“ènola” Bagi Over Dopamine Adalah Sebuah Pelukan Melodi Untuk Mereka Yang Merasa Sendirian

Categories: Music

Share
Kadang kata-kata tak cukup untuk menjelaskan perasaan racau, takut, atau lelaaah dalam kehidupan ini. Akan ada fase di mana kita merasa berjalan sendirian, ditengah dunia yang ramai. Dari ruang-ruang keresahan inilah Over Dopamine hadir membawa lagu perdana mereka, “ènola”, bak pelukan hangat bagi siapa pun yang “sedang” merasa sendirian.

Over Dopamine adalah band pop rock alternatif asal Bekasi yang dibentuk pada tahun 2023. Beranggotakan Muhammad Rifki (gitar), Aira Natasya (vokal), Rafa Eka (gitar), dan Rifa Adidea (drum), keempatnya merupakan sahabat sejak SMA yang menyatukan isi kepala, semangat, dan cinta terhadap musik yang kini mereka beri nama: Over Dopamine. Nama yang lahir dari kesepakatan empat kesawakan tersebut.

Setelah melewati proses pencarian identitas, band yang sebelumnya bernama “December” ini melakukan rebrandingpada 26 Maret 2025 dan memilih “Over Dopamine” sebagai wajah baru mereka. Nama yang bisa saja diasumsikan sebagai sekelompok orang yang sudah terlalu banyak mengonsumsi ‘kebahagiaan palsu’, namun tetap saja merasa hampa.

Single “ènola” menjadi jejak pertama dari perjalanan baru mereka. Lagu ini berbicara tentang seseorang yang capek menghadapi dirinya sendiri. Tentang tubuh yang tak lagi sanggup berdiri tegak, dan pikiran yang terus racau dititik terendahnya. Lewat lirik dan nada yang sensitif, “ènola” ingjn menjadi ruang teriak juga hiburan untuk pendengarnya bukan hanya bagi para personel Over Dopamine, tapi juga bagi siapa pun yang sedang mencari cermin untuk memahami diri mereka.

Dalam “ènola”, Over Dopamine duduk bersamamu dalam kesedihan itu. Mengakuinya, merayakannya, dan merangkulnya. Lagu ini adalah teman dalam fikiran di malam gelap, suara yang meyakinkan bahwa menangis bukan kelemahan, dan serta mencoba memeluk pelan saat dirimu merasa sendirian.

Visual artwork dari “ènola” pun menggambarkan perasaan itu dengan sangat jelas. Sosok samar seperti sosok “manusia” dalam ruang gelap, tak kuat berdiri dengan tegak, dengan latar rasi bintang yang seolah menjadi saksi dari beratnya sebuah perjalanan. Gambar ini memperkuat narasi lagu yang berisikan tentang pencarian diri, keterasingan, dan harapan-harapan kecil yang tetap bersinar.

Kabarnya “ènola” kini telah tersedia di berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music, YouTube, dan YouTube Music. Lewat lagu ini, Over Dopamine ingin menyampaikan satu pesan sederhana bahwasanya, kamu tidak sendirian. Congratulations! untuk debut dan lagu yang overall menyentuhhh dengan suara khas ala-ala musik wave to earth (INQ)

JACK ANDIE KEMBALI MENUNJUKKAN TAJINYA MELALUI SINGLE "JANGAN MENANGIS"

Categories: Music

Share
Gitaris band The Cat Police, Jack Andie kembali menunjukkan kreativitasnya dengan merilis single terbaru "Jangan Menangis". Lagu ini menjadi bagian dari perjalanan musiknya sebagai seorang solois yang dimulai sejak 2022, ketika ia memutuskan untuk mengeksplorasi karya-karya yang tidak dapat dimasukkan ke dalam bandnya. Single "Jangan Menangis" terinspirasi dari kisah nyata tentang seorang pria yang memberikan motivasi dan mengembalikan rasa percaya diri seorang wanita yang baru saja mengalami patah hati. Lagu ini menggambarkan perjalanan emosional keduanya, dari pertemanan hingga akhirnya menjadi pasangan. "Lagu ini berkisah tentang seorang cowok yang mencoba memberikan motivasi dan mengembalikan rasa percaya diri kepada seorang cewek, untuk tetap menjalani hidupnya meski habis putus cinta. Karena dunia yang kita rasa sebenarnya enggak selebar daun kelor," tutur Jack Andie.

Proses Kreatif "Jangan Menangis"

Lagu ini diciptakan oleh Jack Andie, mulai dari lirik hingga notasi, dengan dibantu aransemen oleh musikus kawakan, Anov Ardianov "Blues One." Serta untuk artwork digarap oleh M. Zainurrofi, sementara urusan produksi berada naungan Blues One Records, dengan S.Wic sebagai produser. Lagu dengan konsep akustik dan iringan strings ini, menjadi single pertama yang dirilis pada tahun 2025 ini.

Menampung Ide Yang Tak Tertampung Dengan Konsep Solois

Jack Andie, yang dikenal sebagai musisi berbakat dengan gaya unik, memulai proyek solonya selama pandemi 2020-2022. Proyek ini menjadi ruang bagi Jack untuk mengekspresikan ide-ide kreatifnya yang tidak terwadahi dalam band. Sebelumnya, ia telah merilis beberapa karya solo, seperti "SCBD" (12 Oktober 2022), "Pymma Ayo Bobo" (7 Juli 2023), "Sementara" (10 November 2023), dan "Tukobel" (30 Agustus 2024).

Single "Jangan Menangis" milik Jack Andie sudah tersedia di berbagai platform musik digital pada Jumat, 9 Mei 2025. Lagu ini diharapkan dapat menjadi pengingat bagi pendengar untuk tetap kuat menghadapi tantangan hidup, serta menemukan kebahagiaan dan cinta di tengah kesulitan. Untuk kalian kaum patah hati, wajib dengerin lagu "Jangan Menangis", biar kalian always tersenyum. Cheeers!!! (RCAF)

Manifesto Sebuah Kebebasan dan Kebahagiaan
SWABAGYA Rilis Single Perdana “Semua Berhak Berbagya”

Categories: Music

Share
Dari sebuah kedai kopi kecil di sudut kota Semarang, lahirlah sebuah keresahan yang mengalir menjadi sebuah karya. SWABAGYA, unit reggae asal Semarang, resmi melemparkan debut single bertajuk Semua Berhak Berbagya”. Tentunya sebuah serangan balik terhadap standar hidup modern yang kini makin menyesakkan.

Nama mereka mungkin terdengar ringan, tapi isinya jauh dari sebatas musik untuk goyang-goyang sore hari. SWABAGYA hadir membawa energi perlawanan, bukan lewat kemarahan, tapi lewat semangat gembira yang subversif. Gembira dalam konteks ini bukanlah menghindar dari realitas, tapi bentuk perlawanan menolak tunduk pada tekanan sistem dan memilih tertawa di tengah kehancurannya.

Wadah Kebahagiaan Dalam Musik Reggae

Lahir pada 29 September 2024, SWABAGYA digagas oleh Yehezkiel Aldorino Didya Dave (bass) dan Augusta Dheny Pradana (trumpet), dua kepala yang awalnya cuma jadi penikmat reggae. Tapi ketika musik tak lagi cukup untuk sekadar dinikmati, mereka mulai membangunnya sendiri. Perlahan tapi pasti, dari diskusi di kedai kopi Petra Dua Biji, terbentuklah barisan yang kini solid dalam formasi tujuh kepala: Nino Sadewo (vokal), Muhammad Rifki (gitar), Muhamad Habib Nurfahjrin (keyboard), Klavio Aryadipa Sanjaya (perkusi), serta trio horn yang diisi Augusta dan Trio Aji Nugroho (trombone).

SWABAGYA bukan proyek kebut semalam. Mereka bukan anak hasil “rekayasa industri” atau jebolan kontes musik mingguan. Mereka lahir dari diskusi panjang dari sebuah kedai kopi. Nama mereka pun punya makna yang tidak main-main: “Swa” berarti wadah, “Bagya” berarti kebahagiaan. Band ini jadi wadah kebahagiaan siapa pun yang mendengarkan karya mereka.

Sebuah Kritik Terhadap Standar Hidup Modern

Bukan sekedar lagu, “Semua Berhak Berbagya” semacam manifesto yang dibungkus irama reggae santai, tapi liriknya siap menghantam. Memberi pesan bagaimana manusia hari ini hidup dalam ketakutan gagal memenuhi ekspektasi. Hidup yang seharusnya dijalani dengan ritme sendiri malah dikurung dalam algoritma gaya hidup yang absurd.

“Kami ingin mengingatkan bahwa kebahagiaan bukan tentang angka atau pencapaian semata,” kata Nino Sadewo, sang vokalis, “tapi bagaimana kita menikmati hidup dengan cara kita sendiri.”

Alih-alih mengutuk dalam nada marah, mereka memilih bersuka-cita. SWABAGYA mengajak orang-orang untuk berhenti mengejar validasi, dan mulai hidup dengan cara dan pilihan masing-masing.

Proses Kreatif Dari Sebuah Kedai Kopi ke Studio Rekaman

Refleksikan karakter dari Swabagya yang apa adanya, kolektif, dan mengalir begitu saja. Semua dimulai dari pertemuan di Petra Dua Biji, lalu direkam di Mooza Records, di bawah arahan Arnend Zulkarnain sebagai eksekutif produser. SWABAGYA dan Arnend juga turun tangan dalam penulisan lagu. Segalanya digarap dengan kesederhanaan dan semangat reggae, namun tetap berkualitas.

Artwork yang menangkap semangat lagu dikerjakan oleh Thoriq (Hamemper), sementara distribusi digital dipercayakan pada Believemusic. Nama Swabagya mungkin masih baru di kancah skena reggae, tapi dari caranya mereka membangun sistem sendiri, terlihat jelas bahwa SWABAGYA sangat berbahaya.

Reggae yang Punya Sikap

“Semua Berhak Berbagya” bukan hanya sekedar debut, ini penanda sikap. Dan kalau ada yang masih menganggap reggae hanya musik santai-santai di pantai, mungkin sudah saatnya kalian mendengar SWABAGYA.

Dengan ritme reggae yang familiar namun dibalut pendekatan beat aransemen yang segar, lagu ini mengajak pendengar untuk melepaskan beban dan larut dalam sebuah tarian. Reggae dengan energi positif yang liar dari Semarang. “Semua Berhak Berbagya” sudah bisa didengarkan pada digital platform dan music video official mereka. Congratulations! (INQ)