“Sebelum Merayakan” EP Terbaru Dari For Revenge, Track Utamanya Bertajuk “Menunggu Giliran” Gaet Elsa Japasal

Categories: Music

Share
Tepat pertengahan Januari 2025 lalu, for Revenge grup musik rock alternative asal Bandung ini merilis EP terbaru bertajuk “Sebelum merayakan”. Kabarnya yang paling menarik dari EP ini, track utamanya menggaet artis wanita muda, menarik dan multitalenta Elsa Japasal. Tentu saja kehadiran Elsa Japasal yang kerap dikenal dengan Eca akan menjadi pemikat tersendiri di skena juga industri musik. Tidak hanya karakter suara yang ternyata cocok, bagi for Revenge, Elsa Japasal juga memiliki bakat besar di bidang musik.

 “Saat ini, Eca merupakan salah satu sosok yang sangat dikenal di generasi sekarang, namun belum banyak yang tahu kalau Eca juga memiliki potensi luar biasa dalam bermusik sehingga kami berniat untuk menggali potensi tersebut dan mengenalkannya kepada masyarakat. Bagi for Revenge, berkolaborasi dengan penyanyi di luar genre kami menjadi tantangan tersendiri yang menarik untuk dicoba,” papar Boniex vokalis for Revenge.

Total ada lima lagu dengan tiga versi akustik dari single mereka sebelumnya, yaitu "Sadrah", “Penyangkalan”, dan “Semula”, ditambah dua lagu baru, yaitu “Menunggu Giliran”, yang menyatukan mereka dengan Elsa Japasal dan “Kala Luka Berpesta”, di mana mereka berduet dengan Wira Nagara. 

Album ini sudah digarap sejak Oktober 2024 dan memakan waktu sekitar tiga bulan. Dengan konsep akustik dan kolaborasi, tantangan kami dalam mengerjakan Sebelum Merayakan adalah lebih ke usaha mencocokkkan karakter for Revenge dengan para kolaborator tersebut. Tapi, selain itu, semua proses berjalan dengan lancar dan siap dinikmati para pencinta musik mulai 18 Januari mendatang,” ungkap Boniex kembali.

“Sebelum Merayakanterpilih sebagai judul untuk EP akustik kedua for Revenge dan pemilihan tersebut bukan tanpa sebab karena ini akan adalah prolog menuju album kelima mereka ‘Perayaan Patah Hati – Babak 2’ yang akan dirilis setelahnya. Karena ini adalah mini album akustik, maka kelima track yang ada pun memakai aransemen akustik, termasuk dua lagu baru. Selain itu, dua lagu lainnya merupakan kolaborasi. 

Salah satu track andalan tentunya yang berjudul “Menunggu Giliran”, yang merupakan hasil kolaborasi mereka dengan Elsa Japasal. Menurut Arief Ismail (gitaris), track ini masih terhubung dengan “Sadrah” dan “Semula” karena merupakan bagian keempat dari tema besar “Stages of Grief” atau “Tahapan Kesedihan”.

Lagu ‘Menunggu Giliran’ masih memiliki keterkaitan dengan dua single kami sebelumnya yang kali ini mewakili fase Depression (Depresi), tahap saat seseorang kehilangan harapan karena kedukaan yang dialami. Lewat lagu ini, kami menggambarkan kondisi tersebut melalui sudut pandang seseorang yang sedang berada di titik terendah, kehilangan arah, dan tidak tahu harus ke mana. Pada akhirnya, di setiap baitnya, ‘Menunggu Giliran’ seperti menuntun seseorang yang sedang berada di fase tersebut untuk menemukan apa yang tersisa dari suatu keterpurukan.” ungkap Arief lagi.

Berangkat dari karakter atau nuansa lagu “Menunggu Giliran” yang dirasa perlu sentuhan suara perempuan, membuat for Revenge mantap untuk berkolaborasi dengan Elsa Japasal. 

“Saat mengerjakan lagu ini untuk album ‘Sebelum Merayakan’ kami merasa bahwa lagu ini terlalu kelam dan perlu suara yang bisa membuatnya terdengar menenangkan. Saat itu, kebetulan, kami pernah melihat dan mendengar Eca bernyanyi di beberapa kesempatan dan merasa bahwa karakter suaranya bisa memberikan warna lain di lagu ini. Ajakan kami untuk berkolaborasi ternyata juga disambut Eca,” ulas Boniex. 

Bassist Izha Muhammad juga menyebutkan bahwa suara Elsa Japasal sangat berpengaruh pada track “Menunggu Giliran”. 

Jika diibaratkan, di lagu ini, bagian Boniex seperti mewakili Gelap”, sementara Eca mewakili “Terang”. Artinya, for Revenge dan Eca saling mengisi sehingga terciptalah kolaborasi yang menarik.”

 Lebih lanjut, Izha juga menceritakan kerja sama dengan Wira Nagara di track selanjutnya, “Kala Luka Berpesta”. 

“Kolaborasi berikutnya di album ini adalah ‘Kala Luka Berpesta’ yang datang setelah proses pengerjaan EP ini hampir selesai. Berawal dari Wira yang akan merilis buku ketiga bertajuk ‘Diktiosom Anthophyta’ berisi sajak-sajak tulisannya yang secara benang merah memiliki kesamaan dengan tema pilihan for Revenge saat ini. Akhirnya, kami pun berkolaborasi dengan menuangkan sajak-sajak itu menjadi lagu ‘Kala Luka Berpesta’,” lanjut Izha.

Menurut sang drummer, Archims Pribadi, ini adalah kali kedua for Revenge berkolaborasi dengan Wira Nagara setelah lagu Perayaan Patah Hati”

“Hanya saja dalam ‘Kala Luka Berpesta’, kami menyuguhkan nuansa musik yang berbeda. Lirik Boniex dan sajak Wira dibuat saling bersahut-sahutan di lagu ini sehingga menghasilkan keunikan tersendiri. Tidak hanya itu, dari segi mood, lagu ini terdengar lebih kelam.” tuturnya.

Menurut drummernya lagi, jika ditarik satu benang merah, ada pesan khusus yang ingin mereka sampaikan melalui EP ini. 

Intinya, kebahagiaan dan kesedihan selalu berjalan beriringan lewat lagu-lagu yang kami suguhkan. Keduanya adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan. Karena itu, kami berharap mini album akustik ini bisa diterima di telinga khalayak yang lebih luas lagi, sekaligus mengiringi proses kedukaan menuju terpulihkan, bagi siapapun yang mendengarkan,” tutup Archims.
 
Konsep for Revenge pada EP ini sangatlah matang dan luar biasa menarik. Awal tahun 2025 dirasa pas sebagai momentum for Revenge untuk terus menjaga kobaran panas eksistensinya. Dan bagi tim Bvckle Smiggle mendengarkan “Sebelum Merayakanadalah cara menikmati luka yang tepat. Dengan aransemen musik minor for Revenge yang selalu memukau, berbalut lirik-lirik indah sebagai bumbu penyedapnya. Tentu saja agar lebih berasa, dengarkan sekarang juga album milik mereka di seluruh platform digital favorit kalian. >>yeah<< (INQ)

Akhirnya Pure Saturday Kolab Bareng Rekti “The Sigit” Pada Single Bertajuk “Dry”

Categories: Music

Share
How you spend the time, we spend the same but, How you end up dry”— Penggalan lirik yang menyentuh, seolah mengajak pendengarnya masuk ke dalam sebuah dimensi dengan segudang pertanyaan dikepala. Sangat personal dengan majas yang indah, ciri khas lirik-lirik lagu yang tercipta oleh Rekti “The Sigit” dengan balutan harmoni syahdu namun tetap maskulin khas melodi rintik Pure Saturday.

Sebelumnya kolaborasi Pure Saturday pernah terjadi dikala album “Grey” muncul di tahun 2012, dimana terdapat track yang berjudul "Utopian Dream", dan Rekti berperan sebagai vokalis tamu di lagu yang membawa ke penghayatan yang dalam dengan komposisi musik bernuansa "folk-balad”.

Ternyata bukan sekadar pertemuan ataupun kolaborasi, tetapi juga representasi dari perjalanan panjang persahabatan yang saling menghormati di antara mereka. Rekti, dengan kepekaannya dalam menulis lagu berhasil menyatukan lirik dengan komposisi harmoni yang kaya emosi milik Ade Muir di lanjut dengan harmoni vokal Satria NB, sebuah esesensial khas  milik Pure Saturday.

Definisi Projek Persahabatan 

Perjalanan proses kreatif yang panjang dan berlapis ini diimulai pada tahun 2018 ketika Ade Muir mulai meracik kerangka musiknya, yang awalnya direncanakan sebagai materi lagu untuk single Pure Saturday. Kemudian di lanjut dalam pembuatan liriknya dengan menggandeng Rekti “The Sigit”. Ia juga menambah warna sentuhan vokal rock yang gagah bersama Satria NB pada garapan lagu ini. Dengan harapan kedua karakter vokal yang berbeda dari Satria NB menjadi perekat kolaborasi mereka. 

Projek santai dilanjut pada tahun 2022, yang pada akhirnya lagu ini menjadi berkembang dengan ambient nuansa pop romantis ala tahun 90-an. Dikemas sempurna dengan suara pop-rock milik Satria NB melebur bersama komponen alter ego yang kuat dan berat dari Rekti Yoewono berhasil merangkul lagu ini menuju relung emosional membawa “Dry” semakin bernyawa dan melekat pada persona mereka masing-masing namun tetap mengadopsi elemen romantis pop ala dekade 90-an milik Pure Saturday. Setelah melalui berbagai revisi dan eksplorasi musikal, akhirnya pada tahun 2023, “Dry” memasuki tahap finalisasi sebagai karya yang utuh dan matang hingga tahun 2024. 

“Dry” menghadirkan pengalaman nostalgia bagi para pendengar setia Pure Saturday, sekaligus memberikan dimensi baru yang segar dan memberikan warna yang berbeda, menyatukan energi dari generasi dalam sebuah karya yang indah. Definisi lagu melankolis namun tetap kritis.

Artwork “Dry” dikerjakan oleh Dewi Aditia seorang seniman/pelukis asal Bandung. Artwork ini memiliki visual sebuah makna dari esensi lagu Dry sendiri seperti Pop/Folk-Balad yang berhasil di tuangkan ke dalam kolasi akrilik berwarna dengan sentuhan objek dua ekor burung yang sedang terbang beriringan.

Lagu epik kolaborasi mereka sudah bisa didengar, serentak rilis pada tanggal 24 Januari 2025 di semua platform digital. Sangat cocok mengawali Februari yang masih saja dingin dan acap kali membuat kita termenung. Congrats for that “Dry” dudes! (INQ)

Production Credits:
Executive Producer: Labirin Records
Music Producer: Ade Purnama, Rektivianto Yoewono, Arief Hamdani & Satria Nurbambang
Recording Engineer: Loevi Wahyudi, Sofyan Effendi & Indra Adhikusuma
Mixing Engineer: Loevi Wahyudi & Indra Adhikusuma 
Mastering Engineer: Indra Adhikusuma, Loevi Wahyudi
Protools Editor: Arief Saefudin, Indra Adhikusuma 

Vocals: Rektivianto Yoewono & Satria Nurbambang 
Guitars: Rektivianto Yoewono, Rika Faizal Rezza, Ade Purnama, & Arief Hamdani 
Bass: Ade Purnama 
Drum: Sony Mulyana 
Artwork: Dewi Aditia 
All tracks Recorded, mixed & mastered at Binaural Studio, BandungUp

Setelah Sebelumnya Lepas Dua Single, Iconic Tourist Akhirnya Rilis Album “If There Were A Band At The Opera”

Categories: Music

Share
Grup band rock alternatif dari Cibubur, pada waktu lalu Iconic Tourist memperkenalkan diri ke ranah musik Indonesia lewat dua single bertajuk "Give it to Me" dan "Oh Honey". Lewat keterangan tertulisnya, Jova Rangkuti (vocal/gitar) dan Reno Rendragraha (drum) yang menjadi motor unit ini menjelaskan bahwa dua lagu tersebut merupakan kelanjutan proyek musik Iconic Tourist yang sudah berjalan sejak 2020 silam. 

Dua single tersebut, merupakan bagian dari album "If There Were A Band At The Opera" yang tepat kemarin rilis pada 2 Februari 2025 dan tentunya sudah bisa dinikmati seluruh lagunya di seluruh platform musik resmi milik mereka.

Berisikan 12 lagu dengan dominasi genre alternative dan alternative-rock, karya ini mencampur berbagai warna dan mooduntuk menciptakan nuansa yang abstrak. Diantara genap dua belas lagu matang tersebut tampaknya “Media Madness” menjadi lagu favorite khususnya bagi tim kurasi dari Bvckle Smiggle

"Liriknya lahir dari keresahan dan isi pikiran penulis yang menceritakan tentang kehidupan pribadi sampai kritik sosial. Sementara dari segi musik, album ini cukup mencampur banyak warna dan mood, sehingga menciptakan nuansa yang sedikit abstrak jika didengarkan secara keseluruhan," kata mereka yang diwakilkan oleh Jova.

Dengan riff gitar yang catchy dan latar ambient yang kaya dan easy listening, Jova memulai perjalanan Iconic Tourist dengan menuliskan lagu pertama mereka bertajuk "No One is Going to Know the Difference" pada 2020. Lagu ini, dipasang menjadi semacam benang merah atau warna pertama yang akan menggambarkan genre/mood band tersebut.

Di tahun yang sama, Iconic Tourist kemudian melepas lagu "Too Tired" yang memiliki warna berbeda, tetapi tidak menghilangkan vibe dark  seperti lagu pertama mereka.

Jova dan Reno terus berupaya menjaga eksistensi Iconic Tourist dengan memperkenalkan dua lagu awal mereka. Kerap bergonta-ganti personel, keduanya kemudian menggarap lagu "Oh Honey" yang menjadi terobosan dan semangat baru untuk tetap melanjutkan produksi album ini dengan formasi 2 orang saja.

Baru pada 2023, Jova Rangkuti dan Reno Rendragraha sepakat mendaulat Ananda Viguno untuk mengisi departemen gitar dan Tyo Priohutomo di instrumen bass. Dengan formasi baru ini, Iconic Tourist seolah mendapat gairah baru untuk menyelesaikan materi album mereka.

"Dibanding sebuah pesan, album 'If There Were A Band At The Opera' lebih bisa disimpulkan sebagai wadah untuk menuangkan emosi dan perasaan," ucap Jova Rangkuti dalam keterangannya.

Setelah rilis album, Iconic Tourist juga berencana menggelar showcase pada pertengahan tahun 2025. Showcase ini bertujuan untuk memperkenalkan album baru mereka dan memberikan gambaran energi serta visual mereka secara langsung. Cant wait dudes! (INQ)