Means Band Alternative Asal Tegal, Debut Perdana Lewat Single “Same Past”

Categories: NEW REALESED

Share
Unit alternatif asal Tegal, Jawa Tengah, MEANS, resmi meluncurkan debut single mereka yang bertajuk “Same Past”. Bak simpul dari benang-benang kenangan yang membentuk setiap personel band ini. “Same Past” dirilis dalam format video lirik dan kini sudah dapat disimak melalui kanal YouTube resmi Means.

Bukan sekadar nostalgia, “Same Past” merupakan sebuah pernyataan bahwa masa lalu yang nyaris seragam—dari gang sempit yang dipenuhi musik remaja hingga selera musik yang terbentuk begitu saja—masih relevan dan bisa dibangkitkan. Diangkat menjadi sebuah karya yang wajib didengarkan.

Means sendiri beranggotakan Gigih (vokal), Egga (gitar), Chandra Deni (bass), David (drum), dan Irvan Sandy (gitar), yang sebelumnya aktif di berbagai proyek musik berbeda. Melalui “Same Past”, mereka menyatukan energi lama ke dalam bentuk yang modern—dengan nuansa alternative rock dan sentuhan pop punk yang fresh.

“Same Past” juga membawa visual lirik yang mewakili tingkah laku, kesukaan, dan refleksi personal dari tiap personel Means. Sebuah medium ekspresi yang menghidupkan kembali potongan cerita lama ke dalam satu narasi.

“Kami datang dari tempat yang berbeda, tapi punya cerita yang sama. ‘Same Past’ adalah titik kumpul kami, awal dari perjalanan ini,” ujar Gigih, sang vokalis.

Untuk para pencinta musik indie alternatif yang mendambakan karya dengan roots yang kuat dan semangat solidaritas yg kuat, “Same Past” bisa jadi soundtrack yang tepat. Saksikan dan dengarkan “Same Past” di kanal YouTube resmi Means— unit alternatif/pop punk yang patut diwaspadai. Congratulation! (INQ)

  1. Debut Single “Term” dari LARKIN Unit Rock Alternatif Karawang yang Membuka Realitas Kehidupan

Categories: NEW REALESED

Share
Ada suara baru dari kota yang terlalu bising deru mesin. Ya, Namanya LARKIN—sebuah unit alternatif indie rock/dream pop dari Karawang, yang datang bukan hanya ikut meramaikan skena, tapi ikut andil untuk menyuarakan keresahan. Debut single mereka bertajuk “TERM”, dirilis pada 13 Juni 2025, adalah bentuk awal dari upaya mereka teriakkan isi kepala dengan lantang dan tegas.

Lahir bukan dari ruang yang nyaman ataupun komunitas elite, Larkin dibentuk awal tahun ini, dari kebisingan Karawang yang terus menderu. Empat orang di sebuah frekuensi yang sama: Raka Harya (vokal/gitar), Gugi Panigara (gitar), Rian Fauzi (bass), dan Rizky (drum). Dalam satu gema yang meletup-letup, penuh keyakinan untuk berteriak, “Gue juga ngerasa aneh sama semua ini.”

Sebuah Keresahan Realitas

“TERM” bukan lagu yang luapkan amarah, bukan pula lagu cinta yang menggebu-gebu. Ibarat dokumen dari sebuah kejengahan yang selama ini dibungkam. Lagu ini ditulis oleh Raka sebagai respon terhadap absurditas hidup di Karawang—tentang hidup yang selalu berjalan tapi nggak ke mana-mana. Tentang tanya yang terus ada, namun jawabannya begitu-begitu saja. Dan hanya menyisakan sikap pasrah yang harus bisa dilewati.

Tidak terlalu banyak distorsi, tapi diksi dalam liriknya cukup tajam. Dengan beat yang asik dan menyatu dengan vokal berat yang khas. Sentuhan rock-nya mampu imbangi bising-bising dikepala, cocok didengar disegala suasana, sore hari yang berwarna atau pagi-pagi buta sebelum berangkat kerja. Larkin meramu dan meracik semuanya lewat proses home recording, dan mempercayakan tahap mixing dan mastering pada Fahri dari RFNP Records. Single ini dirilis di bawah bendera Sublag Records di Karawang.

Media Relaksasi Sederhana

Terinspirasi dari band-band The Jesus and Mary Chain, DIIV, atau My Bloody Valentine. Larkin merupakan hasil fermentasi dari kota yang bergerak terlalu cepat, dari malam-malam di Karawang yang nggak pernah benar-benar gelap. Mereka bermain di ruang yang sering terpinggirkan: antara rasa ingin menyerah dan harus tetap menari didalamnya.

“Single ini merupakan media relaksasi sederhana untuk semua yang sedang menghadapi keadaan sulit, serta kepasrahan dalam menjalani hidup, dan sedikit doa agar berubahnya keadaan sulit yang sedang dihadapi,” ujar Raka.

Media relaksasi setelah hadapi dunia yang mabuk dan bermuntah-muntah, setelah ambruk di lantai, setelah bilang ke diri sendiri: yaudah deh, gini aja dulu.

Untuk sebuah langkah awal dalam perjalanan, Larkin terlihat cukup piawai dalam bersiap-siap. “TERM” kini sudah tersedia di semua kanal digital streaming resmi milik mereka. Congratulations! (INQ)

Gejolak Emosional Dan Spritual Dalam Teriakan PVLETTE Di Single Terbaru Mereka  “Atau Mati Terlebih Dulu” 

Categories: Music

Share
Band alternative rock asal Indonesia, PVLETTE, akhirnya kembali ke permukaan dengan meneriakkan eksistensinya lewat karya terbaru mereka. Sebuah single bertajuk “Atau Mati Terlebih Dulu”, yang dirilis kemarin pada 2 Mei 2025. Setelah dua tahun hening sejak mini album Every Feelings Matter (2022) rilis.

Lagu ini merupakan pembuka perjalanan album yang tengah digarap, bertajuk Semakin Buram dan Percuma. Sebuah refleksi yang mereka bangun selama dua tahun terakhir dalam fase kreatif yang intens tentunya.

Lagu tentang Iman yang Retak dan Realitas yang Sesak

“Atau Mati Terlebih Dulu” diracik oleh dua vokalis PVLETTE, Raka Rayhanza dan Christo Julivan, dan lahir dari kumpulan kisah nyata orang-orang terdekat, dan juga dimatangkan oleh perenungan pribadi para personel. Lagu ini berteriak lantang tentang kebingungan spiritual seseorang yang telah lama beriman dan tekun beribadah, namun mendapati kenyataan hidup yang seolah tak mengindahkan doanya.

Alih-alih jawaban, yang menghampiri hanyalah sesaknya keraguan entah tentang keyakinan, tentang keadilan, dan tentang semua makna yang selama ini dijalani.

“Terkadang, kesalahan bukan terletak pada Tuhan yang jauh, melainkan pada kegagalan manusia itu sendiri. Sebab sekuat apa pun iman, ia bukanlah perisai mutlak dari kerasnya kehidupan,” jelas mereka kepada media.

Lagu ini menyingkap momen ketika iman mulai retak, ketika berdoa tak lagi terasa cukup, dan ketika sosok-sosok yang mengaku beriman justru memamerkan kemunafikan. Di tengah semua itu, muncul pertanyaan yang getir:

“Apakah aku telah percaya pada sesuatu yang salah?”

“Atau Mati Terlebih Dulu” merupakan sebuah pertanyaan yang terkadang tidak sadar kita pun sering mengalaminya. Lagu yang kompleks namun cukup mewakili realita hidup yang penuh siksaan dari kebimbangan.

Proses Kreatif dan Kolaborasi 

Untuk proses produksi, PVLETTE menggandeng Wisnu Ikhsantama Wicaksana, yang dikenal atas pendekatannya yang atmosferik dan lebih detail. Tahap mastering dipercayakan kepada Bill Henderson dari Azimuth Mastering, sosok yang telah lama dikenal di kancah musik internasional karena sentuhan presisinya.

Rilisan ini juga menjadi babak baru dalam kerja sama PVLETTE dengan Sunny Music Distribution, sebagai mitra dalam publikasi dan distribusi album mendatang.

“EMOTIONAL PVLETTE” Gaungkan Gejolak Emosional yang Lebih Matang

“Atau Mati Terlebih Dulu” menjadi titik awal dari fase baru PVLETTE yang lebih matang, lebih berani, dan lebih terbuka terhadap kerapuhan sebagai bagian dari kekuatan. Sebuah lagu yang—seperti karya mereka sebelumnya—menempatkan perasaan sebagai pusat segalanya (emotional). Berhasil membawa pendengarnya masuk kedalam pinggiran jurang riff-riff tajam, dan vokal khas mereka. Seakan mengajak kita tenggelam bersama dalam lautan keresahan.

Single ini telah tersedia di seluruh kanal digital dan disertai dengan video musik yang tayang di kanal YouTube resmi PVLETTE. Congratulations! (INQ)