Tiga dekade berisik dan bersiasat di antara riff, nada minor, dan peluh panggung, Jimi Multhazam akhirnya menggelar sesuatu yang sepenuhnya miliknya. Sebuah proyek solo bernama “Kilauanlara”. Semacam time capsule dari keresahan, ketekunan, dan ketidaksengajaan dibalik penatnya hidup.
Dirangkai bak hajat artsy, “Kilauanlara” dihelat di Bolo Space, Yogyakarta, dari 9 Juni hingga 10 Juli 2025. Di sanalah Jimi merayakan sebuah esensi tentang bagaimana ia mengundang kita masuk ke semestanya miliknya dengan hangat, raw, dan terbuka.
Acara bertajuk “Kilauanlara” ini mencakup hearing session, pemutaran film dokumenter, serta pameran proses kreatif artwork lagu yang secara keseluruhan mencerminkan dedikasi Jimi terhadap dunia seni dan musik. Ini merupakan wujud perayaan lintas medium yang khas dari seorang Jimi Multhazam—perupa, musisi, sekaligus penulis lirik yang telah aktif sejak awal 1990-an.
“Rencana solo project ini sebenarnya sudah ada sejak 2021, waktu pandemi,” ungkap Jimi.
“Tapi baru bisa terlaksana sekarang. Gue turun langsung ngarahin semua proses—dari aransemen sampai hal kecil kayak ukuran stik drum.”
Dalam proses kreatifnya, Jimi berkolaborasi dengan sejumlah rekan baru. Salah satunya adalah Eriliando Erick, sutradara dan fotografer lulusan IKJ yang kemudian mendokumentasikan keseluruhan perjalanan proyek ini dalam bentuk film dokumenter. Nama Erick sebelumnya dikenal lewat film dokumenter Ibnu Nurwanto – Sang Kayu (2024), yang masuk nominasi Festival Film Indonesia, serta pameran foto tunggal Yang Tertinggal (2025).
Untuk video musik “Kilauanlara”, Jimi menggandeng Her Rachman, sineas yang telah lama menjadi kolaborator dalam berbagai proyek visual The Upstairs dan MORFEM.
Lagu “Kilauanlara” kini telah tersedia di Bandcamp, dan video musiknya dapat ditonton di kanal YouTube Jimi Multhazam. Pastinya single ini sudah siap untuk mengguncang berbagai layanan di streaming digital.
Sosok Jimi ‘Danger As Known As Jimi Multhazam
Lahir di Jakarta, 11 Januari 1974, Jimi Multhazam adalah seniman multitalenta yang dikenal sebagai vokalis, penulis lagu, dan perupa. Ia memulai karier sebagai animator sebelum melanjutkan pendidikan seni rupa di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Selain dikenal lewat band The Upstairs (new wave) dan MORFEM (alternative rock), Jimi juga sempat aktif dalam proyek Jimijazz dan Bequiet, serta terlibat dalam berbagai peristiwa seni rupa di Indonesia.
Tiga dekade berkarya, Jimi tetap setia pada semangat eksplorasi dengan jiwa artsy-nya. Lewat “Kilauanlara”, ia merangkum perjalanan dalam satu karya utuh—lahir dari kilau yang tak selalu gemerlap, namun tetap bersinar meski lewat lara, juga tidak menutup kemungkinan bisa diartikan sebebasnya. (INQ)