Javanese Cat Ngamuk Lewat Single Deteriorasi Karena Kepanasan

Categories: Music

Share
The Brutality of a Rocker's Rampage!!! Begitulah kira-kira gambaran lagu baru dari band rock slengean asal Cikampek, Jawa Barat Javanese Cat. Setelah merilis single yang 'nge-pop' bersama Ranggart "Hal Yang Sama." Kali ini Trio haram: Ray, Carlos & Abay kembali membuat keonaran lewat single terbaru "Deteriorasi."

Kembali Menjadi Kaum Kiri

Lagu yang telah dirilis secara daring pada 24 April 2025 ini menceritakan keresahan batin masyarakat tentang kerusakan lingkungan hidup akibat dari keegoisan manusia, yang menyebabkan peningkatan suhu bumi semakin ekstrim. "Di lagu ini gue emang bener pengen ngumpat, ini tuh bumi atau neraka sih ya?! Kok panas banget sih, Anjing!" kata sang frontman Ray. "Tujuan dari lagu ini tuh agar kita (manusia) sadar akan pentingnya merawat bumi." imbuh Abay. Lagu yang digarap pada akhir November tahun lalu ini sudah beberapa kali dibawakan di gigs-gigs sebagai kampanye dalam gerakan Greenpeace, agar umat manusia bisa lebih sadar dan bersukacita untuk merawat bumi.

Apa itu Deteriorasi?

Deteriorasi dalam arti umum adalah proses atau keadaan di mana sesuatu menjadi lebih buruk, mengalami kemerosotan, atau penurunan kualitas. itulah yang terjadi pada kondisi bumi kita saat ini. Bahkan lagu ini menjadi rangkaian dari album "Paripurna" yang pastinya akan dirilis pada akhir Juni nanti. 

Keras Namun Tetap Flamboyan

Deteriorasi sendiri cenderung lebih keras karena berisi amunisi riff-riff nakal dengan sound distorsi yang mentah ala thrash metal layaknya Megadeth, Sepultura, & Slayer, namun lagu ini tak sedikitpun menghilangkan unsur grunge-nya sebagai native genre Javanese Cat. Ditambah lagi vokal oktaf tinggi nan flamboyan dengan teknik pernafasan diafragma disertai cengkok khas Melayu membuat "Deteriorasi" tetap gahar terdengar laki banget, membuat lagu ini terasa lebih eksperimental dan berani. Permainan drum Abay yang dinamis dan eksplosif mampu bersatu dengan cabikan liar bassnya Carlos, dan menurut sang frontman lagu ini dipengaruhi oleh banyak referensi dalam proses workshop. "Yoi, gue emang ngefans banget sama karakter vokal David Lee Roth (Van Halen) sih tapi untuk urusan senar, riff-riff gitar banyak terinfluence dari Max Cavalera dan Dave Mustaine, serta lick solo gitar gue yang terdengar fusion gara-gara ngedengerin album solo 'Metal Fatigue-'nya Allan Holdsworth serta untuk referensi sound kita juga belajar darialbum 'Core-'nya Stone Temple Pilots dan 'Black Gives Way To Blue-'nya Alice In Chains, dan semuanya itu memacu gue main ugal-ugalan di lagu ini, pokoknya banyak referensi lah meskipun dengan logat dan phrasing ciri khas gue." Ucap Ray sang vokalis sekaligus gitaris band ini.

Javanese Cat telah menelurkan 1 album yang bertajuk "The Best of the Beast" pada tahun 2021 silam, dan single "Deteriorasi" ini akan menjadi pemantik untuk album kedua yang akan dirilis pada akhir Juni nanti. 

Song Credits:
Written by Ray Cornel 
Music Arranger by Javanese Cat 
Mixing & Mastering by Sidik Subagja at Broadway Studio 
Javanese Cat are:
Ray Cornel - Guitars & Vocal, Carlos Manalu - Bass guitar, Akbar Zildjian - Drums (RCAF)




T0rch Dan Api-Api Kecil Yang Terus Menyala

Categories: Music

Share
Di tengah sesaknya era musik digital yang serba instan yang diproduksi masif dalam industri kapitalis, tampak percikan cahaya atau api-api kecil yang perlahan menyala dari sebuah kamar tidur di Karawang—t0rch. Proyek solo dari Desta Ericksen ini bukan sekadar upaya berkarya; ia adalah teriakan emosional, suara dari alam bawah sadar yang tak selalu sanggup diartikulasikan secara verbal. 

Sejak awal 2024, Desta mulai merekam dan memproduseri musiknya sendiri secara home recording. Tak ada studio mewah, tak ada tim produksi besar—hanya ia, gitarnya, dan luapan perasaan yang deras mengalir.

Pada 7 Maret 2025, t0rch merilis single ketiganya “monoceros” menandai kelanjutan dari “Murcot” dan “spytheirmind” yang dirilis sebelumnya pada 18 Maret dan 15 Juni 2024. “monoceros” adalah hasil dari pertemuan tak sengaja antara inspirasi dan momen keseharian yang ringan.

“Nada vokalnya aku temuin waktu lagi motongin kuku,” ujar Desta, mengingat siang hari tanggal 13 Mei 2023. 

“Aku sempetin rekam walaupun liriknya belum ada dan masih pake bahasa nyamuk.” 

Keintiman seperti inilah yang menjadi napas dari proyek ini. Mengalir tanpa paksaan, lahir dari kehidupan sehari-hari, dan tumbuh menjadi suatu cerita dari sebuah ruang—kamar.

Secara musikal, t0rch adalah midwest emo/dreampop yang lantunkan personal. Di atas panggung, Desta berdiri sendiri pun memainkan gitar, vokal, dan sequencer. Kadang ditemani Tama menabuh dram membentuk percikan api-api yang rapuh. Ia menggambarkan proyek ini sebagai “obor yang kamu pake ketika kamu lagi hilang arah dan nuntun kamu buat balik ke musik.” t0rch bukan hanya representasi musik yang artsy, ia adalah “echo, not just butterflies” yaitu sebuah perasaan yang menggema dan tak lekang oleh waktu.

Dalam proses kreatifnya, Desta mengandalkan referensi dari band-band midwest emo seperti Tiny Moving Parts, American Football, Hot Mulligan, dan Free Throw. Namun, semua pengaruh itu tidak serta-merta dijiplak.

 “Pas produksi itu tuh undersubstance aja keluar sendirinya,” katanya. 

Riakan kecil yang berkembang secara naluri untuk menyembuhkan diri sendiri.

Dari tiga lagu yang telah dirilis, tidak ada yang lebih menantang dari yang lain, karena masing-masing punya roh dan cerita tersendiri.

“Musik punya nyawa soalnya. Nanti takutnya dia masuk ke mimpi aku terus bawa piso buat nusuk kan serem,” candanya. 

Bagi Desta, menulis dan merekam lagu adalah proses yang menyerupai membuat film—ia adalah sutradara, produser, sekaligus aktornya. Nggak heran bila tiap lagu terasa sinematik mengantar kita kedalam sebuah ruang dengan alur cerita yang sulit diceritakan langsung.

Di luar t0rch, Desta juga dikenal sebagai frontman dan pendiri band rock Lingkar Cendala, yang telah merilis satu EP Manifesto Alegori Cendala dan beberapa single seperti Danawa (2024), Catastrophe (2024), dan Suspiria (2025). Inilah sisi t0rch yang berbeda—lebih hening, lebih rapuh, dan lebih menyentuh.

Kabarnya t0rch tengah menyiapkan mini album berisi tiga lagu baru yait “iwannabeadored”, i’mtryingtoescapethisendlesspaibutyourmemorywhisperlikeaburningpain”, dan “whoeasiesmynervoussystem?”. Semua ini adalah kelanjutan dari rekam jejak yang dimulai lewat “murcot, “spytheirmind, dan ”monoceros”.

Ketika ditanya soal rencana ke depan, Desta hanya menjawab “plan = pain.” Rencana, baginya, adalah akar dari rasa sakit, karena ekspektasi seringkali membawa kecewa. Maka ia memilih untuk mengalir saja tanpa paksaan. 

“Bikin atau merekam musik itu adalah bentuk nyata dari kesaksian setiap perasaan aku. Itu bakal jadi legacy sampe kapanpun,” ujarnya sekaligus mengakhiri pertanyaan segambreng dari tim BVCKLE SMIGGLE.

Di poros dunia yang berjalan terlalu cepat, terlalu kejam, dan racau kita butuh obor yang walaupun kecil ia menghangatkan dan sanggup menuntun kita pulang, menjauhkan diri dari sebuah sisi buruk juga kepalsuan. (INQ)

Sandstorm Of Youth Membawa Suasana Kembali Ke Era Flower Generation Lewat Album "Flying Colors"

Categories: Music

Share
Band asal Jogjakarta, Sandstorm Of Youth (SOY) akhirnya merilis album Studio debut mereka pada tanggal 12 April 2025 (secara fisik) & 25 April 2025 di seluruh digital platform, sebelumnya 7 materi track yang ada di album "Flying Colors" juga sempat dirilis secara live dengan tajuk "Ready, Set, Flight!" Pada 25 Desember tahun lalu.
Band yang beranggotakan Aamaga (gitar, vokal), Agripa (vokal), Sukmo (vokal), Yoga (gitar), Reynaldo Daniel (bas), Bima (Synth, piano) & Dary (drum) ini menyajikan konsep musik SOY dengan cara yang unik. "Sebetulnya konsep musik ini tetep reggae sih. Tapi gak cuma reggae tapi apa ya.....tradisional? gak reggae yang mentok gitu. inspired nya dari reggae aussie sih, yang beat nya reggae tapi ada campuran psikedelik, pop, bahkan rock juga mungkin ya? misalkan soul/rnb kami dengerin, Jacob Collier & Alicia Keys gitu jadi mungkin terpengaruh dari sana sedikit kali ya. terus memang arranger dulunya kental di blues sih dan sebutan RnB alias reggae and blues itu awalnya asbun ku aja wkakkaka kaya "kita bukan "rhythm and blues" tapi "reggae and blues" ini mah karna mainin reggae tapi ada blues nya dikit. tapi anak-anak malah ketawa terus kaya "ya juga ya" jadi ya udahlah sekalian aja." ucap Agripa sang vokalis.

Album Flying Colors: 13 Track Tentang Pengalaman SOY di Masa Lalu 

Album ini menyuguhkan 13 lagu seperti "Utopian Rite", "Surreal Journey to Unveil", "Sabbe Satta Bhavantu Sukitatta", "Crystal Vision", "Lost in the Labyrinth", "Down Under Sky", "Liquid Fire", "Walzy Scuffle", "Mind's Prison", "Gravity's Pull", "Monoculture" dan diakhiri dengan lagu pamungkas "Flying Colors." Kegelisahan, kesalahan bahkan kecerobohan di masa lalu menjadi salah satu bahan bakar utama untuk album ini. Penyesalan datang bertubi-tubi tentang bagaimana mereka mengeksplorasi masa muda serta semangat ambisi mereka dengan alasan mencari jati diri. Bahkan album "Flying Colors" menjadi monumen untuk mewarnai hari ini, atau besok agar menjadi lebih baik, juga sebagai pengingat agar tidak jatuh ke dalam kesalahan yang sama.

Membawa Pendengar Kembali ke Era Flower Generation 

SOY sungguh menyajikan album yang menarik, dengan reggae sebagai musik dasar, serta menyuguhkan soul, blues, & psychedelic rock sehingga membuat para pendengar serasa kembali ke era Flower Generation dimana festival Woodstock 69' diadakan. Album ini digarap di Catpaws Lab, serta melibatkan orang-orang dibalik layar seperti Muhammad Ramadhan Tegar Aji sebagai artwork designer, Luqman M sebagai layout director, Alfian Widi sebagai DoP, serta Inamul Hasan, Kemal Fadillah, dan Hasan Eko sebagai tim produksi. Tak lupa juga sesion player Haryo Gumilang pada trombone & para kolaborator Daniel Ryan (saxophone di lagu "Walzy Scuffle"), Paulus Neo (Keys di lagu "Liquid Fire") & Yohanes Saptanugraha (gitar pada lagu "Monoculture")
Gimana guys Yoman Gak Iki?! walaupun terdengar RnB tapi tetep Yoman kan? (RCAF)