“Sudah sekian kali kita melawan, Black Horses mengajak untuk memutuskan segala dosa-dosa mereka, agar berhenti dikita dan bersenang senang”, ungkap mereka tegas kepada awak media.
Tampaknya Black Horses, band jebolan Jakarta tersebut, kali ini benar-benar larut dalam babak barunya. Berkarya sejak 2015, satu dekade telah mereka tapaki—dan akhirnya, mereka luluh juga untuk menciptakan lagu berbahasa Indonesia. Bukan sekadar perubahan bahasa melainkan sikap. Lirik-lirik tajam dalam lagu ini siap menggilas para tirani, membuktikan bahwa kritik tak harus datang dari mimbar para demonstran, cukup lewat karya. Toh, katanya, pemerintah Konoha paling takut sama hal yang begituan.
“Penuh sesak hari-hari
Dan tak ada jalan tuk berlari
Dihadang para bedebah
Penguasa semua lini
Oh ya!”
Penggalan lirik lagu yang tetap getarkan semangat rock ‘70-an yang tak tergoyahkan, Black Horses akhirnya menyerahkan dirinya pada bahasa ibu. “Tirani Tua” jadi hidangan pembuka hangat untuk babak baru yang kini menunya lebih legit untuk perut-perut yang lapar. Setelah sepuluh tahun menunggangi anthem rock berbahasa inggris, saatnya mereka teriakkan dengan kepala tegak dan lantang bahasa yang tak perlu diterjemahkan.
“Tak ada waktu yang ku nikmati
Semurah itu kau jangan lari!
Hiduplah walau di titik nadir
Kelakar ku di dalam getir”
Lagu itu sendiri merupakan bentuk lain dari sebuah ketahanan hidup. Sebuah pernyataan bahwa bertahan di tengah absurditas sistem tidak perlu membuang energi untuk marah, cukup dengan menjaga kewarasan sambil tetap bersenang-senang. Di tengah riuh rendah kenyataan sosial, Black Horses memilih untuk tetap tertawa dan menari di atas bara. Karena mungkin, dalam dunia yang semakin gila, bersenang-senang adalah bentuk perlawanan paling waras.
“Sempit di luasnya kota
Hidup kehilangan makna
Mereka tertawa ku pun tertawa
Dengan gila yang berbeda
Ingin ku lari dari sini
Tapi hampir mati berdiri”
Ya, bukan hanya menginjak babak baru. Bak sebuah peluru pertama mereka yang selama ini bertahun-tahun terpendam. Black Horses akhirnya dengan lugas teriak tanpa basa-basi.
"Karena tidak ada pilihan lain selain terus menerobos segala kemungkinan, menguatkan mental, beraktualisasi sebebas-bebasnya, dan tetap marah pada tirani yang dilanggengkan oleh mereka yang tak pernah benar-benar peduli,” ujar Oscario, vokalis Black Horses.
Video Musik “Tirani Tua” milik mereka sudah diputar ribuan kali. Rock n Roll Blues yang kental dengan lirik yang sangat ganas telah rilis sejak pertengahan Mei 2025 lalu. “Tirani Tua” membuka jalan untuk EP Black Horses di bulan agustus nanti yang kabarnya akan full berbahasa Indonesia. Long Live Rock n Roll! (INQ)