samar ikut memperkuat karakter musik ASHN yang secara sadar ingin menciptakan atmosfer kegelapan yang introspektif dan kontemplatif dengan kesan melankolis yang kuat. Judul "Waves in Two" sendiri dipilih sebagai nama album karena dianggap paling mewakili identitas musik dan lirik ASHN.

Nah, buat yang suka sesuatu yang eksperimental, ada satu lagu yang kolaborasi sama unit elektronik Ftlframe pada laguEndless sangat layak untuk dinikmati saat sedang ingin chillin, merasakan ketenangan atau sekedar menikmati sensasi mendalam dan menerawang pikiran kita.

Inspirasi utama album ini selain dari pengalaman pribadi juga berasal dari salah satu game horror yaitu Silent Hill yang memiliki begitu banyak karakter ikonik dengan tema psikologis yang mendalam seperti dosa (sin), penebusan (redemption), dan penerimaan (acceptance). No wonder kalau album ini punya nada yang gelap, dreamy dan atmospheric!

Untuk rencana kedepannya, ASHN bakal gelar showcase pada 1 November 2025 buat merayakan rilisan album ini. Mereka juga lagi pertimbangin buat bikin music video, tergantung ketersediaan sumber daya nantinya. Cant wait fren!

As a final result, "Waves in Two" adalah proyek penuh yang jenius, berani dan jujur dari ASHN. Album ini bukan cuma buat fans lamanya tapi juga sebagai pengenalan buat pendengar baru sekaligus sebagai langkah penting dalam eksistensi mereka di scene musik independen Indonesia yang sangat berbahaya. Hellyeah! (INQ)