Ekspresikan rasa sakit yang sulit hilang, Deathrone rilis single perdana “Silhouette”

Categories: Music

Share
Kabar baik dari Jombang—Deathrone, unit metalcore ini baru aja menghidangkan single perdana mereka. Deathrone band modern metal/metalcore asal Jombang, Jawa Timur. Berikut formasi liar mereka, Mohammad Sugihannur "vocal", Yudysfianda Ramadhani "guitar/vocal", Rayhan Aminanda "guitar", Noefa Tahara "Bass", dan Moh. Yusron Maulana "Drum".

Debut single perdana Deathrone meracik lagu dengan menggabungkan metal modern dengan tekstur sonic yang inovatif, riff-riff yang agresif, vokal melengking, dan elemen-elemen anthemic yang mudah memikat para pendengarnya.

Single perdana bertajuk "Silhouette" tegas mereka memaparkan tentang perasaan kehilangan arah dan lepas kendali diri akibat kesalahan ataupun dosa di masa lalu yang harus terus dirasakannya. Dalam lagu ini, diibaratkan sebagai bayangan gelap, sosok siluet perlahan melahap inangnya kedalam perangkap pusaran kegelapan tanpa dasar. Seperti perasaan yang menyayat dan bekas luka yang tak akan pernah pudar ataupun hilang. 

Memiliki irisan latar belakang personil yang berbeda, mempengaruhi warna musik mereka tersendiri. Band-band metalcore/nu metal hingga posthardcore seperti Architects, Polaris, Beartooth, Thornhill, Wage War juga memberi inspirasi yang sangat signifikan. Hanya melalui dapur rekaman salah satu personil mereka, tidak mengurangi pembuktian kepiawaian band ini dalam menciptakan lagu yang keras namun terselipkan vibrasi melodi yang menawan. Pada proses kreatifnya mixing dan mastering melibatkan Zain Bali. Sedangkan goresan artwork cover mereka menggandeng ilustrator Reyth. Deathrone pun berencana akan menyajikan irisan sequel dari chapter panjang yang berkelanjutan.

Dengarkan Silhouette diberbagai digital streaming platform seperti Spotify, Apple music, Deezer, Joox dan juga kanal Youtube mereka.

Usai Masuk Nominasi AMI Awards 2024, Bless The Knight Rilis Track yang Menyentuh Jiwa

Categories: Music

Share
Jakarta — Bless the Knights pelopor djent di Indonesia, kembali mendistorsi skena Tanah Air! Unit metal asal Jakarta ini baru saja masuk nominasi Artis Metal Terbaik di AMI Awards 2024, sebuah legacy yang penuh haru dan bukti kalau mereka nggak main-main dalam meracik karya. Djent sendiri merupakan subgenre dari metal progresif. Nominasi ini menjadi kali keempat bagi Bless the Knights, setelah sebelumnya diakui di tahun 2016, 2018, dan 2023.

Bukti Konsistensi, Luncurkan Lagu Baru yang makin Ganas

Setelah kabar nominasi ini, Bless the Knights tancap gas merilis track terbaru mereka, “Crying in the Desert”. Track ini adalah buah karya sang gitaris, Fritz Faraday alias Mrfritzfaraday. Dengan groove-groove yang menarik dan interval melodi yang tak terduga membawa pendengar hanyut ditiap nada yang dramatis.

Juga berbarengan dengan rilisan versi instrumental yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Kombinasi palm muting dan staccato memberikan dinamika yang kontras juga tuning rendah menambah kesan djenty pada musiknya.

Makna di Balik "Crying in the Desert" yang Menyentuh Jiwa

Bukan sekadar lagu, “Crying in the Desert” hadir dengan cerita yang relatable. Lagu "Crying in the Desert" mengeksplorasi tema tentang pengorbanan yang tidak dihargai. Cerita di balik lagu ini menggambarkan seseorang yang telah berjuang dan berkorban, tetapi pengorbanan tersebut dianggap remeh oleh orang-orang yang dicintainya. 

Lewat keterangan tertulisnya, Mrfritzfaraday mengungkapkan, "Lagu ini berasal dari pengalaman pribadi dan pengamatan saya terhadap bagaimana pengorbanan sering kali tidak dimengerti atau bahkan diabaikan oleh orang-orang terdekat."

Fritz Faraday: Kunci Keberhasilan Dalam Berkarya

Fritz Faraday, sebagai penggagas utama di balik Bless the Knights, dikenal sebagai penulis lagu yang memiliki reputasi baik. Banyak lagu yang ia ciptakan telah meraih penghargaan, tidak hanya dari AMI Awards tetapi juga berbagai media musik terkemuka.

Fritz menjelaskan, "Kesuksesan saya dalam menciptakan lagu-lagu berkualitas adalah hasil dari dedikasi dan kemauan untuk mendengarkan suara hati serta pengalaman pribadi. Musik adalah cara saya mengekspresikan diri dan berbagi cerita."

Pembicaraan tentang kekuatan musik dan pengaruhnya terhadap pendengar menjadi fokus utama Fritz. "Saya selalu percaya bahwa lagu yang baik dapat berbicara lebih dari sekadar kata-kata. Saat pendengar berhubungan dengan musik kami, itu adalah pengakuan terbesar bagi saya sebagai seorang musisi."

Sinergi Bless the Knights yang Makin Solid dan Kuat!

Bless the Knights terdiri dari Fritz Faraday (gitaris), Cas Coldfire (vokalis), Dongeng (screamer), dan Cukong (drummer). Setiap anggota memiliki power juga karakter yang berbeda, saling melengkapi dalam mengaitkan harmoni merupakan kekuatan disetiap penampilan mereka.

Cas Coldfire, sang vokalis, menambahkan, "Kami memiliki ikatan yang kuat di dalam band ini. Setiap ide dan setiap nada yang diciptakan adalah hasil kolaborasi yang penuh semangat."

Bless the Knights berharap bahwa dengan rilisnya "Crying in the Desert," mereka dapat menjangkau lebih banyak pendengar dan memberikan dampak positif melalui musik mereka.

Dongeng ikut menambahkan pentingnya merangkul tema universal dalam musik mereka. "Kami ingin musik kami dapat diterima oleh semua orang, memberi suara bagi yang tidak terdengar dan menjembatani emosi yang mendalam."

Keep In Touch dengan Bless the Knights!

Buat yang pengen terus update tentang progres mereka, ikuti perjalanan Bless the Knights di Instagram lewat akun @blesstheknights_official dan @theknights.id. Jangan lupa dengerin juga "Crying in the Desert" yang telah rilis di semua platform streaming 24 Oktober 2024, bersama video liriknya di YouTube. Gas dengerin dan rasakan vibe totalitas bikin headbang sekaligus menyentuh jiwa—hellyeah!

https://www.youtube.com/embed/ySrrMVXdbfU

Raung terakhir sang pembangkang, Rest in power Paul Di’anno

Categories: NEWS

Share
Dunia metal berkabung, Paul Di'Anno, mantan vokalis pertama Iron Maiden baru saja meninggalkan kita semua  pada 21 Oktober 2024, dan. Beberapa bulan sebelum kematiannya, Di'Anno dikonfirmasi mengalami infeksi yang semakin parah dan sempat dirawat di rumah sakit. Hingga menghembuskan napas terakhir di Salisbury, Wiltshire, pada usia 66 tahun. Getaran duka ini sangat mengguncang barisan metalheads. Sambutan duka dari penggemar hingga musisi bereaksi melalui berbagai media sosial, menyampaikan rasa kehilangan mereka terhadap salah satu pioneer heavy metal. Lalu apakah api ini akan padam?

Kobaran Power Of Paul

Tak hanya dikenang karena frontman legendaris di era awal Iron Maiden, tapi juga karena ia meletakkan fondasi penting untuk kebangkitan New Wave of British Heavy Metal (NWOBHM). Bersama Iron Maiden, Di'Anno membawakan energi liar dan sikap tanpa basa-basi dalam dua album pertama band ini—Iron Maiden (1980) dan Killers (1981)—yang sukses mencatatkan sejarah.

Setelah cabut dari Iron Maiden pada 1981, Di'Anno terus berkarya dengan berbagai proyek musik. Meski ia mungkin tak lagi berada di puncak seperti masa itu, vibrasinya tetap hidup lewat band-band seperti Battlezone dan Killers, serta beberapa proyek solo. Tahun 2024 Di'Anno  kembali berkarya bersama album The Book of The Beast. Pembuktian bahwa ia benar-benar seorang pembangkang meskipun kesehatan sering kali unjuk menantang di balik layar​.

Perjalanan hidupnya yang "tanpa rem" membuatnya sulit mengelak berbagai masalah, termasuk tantangan kesehatan serius yang mengharuskannya menjalani operasi berkali-kali. Namun, Di'Anno adalah petarung sejati. "I’m a stubborn bugger" ucapnya dalam salah satu wawancara terakhirnya—menegaskan bahwa ia tak pernah berhenti meskipun dunia di sekitarnya mencoba menjatuhkannya. Begitu banyak penggemar yang menghormatinya karena hal ini: ia tak hanya hidup untuk musik, ia juga meraung untuk dunia.

Sang pemberontak ikonis, raungannya akan selalu membakar seperti "the trooper" dan "run to the hills", api akan terus menyulut dan canggung padam dihati yang selalu mengenang raw-era Iron Maiden. Rest in power, Paul!

Sumber :